Jatuh cinta dapat menjadi sesuatu hal yang paling menyenangkan dalam hidup, juga hal paling menakutkan. Ketakutan akan jatuh cinta biasanya disebabkan karena pengalaman pernah disakiti yang membuat sang korban merasa takut untuk kembali membuka hatinya. Sebenarnya, ini termasuk hal yang wajar. Akan tetapi, ketakutan untuk jatuh cinta akan berubah menjadi tidak wajar ketika hal itu berubah menjadi suatu fobia yang menimbulkan rasa takut yang berlebihan.
Fobia yang membuat seseorang menjadi takut untuk jatuh cinta dinamakan philophobia. Pernah mendengarnya? Jika belum, dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai fobia satu itu.
Melansir dari Halodoc, berikut 4 hal yang perlu diketahui lebih lanjut tentang philophobia.
1. Apa itu Philophobia?
Philophobia adalah sebuah ketakutan untuk jatuh cinta. Bisa juga diartikan sebagai suatu fobia dalam menjalani hubungan dengan orang lain, terutama lawan jenis.
Satu hal yang perlu diingat, philophobia tidak sekadar merasa khawatir akan jatuh cinta, melainkan melebihi itu. Penderita philophobia akan merasakan ketakutan yang luar biasa terhadap cinta, bahkan tak jarang menyentuh tahapan-tahapan yang tidak wajar yang kemudian berpotensi memengaruhi kehidupan penderitanya.
2. Penyebab Philophobia
Seorang Direktur Eksekutif di Maryland House Detox, Delphi Behavioural Health Group, Scott Dehorty menyatakan bila pada umumnya philophobia dialami oleh orang-orang yang memiliki luka atau trauma di masa lalu. Misalnya, mereka menyaksikan aksi kekerasan dalam rumah tangga semasa ia kecil, atau perceraian orang tua yang membuatnya merasa enggan atau takut untuk menjalin hubungan dengan orang lain yang dianggap berpotensi melakukan hal yang serupa kepadanya.
Rasa takut yang dipicu oleh trauma itulah yang akhirnya membuat mereka cenderung menghindari kedekatan atau hubungan untuk menghindari sumber luka itu.
Akan tetapi, tanpa mereka sadari, hal itulah yang justru dapat membuat tingkat ketakutan mereka menjadi meningkat.
3. Gejala Philophobia
Gejala philophobia bisa saja bervariasi pada masing-masing penderitanya. Akan tetapi, pada umumnya, mereka mengalami gejala-gejala fisik serta emosional seperti rasa takut yang berlebihan; detak jantung yang meningkat, sulit bernapas, dan mudah berkeringat saat berada di dekat teman lawan jenis; mual; dan sulit untuk melakukan aktivitas tertentu.
4. Cara mengatasi Philophobia
Cara mengatasi philophobia ini bermacam-macam, tergantung dari tingkat krparahan fobianya. Dikutip dari Halodoc, berikut dijabarkan beberapa cara untuk mengatasi philophobia.
1. Terapi
Salah satu cara untuk membantu penderita philophobia untuk mengatasi rasa takut mereka ialah dengan melakukan terapi, khususnya terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioural therapy (CBT).
Saat menjalani terapi, terapis akan membantu penderita untuk dapat mengidentifikasi sumber ketakutan yang mereka rasakan, mengubah pikiran negatif, serta reaksi yang diberikan penderita terhadap sumber fobia.
2.Obat-obatan
Dalam beberapa kasus philophobia, dokter bisa memberikan resep obat antidepresan yang dapat dikonsumsi apabila ditemukan adanya masalah kesehatan mental lain yang mengganggu si penderita. Pada umumnya, pemberian obat-obatan digunakan dikombinasikan dengan terapi.
3.Perubahan gaya hidup
Selanjutnya, ialah perubahan gaya hidup. Sesuai rekomendasi dokter, perubahan gaya hidup seperti rutin berolahraga, teknik relaksasi dan strategi mindfulness ternyata dapat membantu mengatasi philophobia.
Itu adalah beberapa hal yang perlu diketahui tentang philophobia. Apabila kamu merasakan gejala-gejala kecemasan yang sama seperti apa yang tertera di atas, kamu harus segera memeriksanya agar rasa cemas itu tidak terus-menerus menghantui hidupmu dan membuatmu merasa terganggu. Semoga bermanfaat.
Baca Juga
-
4 Hal yang Bikin Si Doi Ilfeel Banget sama Kamu, Yuk Hindari!
-
5 Ciri yang Menunjukkan Seseorang Memiliki Kepribadian Omega, Kamu Termasuk?
-
Pasangan Tidak Peka? Ini 4 Cara untuk Menghadapinya!
-
4 Gejala Batu Amandel, Salah Satunya Bau Mulut
-
5 Hal Penting tentang Ablutophobia, dari Definisi hingga Treatment
Artikel Terkait
-
Akhir Pilu Cinta Ray Sahetapy dan Dewi Yull: 23 Tahun Bersama, Bercerai Ulah Menolak Poligami?
-
Sinopsis Setetes Embun Cinta Niyala, Film Lebaran Tayang di Netflix
-
Kisah Cinta Luna Maya, Ditinggal Reino Barack Nikah di Jepang, Kini Dilamar Maxime di Jepang
-
Ulasan Film 'Setetes Embun Cinta Niyala', Dilema Cinta dan Perjodohan
-
Alur Manis, Film '500 Days of Summer': Temui Cinta dan Pahitnya Kenyataan
Health
-
Mengenal Metode Mild Stimulation Dalam Program Bayi Tabung, Harapan Baru Bagi Pasangan
-
Kenali Tongue Tie pada Bayi, Tidak Semua Perlu Diinsisi
-
Jangan Sepelekan Cedera Olahraga, Penting untuk Menangani secara Optimal Sejak Dini
-
3 Tips agar Tetap Bugar saat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadan
-
Intermittent Fasting vs. Keto, Mana yang Lebih Efektif untuk Panjang Umur?
Terkini
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop