Salah satu penulis puisi favorit saya adalah Joko Pinurbo. Penyair kondang Indonesia yang akrab disapa Jokpin ini memiliki nama lengkap Philipus Joko Pinurbo. Sebelum merilis buku ini, beliau sudah melahirkan banyak buku puisi monumental lainnya yang sangat membekas di hati pembaca, sebut saja Celana (1999), Pacarkecilku (2003), Perjamuan Khong Guan (2020), hingga Epigram 60 (2022).Buku Selamat Menunaikan Puisi yang terbit pada tahun 2016 ini merupakan sebuah antologi yang merangkum perjalanan kreatif Jokpin.
Apa yang membuat saya selalu jatuh cinta pada gaya kebahasaan Jokpin adalah kemampuannya meracik hal-hal sederhana menjadi sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari—mulai dari urusan percintaan, kesedihan, hingga nestapa yang paling sunyi. Jokpin tidak pernah menggunakan kata-kata yang muluk. Ia justru memotret realitas yang biasa kita temui, lalu menyajikannya dengan sudut pandang yang tak terduga.
Judul buku ini sendiri langsung memikat perhatian saya sejak awal. Kalimat "Selamat Menunaikan Puisi" terasa seperti sebuah permainan kata cerdas yang bisa dibawa ke mana-mana. Bagi saya pribadi, frasa ini memiliki kedekatan emosional dengan ibadah puasa. Misalnya, saat sedang berpuasa dan saya memilih untuk menjaga kekhusyukan tanpa perlu mengumumkannya kepada dunia, kalimat "Selamat Menunaikan Puisi" menjadi sebuah metafora yang sangat pas untuk dibagikan di media sosial. Sebuah pesan implisit yang puitis, yang membebaskan siapa pun yang melihatnya untuk menerjemahkan makna tersebut secara mandiri.
Di dalam buku ini, ada beberapa halaman yang benar-benar menancap kuat di dalam benak saya. Salah satunya adalah puisi berjudul Celana yang terletak di halaman 166:
“Saya sedang mencuci celana yang pernah saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri. Saya sedang mencuci kata-kata dengan keringat yang saya tabung setiap hari. Dari kamar mandi yang jauh dan sunyisaya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.”
Diksi yang digunakan di awal bait terasa lumayan berani, bahkan cenderung kelam. Namun, begitu memasuki baris kedua, maknanya mulai terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Di tengah kepenatan menghadapi dunia yang melelahkan, pemikiran destruktif atau keinginan untuk "menyerah" terkadang melintas begitu saja di kepala kita.
Di sinilah bait ketiga hadir sebagai ruang refleksi yang dihadiahkan Jokpin kepada pembaca. Menunaikan puisi—atau menunaikan puasa—bisa diartikan sebagai cara kita untuk menyingkir sejenak dari hingar-bingar dunia yang terlalu bising. Melalui puisi, kita diajak untuk mengosongkan diri, membersihkan batin yang kotor, dan merenung di dalam "kamar mandi" kesunyian kita masing-masing.
Selain perenungan batin, saya juga bisa menangkap kegundahan sosial Jokpin. Tengok saja puisi Harga Duit Turun Lagi di halaman 135:
“Mengapa bulan di jendela makin lamamakin redup sinarnya? Karena kehabisan minyak dan energi. Mimpi semakin mahal, hari esok semakin tak terbeli.”
Di sini, Jokpin mengutarakan kekhawatiran dan kritik sosialnya secara luar biasa halus. Ia tidak berteriak protes di jalanan, melainkan berbisik lewat metafora bulan yang redup. Secara tidak langsung, puisi ini sangat mewakili realitas anak muda zaman sekarang yang kerap cemas terhadap kondisi ekonomi.
Ketika biaya hidup melambung, impian masa depan pun terasa menjadi barang mewah yang kian tak terbeli. Namun, meski bicaranya menyentil hal-hal berat, Jokpin tidak pernah kehilangan humor khasnya yang jenaka. Humor satir itu salah satunya muncul dalam puisi berjudul Rambutku adalah Jilbabku di halaman 133:
“Dua gunting gila menari-nari di atas rambutnya. Anda ingin model yang mana? Mendongak ragu, ia berkata, “Rambutku adalah jilbabku.”
Secara logika, bagaimana mungkin seseorang bisa memotong rambut di salon jika ia mengenakan jilbab? Di situlah letak kelucuan sekaligus kejeniusan Jokpin. Beliau gemar membolak-balikkan logika umum untuk memicu senyum, sekaligus menyisipkan renungan tipis di baliknya. Melalui buku ini, Jokpin membuktikan bahwa puisi tidak harus kaku dan seram; puisi bisa menjadi teman curhat yang hangat, lucu, sekaligus menenangkan.
Identitas Buku
- Judul : Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
- Penulis : Joko Pinurbo
- Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
- ISBN : 978–602–03–2578–1
Baca Juga
-
Psikologi Tren Blind Box: Kita Beli Mainannya atau Rasa Penasarannya?
-
Saya Baru Sadar, Masakan Ibu Tak Pernah Membosankan Meski Itu-Itu Saja
-
Paradoks Karier: Kenapa Resign Terlihat Begitu Keren di TikTok Tapi Terasa Berat di Dunia Nyata?
-
Pendidikan Tinggi Sedang Sekarat, Kenapa Negara Malah Sibuk Urus Makan Gratis?
-
Jangan Sampai Gajian Cuma Numpang Lewat, Hentikan 5 'Kebocoran' Dompet Ini Sekarang!
Artikel Terkait
Ulasan
-
5 Buku Rekomendasi Wonwoo SEVENTEEN, Ada yang Sudah Kamu Baca?
-
Menyelami 150 Tahun Sejarah Indonesia dalam Semalam Bersama Lembu Semar
-
Andai Waktu Bisa Diulang Kembali: Hadir dengan Pesan Moral Paling Menyentuh
-
Review The Lost Library: Misteri Perpustakaan Hilang yang Penuh Kejutan
-
Review Drama Light to the Night, Kasus Hilangnya Ayah dan Anak di Tahun 90
Terkini
-
Praktis Banget! 5 Serum Pad yang Bikin Kulit Makin Glowing
-
Puluhan Tahun Jadi Sineas, Christopher Nolan Takut Garap Film Bergenre Ini
-
4 Tinted Sunscreen Tanpa Alkohol dan Pewangi Atasi PIH pada Kulit Sensitif
-
Tren Gaya Hidup Baru Perempuan Gen Z: Dari Quiet Luxury ke Quiet Living
-
Review Welcome to Samdal-ri: Saat Kegagalan Bukan Akhir dari Segalanya