Hayuning Ratri Hapsari | Tika Maya Sari
Ilustrasi pegawai pabrik roti (Unsplash/Ahmed Kurt)
Tika Maya Sari

"Bulek, dulu pernah ada pengalaman apa saja waktu kerja di pabrik roti?” tanyaku kepada Bulek Fitri.

Bulek Fitri mencomot satu nastar seraya mengingat-ingat. “Pengalaman kerja satu tim dan penuh tekanan sih, Fris.”

“Ada kejadian horornya nggak? Bulek dulu kan pernah kena shift malam?”

Bulek Fitri tertawa. “Banyak sekali.”

Bulek Fitri sebelum menikah memang pernah bekerja di satu pabrik roti di dekat stasiun. Dari jalan raya antar kabupaten, lokasinya masuk ke dalam gang dan cukup menjorok ke dalam. Pabrik roti itu beroperasi terus selama 24 jam, dengan puluhan atau ratusan karyawan. Produknya macam-macam, mulai dari roti isi selai kacang, roti kering, dan roti bantal, dan terjual sampai ke kabupaten tetangga. Pokoknya terkenal lah.

Nah, masalahnya, ada banyak sekali cerita mistis yang melingkupi pabrik roti tersebut.

Konon, tempat itu dulu merupakan lahan kosong yang dijadikan lapangan desa. Kadang menjadi lokasi bertanding bola, kadang juga menjadi lokasi pagelaran kesenian lokal seperti wayang kulit, jaranan, atau tayuban.

Kemudian, dibangunnya pabrik penggergajian kayu, hingga beberapa waktu lalu mengalami kebangkrutan. Bertahun-tahun kemudian, beralihlah tempat tersebut menjadi pabrik roti.

“Oke, ini kita estafet loyang ya, supaya cepat. Target produksi kita malam ini harus terpenuhi!” komando Mbak Ris, ketua tim produksi.

“Siap, Mbak!”

Tim produksi terdiri dari puluhan orang yang bertugas di pembuatan adonan dan pemanggangan. Bulek Fitri tergabung di tim oven, dan para pegawai sepakat menggunakan sistem estafet loyang supaya lebih praktis.

Berkilo-kilo adonan telah dicetak dan diberi isian sebelum masuk oven. Beberapa menit kemudian, roti-roti siap dikeluarkan dari oven dan mereka kembali menggunakan sistem estafet untuk menata roti-roti panas di rak tersendiri sebelum masuk pengemasan.

“Fit, nanti di jam istirahat temani ke kamar mandi ya,” kata Dwi.

“Mbak Fitri, Mbak Dwi, aku sekalian ikut,” imbuh Nanda. “Ayok nanti yang mau ke kamar mandi kita rombongan.”

Kondisi pabrik roti di shift malam memang lebih seram. Sudahlah bangunan agak jauh dari pemukiman penduduk dan jalan raya, belum lagi dengan sederet sejarah dan kisah mistis yang melingkupi.

“Nih, taruh di atas rak,” kata Fitri kepada sepasanh tangan di paling ujung, dekat rak penyimpanan. Fitri tidak terlalu memperhatikan, sebab area situ sedikit agak gelap karena sorot lampu tidak terlalu menjangkau.

Selama beberapa waktu, Fitri terus fokus melakukan estafet loyang dengan semangat. Dia mengabaikan hawa dingin yang menyerang tengkuk, dan ketakutan yang melanda. Toh, ada banyak pegawai sekarang ini.

“Oke, clear! Roti sudah selesai semua!” pekik ketua tim. “Kita istirahat sejenak.”

“Siap, Mbak!”

Fitri melirik sepasang tangan di ujung yang tetal bersedia menerima loyang roti. “Mbak bro, rotinya sudah habis. Ayok kita ngaso dulu!”

Sepasang tangan itu tetap menengadah, tetap bersikap sedia. Melihat Fitri tampak berbicara dengan seseorang di sudut, Dwi merasa aneh. Dia lalu meraih senter kecil yang dibawanya di dalam tas, dan mulai mengarahkan sorot lampu ke sudut tadi.

Alangkah terkejutnya mereka berdua–tidak! Tim produksi di ruangan itu tercekat saat melihat panampakan sepasang tangan menengadah, tanpa tubuh, tanpa manusia. Hanya sepasang tangan yang kemudian terbang menjauh dan menghilang.

“Arghhhhh!!!!!” 

Salah satu pegawai tiba-tiba berteriak histeris. Disusul yang lainnya tiba-tiba menangis. Keadaan tim produksi seketika kacau. Fitri dan Dwi hanya terdiam dalam kalut dan takut. Nafas mereka berkejaran, dan kaki keduanya terasa tak bertulang.

Kengerian spontan menyusup. Hingga Mbah Biran–salah satu tetua kampung yang didapuk sebagai juru kunci pabrik–datang tergopoh-gopoh. Beliau membawa beberapa gelas air mineral, dan meminta ke salah satu pegawai untuk meminumkannya kepada pegawai yang mendadak aneh tadi. Mbah Biran lalu melirik ke arah Fitri dan Dwi, sebelum mendekati mereka berdua.

“Apa yang muncul malam ini?” tanya Mbah Biran kalem. “Kalian nggak bepergian dalam jumlah ganjil kan?”

Dwi menggeleng. “Kami masih memproduksi roti, Mbah. Fitri…”

Mbah Biran kemudian menatap Fitri yang masih tampak syok. “Apa yang kamu lihat, Nduk?”

“Tangan…sepasang…sepasang tangan…”

Mbah Biran mengangguk. “Sepasang tangan tanpa tubuh ya. Oh dia memang usil.”

Setelahnya, Mbah Biran meminta ketua tim untuk menghentikan aktivitas sejenak. Jam istirahat diberikan lebih awal, dan Mbah Biran kembali memberikan wejangan untuk senantiasa fokus di pabrik roti ini. Nggak boleh ada yang melamun, atau berpikiran negatif. Termasuk nggak boleh bepergian ke kamar mandi dengan jumlah ganjil.

Setelah beberapa saat, situasi mulai kondusif. Mbah Biran pun memilih berada di area pabrik roti dan sempat bercengkrama dengan beberapa karyawan laki-laki. Sebagai orang lokal asli, beliau sudah tidak kaget akan cerita-cerita seram yang melingkupi pabrik. Pun kejadian kesurupan yang menyerang pegawai, sudah jadi makanan sehari-hari.

“Hei, kalian kalau mau ke kamar mandi jangan ganjil orangnya. Harus genap,” ujar Mbah Biran mengingatkan. “Harus tetap fokus!”

“Baik, Mbah,”

Fitri, Dwi, Nanda, Eni, Ida, Ris pun pamit ke kamar mandi. Namun, masih separuh jalan, Ida justru memutuskan untuk nggak jadi ke kamar mandi. Alhasil, kini tinggal lima orang yang melanjutkan perjalanan mereka.

“Eh, siapa itu yang duduk di sebelah pot bunga?” tanya Nanda saat melihat sepasang kaki menjulur. “Apa pegawai laki-laki lagi merokok ya?”

Mereka berlima kemudian mendekati pot bunga besar hanya untuk menyadari bahwa itu betulan sepasang kaki. Tanpa tubuh, tanpa manusia. Hanya sepasang kaki.

Malam itu, teriakan dan tangis histeris tanpa kendali kembali menghiasi produksi di pabrik roti.