Peribahasa mengatakan, air yang tenang menghanyutkan. Awalnya aku tak pernah paham maksud peribahasa itu. Bagaimana bisa menghanyutkan? Bukankah asal kita mahir berenang maka tak mungkin terbawa arus? Hingga suatu ketika aku kena batunya.
Saat itu, selayaknya hari-hari biasa, sepulang dari sekolah kulempar tas selempang kain ke atas kasurku. Lalu aku menukar seragam putih-merah dengan kaos oblong dan celana pendek selutut. Tanpa menyentuh makan siang di balik tudung saji, lesat kuberlari keluar. Ayah ibuku tak di rumah, kakakku pun entah di mana. Jadi takada yang kupamiti.
Aku berlari menuju parit--sungai dalam bahasa Melayu--di dekat hutan kecil tak jauh dari rumah. Empat temanku mungkin sudah menunggu dari tadi. Sebab kami sudah bikin janji, akan mencoba mandi di sana siang ini juga. Parit keramat, kata para tetangga. Namun telah lama membuat kami amat penasaran.
Benar saja, kulihat Otong, Aik, abang-adik Songti dan Solti, telah duduk di pinggir parit. Mereka ramai berceloteh, saling menceritakan kejadian di sekolah masing-masing.
"Haiyya! Kau lama sekali, ha, Mita!" seru Songti. Kepala teman-teman yang lain ikut menoleh ke arahku.
"Iye! Aku kire kau tadak berani," sambung Otong.
Aik meninju bahuku pelan, sebuah ucapan selamat datang yang amat bersahabat.
"Ck! Kitak ni be, risau jak! Aku tadik pulang telambat lah. Piket lok di kelas," jawabku bersungut-sungut. Memang beginilah asliku, tomboi jika di rumah.
"Ye, udah. Sekalang kita belenang jak, ye?" Si kecil Solti menengahi dengan suara cadelnya.
Kami setuju. Memang itu tujuan kami datang ke mari. Mereka segera melepas kaos oblong, tinggal celana pendek saja. Lalu masing-masing mengambil posisi untuk segera menceburkan diri.
Nikmat sekali mandi di parit tersebut. Selain sepi, tak ada ibu-ibu yang mencuci--biasanya mereka senang mengomeli kami--, suasana pun teduh, rindang dinaungi pepohonan. Parit ini sendiri jika diikuti alirannya akan masuk ke dalam hutan. Belum pernah ada yang mencoba karena terlihat menyeramkan. Jadi kami cukup puas hanya balapan renang dari tepi ke tepi. Asyik sekali.
Sampai mataku menangkap suatu gerakan di dekat akar pohon yang menjuntai ke parit. Aku tergelitik ingin tahu. Tubuhku meluncur ke situ.
"Hoi! Nak kemane?" tanya Aik, melihatku menjauh.
"Cuman nak tengok bentar, jak. Macam ade ikan ke ape?" balasku, sembari berenang. Kawan-kawanku memandang cemas. Aku lambaikan tangan agar mereka tenang. Sedikit lagi aku sampai di pohon seberang.
Mendadak, tubuhku seperti disedot ke bawah. Aku meronta-ronta panik, tanganku berupaya menggapai akar pohon. Namun tarikan itu lebih kuat. Aku masih sempat mendengar teriakan keempat kawanku, sebelum kepalaku masuk ke dalam air.
"Mitaaa!"
**
Tubuhku terasa kaku. Kala mata kubuka, yang pertama tampak adalah ....
"Aaah!" teriakku ngeri, sontak terduduk.
Makhluk itu bergelantungan seperti monyet, matanya yang besar menatapku lekat-lekat. Bentuk tubuhnya serupa manusia, hanya saja ia tak berbaju--cuma memakai semacam celana dalam yang berjumbai-jumbai. Rambutnya panjang awut-awutan melewati pundak. Keseluruhan penampilannya membuatku teringat si gila Pur, tetanggaku.
Tiba-tiba dia melompat turun. Tangannya yang mirip ranting pohon terjulur ke arahku. Rupanya dia mengajak berjabat tangan. Aku sebenarnya takut setengah mati, sampai-sampai terkencing di celana. Namun si makhluk tetap memaksa meraih tanganku. Setelah itu tanpa kuduga, dia menarikku untuk melangkah ke dalam hutan.
Sepanjang jalan, berkali-kali kakiku tersandung akar yang menonjol di tanah. Pepohonan tinggi menjulang di sekelilingku sehingga nyaris takada sinar mentari yang masuk. Selain itu, ada kabut tipis yang menyelimuti hutan ini. Aku merasakan kegelapan yang semakin mengurung. Sebenarnya di manakah aku berada? Mengapa suara kawan-kawanku tak terdengar lagi?
Entah berapa lama kami berjalan, tahu-tahu deretan pohon seolah membuka begitu saja menampakkan sebidang tanah datar. Meskipun begitu aku tak merasakan sengatan matahari. Cahaya yang sampai di mataku mirip suasana sore hari.
Makhluk itu melepaskan cekalan tangannya. Lalu ia berteriak keras ke empat penjuru arah. Teriakan itu mirip suara Aik jika memanggilku dari kejauhan. Aku menoleh ke kanan-kiri dengan waspada. Siapa yang tahu makhluk apa lagi yang bakal datang mendekat?
Pertanyaanku terjawab beberapa menit kemudian. Diiringi bunyi berdebum benda jatuh dari atas, muncul makhluk serupa di hadapan kami. Bedanya, makhluk ini lebih ramping, memakai penutup dada, dan bagian bawah tubuhnya mengenakan semacam rok pendek. Apakah berarti yang satu ini perempuan? Entahlah. Kini mereka saling berbicara dalam bahasa aneh, sambil menunjuk-nunjuk ke arah hutan dan aku.
"Ka-kalian siape? Tolong antarkan aku balek ke parit tadi, ye?" Aku mencoba memohon kepada mereka. "Ja-jangan makan aku, ye?" Suaraku pasti terdengar gemetaran. Aku memang tak bisa menutupi ketakutan dan kepanikanku.
Mereka tidak menggubrisku. Mereka malah melompat pergi ke arah yang sama. Bagaimana ini? Aku terduduk lemas di atas tanah penuh dedaunan busuk. Air mataku membanjiri pipi tanpa bisa dibendung. Ayah, Ibu, Kak Dion, kawan-kawan, maafkan aku sudah melanggar larangan, ya? Bagaimana bila aku tak bisa kembali? Bagaimana kalau aku selamanya tinggal di hutan ini? Aku tak mau!
Tampaknya aku menangis hingga tertidur. Sebab tubuhku digoyang-goyang oleh dua mahluk tadi. Aku bangun dengan badan terasa pegal-pegal dan kaku. Makhluk perempuan itu menyorongkan sebuah piring beralas daun ke depan mukaku. Pasangannya memberi isyarat tangan dimasukkan ke mulutnya. Oh, mereka menyuruhku makan. Perutku langsung bereaksi keroncongan.
Mau tak mau kuterima piring itu. Kuamati hidangan di dalamnya, empat potong umbi rebus dan sesendok tempoyak. Dorongan naluriahku mengambil alih. Tanganku mencomot sepotong umbi, mengoleskannya ke tempoyak, dan nyaris membawanya masuk mulut. Tiba-tiba aku teringat ucapan ibuku.
"Janganlah awak berani nak santap makanan hantu, bise-bise tak balek lah nanti." Hiii, seram!
Sontak kubatalkan gerakanku, dan mengembalikan potongan umbi itu ke piring. Aku menatap makhluk perempuan tersebut sambil menggeleng kuat-kuat. Dia terlihat marah. Tangannya menunjuk-nunjuk piring itu, tetap menyuruhku makan. Aku kembali menggeleng.
