Sekar Anindyah Lamase | Natasya Regina
Aurelie Moeremans (Instagram/aurelie)
Natasya Regina

Aurelie Moeremans menjadi perbincangan publik belakangan ini sejak secara terbuka mengungkap pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming saat remaja.

Pengakuan tersebut ia tuangkan dalam memoarnya berjudul Broken Strings, yang kemudian membuka diskusi luas mengenai isu sensitif yang selama ini kerap terpinggirkan.

Aktris yang dikenal lewat film Baby Blues itu kini mengaku merasakan kelegaan tersendiri. Ia melihat adanya perubahan nyata dalam cara masyarakat memandang isu grooming, terutama dibandingkan dengan masa ketika ia pertama kali memberanikan diri untuk bersuara.

Mengungkap Rasa Syukur atas Perubahan Sikap Masyarakat

Melalui unggahan di Instagram Story, Aurelie menyampaikan rasa syukur atas meningkatnya pemahaman publik di Indonesia mengenai isu grooming. Menurutnya, perkembangan ini menjadi sinyal positif bagi para penyintas.

“Aku bersyukur dan senang banget lihat bagaimana Indonesia sudah berkembang,” kata Aurelie pada Senin (12/1/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan perasaan lega sekaligus harapan, melihat isu yang dulu sulit dibicarakan kini mulai mendapat perhatian yang lebih serius.

Mengenang Masa Sulit Saat Pertama Kali Bersuara

Aurelie kemudian mengenang momen ketika ia masih sangat muda dan baru pertama kali mencoba mengungkap pengalaman traumatis yang dialaminya. Ia menilai, respons masyarakat saat itu jauh dari suportif.

“Waktu aku masih sangat muda dan pertama kali coba speak up, respons masyarakat jauh berbeda dengan sekarang,” ungkap Aurelie.

Ia menjelaskan bahwa pada masa tersebut, suara korban sering kali tidak mendapatkan ruang yang adil. Alih-alih didengarkan, banyak korban justru mengalami penyangkalan dan penghakiman.

Suara Korban yang Dulu Tenggelam

Dalam refleksinya, Aurelie menyoroti bagaimana isu penting kerap terabaikan karena minimnya empati publik di masa lalu.

“Dulu, suara korban sering tenggelam, disalahkan, atau dipelintir. Banyak hal penting justru luput dari perhatian,” lanjutnya.

Kondisi itu membuat banyak penyintas memilih diam, karena rasa takut dan kekhawatiran akan reaksi lingkungan sekitar.

Perubahan Kesadaran dan Empati Publik

Kini, Aurelie mengaku melihat pergeseran yang cukup signifikan. Ia menilai kesadaran masyarakat mengenai grooming semakin meningkat, seiring dengan bertambahnya diskusi terbuka dan edukasi publik.

“Hari ini, aku melihat perubahan itu. Lebih banyak kesadaran tentang grooming,” tutur Aurelie.

Tak hanya soal pemahaman, ia juga menilai masyarakat kini lebih mampu melihat isu ini dengan sudut pandang yang berimbang.

“Lebih paham soal relasi kuasa. Lebih banyak empati, lebih sedikit penghakiman,” sambungnya.

Perubahan yang Bermakna bagi Para Penyintas

Bagi Aurelie, perubahan cara pandang tersebut memiliki arti besar, terutama bagi para penyintas yang selama ini merasa sendirian. Ia menegaskan bahwa pergeseran sikap publik ini bukanlah sesuatu yang sepele.

“Perubahan ini penting. Dan nyata,” ujarnya.

Aurelie, yang saat ini tengah menanti kelahiran anak pertamanya, menyadari bahwa proses menuju kesadaran kolektif bukanlah perjalanan singkat. Ia mengakui perubahan tersebut datang secara perlahan dan membutuhkan waktu.

Harapan agar Korban Berani Bersuara

Meski demikian, ia tetap merasa bersyukur bisa hidup di masa di mana cerita-cerita seperti ini mulai didengar secara lebih utuh dan manusiawi.

“Walaupun jalannya panjang, dan datangnya tidak cepat, aku tetap bersyukur bisa hidup di masa di mana cerita seperti ini akhirnya didengar dengan lebih utuh,” ucapnya.

Di akhir pernyataannya, Aurelie menyampaikan harapan agar semakin banyak korban yang merasa aman untuk berbagi cerita dan mencari dukungan.

“Kalau hari ini kamu merasa sedikit lebih aman untuk bersuara, berarti kita sedang berjalan ke arah yang benar,” tutup Aurelie.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS