M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi hantu perempuan (Pixabay/AdinaVoicu)
Tika Maya Sari

Gimana rasanya kalau barang jualanmu dibeli oleh hantu? Kejadian ini dialami oleh seorang penjual pentol, sebut saja Lek Mat.

Lek Mat sendiri adalah seorang penjual pentol yang terbilang nyeleneh. Sebab, beliau berjualan pada tengah malam menjelang pagi, dengan target pembeli adalah orang-orang yang sedang ronda, pekerja shift malam, sampai para penjual sayur di pasar induk. Sejauh pengalaman berjualan, ada satu kisah seram yang paling diingatnya.

Malam itu sekitar pukul 23.30 Lek Mat mengambil rute arah barat gereja besar setelah melayani pembeli di timur gereja. Entah gabut atau uji nyali, mengingat rute barat bakal melewati area bulak (persawahan) luas dan pemakaman yang terkenal wingit.

Lampu motor menerangi jalan dengan temaram. Sepanjang jalan setelah gereja dan pemukiman, hanya diisi oleh kegelapan pekat. Nyaris tidak ada kendaraan yang berpapasan dengan Lek Mat.

Hawa dingin dan angin semilir yang melewati tengkuk berusaha ditepis. Pun tatkala melihat gapura pemakaman umum yang memiliki ukiran, Lek Mat berusaha cuek. Beberapa ratus meter kemudian, Lek Mat melihat ada dua orang perempuan yang melambaikan tangan di pertigaan kampung. Di mana mulai terdapat lampu penerangan jalan kendati lanskapnya masih hamparan sawah.

Insting penjual pun bekerja. Lek Mat segera menepikan motor guna melayani pembeli.

“Enggeh, Mbak. Mau beli berapa?” tanyanya ramah.

Namun, yang ditanya tidak memberikan jawaban. Melainkan menunjukkan selembar uang Rp 20.000 yang tampak lusuh.

Lek Mat mencoba profesional, kendati rasa tidak nyaman mulai menggerayangi. Dengan berusaha tenang, Lek Mat mulai meracik orderan seraya mengamati dua pembeli di depannya itu.

Dua perempuan itu memiliki ekspresi datar, dan kulit agak pucat. Yang berambut sebahu mengenakan blus putih dan celana panjang hitam yang entah kenapa terlihat usang. Sedangkan yang berambut sepinggang menggunakan piyama kuning gading yang lagi-lagi terlihat aneh.

“Mau pakai pentol besar, pentol kecil, atau tahu, Mbak?”

Masih nihil jawaban. Si piyama kuning terlihat merangkul lengan blus putih dengan erat. Yang paling salah, warna kulit keduanya sungguh-sungguh pucat. Seperti sudah tidak ada darah yang mengaliri lagi. Betul-betul seperti sudah...

Lek Mat mencoba tenang. Dia meracik campuran best seller pentol dengan campuran pentol kecil, pentol besar, tahu, dan keripik pangsit.

“Pedas atau tidak, Mbak?”

Lek Mat yang merasa aneh mencoba memancing pembeli. Dia menuangkan sambal sendok demi sendok untuk mencari respons. Biasanya, pembeli bakal meminta ‘stop’ pada kesekian sendok sambal. Namun, sampai berpuluh sendok sambal, keduanya tetap diam. Pun ketika Lek Mat menambahkan saus kacang dan kecap sebanyak mungkin, pembeli ini tetap diam tanpa komplain. Tanpa protes atau sekadar mengeluarkan suara. Betul-betul sunyi senyap.

Walah….

Bulu kuduk Lek Mat semakin berdiri tangguh. Kengerian ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Terlebih sewaktu Lek Mat mendapati si piyama kuning memiringkan kepala hingga 90 derajat dengan aneh, tidak lazim, dan tentunya mengerikan. Mata kosongnya memberikan tatapan yang menohok. Seperti menatap benda tak hidup. Kosong.

“Oke, ini pentol kuah kacang pedasnya, Mbak,” ucap Lek Mat pelan seraya mengulurkan kresek kepada di blus putih.

Lagi-lagi masih tanpa jawaban, si blus putih menerima pentol dan menyerahkan uang lusuhnya. Lek Mat menerima pembayaran itu dengan gemetar. Terlebih saat tangannya bersentuhan dengan tangan pucat nan dingin si blus putih.

“Matur nuwun, Mbak,” ucap Lek Mat.

Kedua perempuan itu kemudian berjalan ke arah timur yang gelap gulita. Langkah mereka pelan. Sedangkan Lek Mat berusaha menstater motor dan bermaksud kabur dari lokasi itu. Sialnya, motor tidak mau menyala.

Beberapa kali Lek Mat mengengkol pedal stater, motor tetap tidak mau menyala. Dia bahkan sambil mengawasi kalau-kalau perempuan tadi ujug-ujug berubah wujud seperti di film horor. Hingga saat langkah kedua perempuan tadi lenyap. Entah hilang secara harfiah atau hilang ditelan kegelapan malam. Barulah motor Lek Mat hidup dan melaju kencang.

“Berarti itu di perbatasan kampung S sama M, Lek? Jenengan bernyali juga,” komentarku.

“Namanya juga cari rezeki, Mbak.”

“Lalu, uangnya berubah jadi daun apa tidak, Lek?”

Lek Mata tampak menerawang. “Tidak kok, Mbak. Uangnya tetap berupa duit, tapi lusuh seperti uang lama.”

“Boleh lihat bentuknya, Lek? Atau barangkali mau dijual? Saya beli?”

Lek Mat terkekeh pelan. “Itu sudah lama sekali, Mbak. Uangnya tetap saya masukkan arus perputaran modal. Jadi sekarang sudah tidak ada.”

Lek Mat kemudian menyerahkan orderanku. Yakni seporsi pentol kuah kacang campur yang tidak terlalu pedas. Seraya mengingat vibes rute barat gereja yang memang terkenal wingit sejak zaman baheula. Padahal, di siang hari pemandangannya asri sekali karena merupakan area persawahan dan dihiasi dengan parit kecil juga beberapa pohon besar. Udaranya terasa segar, dan memanjakan mata sekali.

Tapi di malam hari….mending cari jalan lain sih.