Dua makhluk itu kesal dengan penolakanku. Akhirnya si makhluk laki-laki memegang wajahku, sementara pasangannya menjejalkan sesuap umbi ke mulutku. Aku nyaris tersedak, tetapi berhasil menyemburkan makanan itu. Mereka marah sekali. Kepalaku ditempeleng hingga terjengkang, lalu keduanya meninggalkanku seorang diri.
Tangisku kembali pecah. Aku memanggil-manggil ayah dan ibu, sampai suaraku serak. Aku ingin pulang! Akhirnya terpikir olehku untuk kembali menyusuri arah kedatanganku, ketika pertama bertemu makhluk laki-laki itu. Barangkali aku bisa menemukan parit tempatku berenang bersama kawan-kawan.
Langkahku tertatih-tatih, kembali menjumpai pepohonan rapat dan gelap. Aku tak tahu sudah berapa lama berada di tempat ini. Tubuhku lemas, lapar, dingin, takut. Aku tak kuat lagi.
**
"Mita, bangunlah, Nak, Mitaaa ..."
"Kenape die tak bangon juga ini, Wak?"
"Sabar, Pak, Bu, insyaallah Mita sebentar agik sadar. Bantu baca doa, ya."
Telingaku menangkap percakapan-percakapan. Suara itu amat kukenal.
"Mita! Alhamdulillah die dah bukak mate, Pak!"
"Ibu?" Aku benar. Ini ibuku. Lelehan air matanya membasahi wajahku. Aku menangkap wajah wajah lega Ayah, dan ... Wak Ijal? Ayah ikut mencium keningku. Kemudian aku kembali diserang kantuk.
Seminggu kemudian aku berangsur-angsur pulih, dan baru memahami apa yang terjadi. Rupanya setelah aku hilang dalam pusaran air di parit keramat siang itu, kawan-kawanku gegas mencari bantuan kepada orang tuaku serta sejumlah tetangga. Mereka memang sempat dimarahi oleh warga sekitar. Namun setelah itu usaha pencarian atas diriku segera dikerahkan. Wak Ijal, guru mengaji di kampungku turut membantu secara spiritual. Sebab hilangnya aku dinilai berkaitan dengan alam lain.
Setelah dua hari pencarian aku berhasil ditemukan di hutan, yang dilewati parit keramat itu. Kata Ayah, tubuhku tergeletak pingsan di bawah pohon Ulin besar. Aku langsung dievakuasi dan dirawat di klinik terdekat.
Ibu memintaku berjanji tidak mengulangi kebandelan tersebut. Sedangkan Kak Dion bilang, aku beruntung bisa keluar dengan selamat, dari dunia orang Bunian.
Cilacap, 190326
Baca Juga
-
Tarian Darah dari Rawa
-
Sepupuku Seorang Ahli Matematika: Menghitung Angka di Bumi Hingga Antariksa
-
Teka-teki Rumah Aneh: Misteri Kamar Tanpa Jendela dan Pergelangan Tangan yang Hilang
-
Tanteku Seorang Coder: Ketika Urutan Bangun Tidur Jadi Pelajaran Sains Paling Keren
-
Belajar Sains Secara Menyenangkan Bersama Ibuku Seorang Saintis
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Ulasan Novel Falling Away, Pertarungan Melawan Ego dan Rasa Bersalah
-
Maaf-maafan Cuma Formalitas, Banding-bandingin Itu Prioritas: Sisi Gelap Crab Mentality
-
Tanpa Keramas! 5 Dry Shampoo Ini Bikin Rambut Segar dalam Sekejap
-
Menyambut Era John Herdman, Skuad Final Timnas Indonesia Segera Diumumkan?
-
Film Danur: The Last Chapter, Penutup Saga yang Manis tapi Kurang Epik