Di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital, ada satu penyakit baru yang diam-diam menyebar, terutama di kalangan anak muda: gaangguan kecemasan. Kenapa sih ini penting banget dibahas?
Topik ini menjadi sorotan utama dalam Kongres Nasional XI Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) di Makassar, di mana para ahli membedah bagaimana teknologi dan media sosial telah mengubah lanskap kesehatan jiwa kita.
Teknologi: Jembatan atau Justru Penjara?
Dr. Andri, Sp.KJ, FAPM, Kepala Klinik Psikosomatik RS EMC Alam Sutera, membuka sesi dengan fakta yang mengejutkan. Ia menyebut kurang dari 20 persen penderita kecemasan di dunia mendapatkan terapi yang memadai. Di sinilah, menurutnya, teknologi bisa menjadi jembatan, bukan pengganti.
Telepsikiatri dan terapi berbasis internet kini terbukti sama efektifnya dengan sesi tatap muka. Aplikasi berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) seperti Wysa dan SilverCloud bisa memberikan akses bagi mereka yang kesulitan menjangkau layanan kesehatan mental.
Bahkan, terapi berbasis Virtual Reality (VR) kini memungkinkan pasien dengan fobia atau kecemasan sosial untuk berlatih menghadapi situasi yang menakutkan dalam ruang yang aman.
Namun, dr. Andri mengingatkan, “Teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti relasi manusiawi antara dokter dan pasien.”
Otak 'Korslet' Gara-gara Komentar Negatif
Pembicara berikutnya, Prof. Dr. dr. Mustafa M. Amin, Sp.KJ(K) dari Universitas Sumatera Utara, menyoroti fenomena baru yang muncul dari penggunaan media sosial: perbandingan sosial ke atas, fear of missing out (FOMO), dan kecemasan pasca-posting.
“Media sosial bukan hanya pemicu, tetapi juga memodifikasi perjalanan gangguan kecemasan sosial,” jelas dr. Mustafa.
Temuan dari pemindaian otak mendukung pernyataan ini. Aktivitas amigdala (bagian otak yang merespons ancaman) akan meningkat ketika seseorang menerima komentar negatif di dunia maya, sementara korteks prefrontal (bagian otak yang mengatur kontrol emosi) justru aktivitasnya menurun.
Sederhananya, otak kita bisa "korslet" hanya karena sebuah komentar julid.
Remaja Paling Rentan: Saat Dunia Maya Jadi Cermin Diri
Presentasi ketiga datang dari Dr. dr. Veranita Pandia, Sp.KJ(K) dari RSHS/FK Unpad, yang mengangkat tema Media Sosial dan Kecemasan pada Remaja. Ia memaparkan bahwa lebih dari sepertiga remaja pengguna media sosial mengalami gejala kecemasan, terutama pada perempuan.
“Remaja hidup di dua dunia: nyata dan maya. Ketika validasi diri bergantung pada ‘likes’ dan komentar, mereka sangat rentan terhadap social appearance anxiety (kecemasan penampilan sosial),” jelas dr. Veranita.
Namun, ia juga menyoroti solusi yang menjanjikan: detoks digital, mindfulness, dan edukasi orang tua. Menurutnya, terapi digital berbasis CBT jauh lebih efektif (83%) dibandingkan sekadar membatasi penggunaan media sosial.
“Sebelum anak memiliki akun media sosial, pastikan mereka sudah memiliki literasi emosional,” pesannya.
Jiwa Juga Butuh Jeda
Ketiga presentasi ini menggambarkan bahwa dunia digital telah menjadi bagian dari ekosistem psikologis manusia modern.
“Kita tidak sedang berperang dengan teknologi. Kita sedang belajar menjadi manusia di tengah banjir informasi dan notifikasi. Kecemasan di era digital bukan tanda kelemahan—ia adalah panggilan untuk kembali menyadari bahwa jiwa pun butuh jeda,” tutup dr. Andri.
Baca Juga
-
Chun Woo Hee Diincar Main di Film Aksi Korea Veteran 3 dengan Lee Junho
-
IPK Indonesia 2025 Menurun, Kepercayaan Anak Muda pada Pemerintah Menurun
-
4 Toner Tranexamic Acid Atasi Kulit Kusam Auto Buat Wajah Cerah dan Lembap
-
4 Cleanser Korea Calendula Andalan Perkuat Skin Barrier pada Kulit Sensitif
-
Kado Valentine Anti Mainstream: 4 Hadiah Universal Biar Makin Berkesan
Artikel Terkait
-
Bahagia demi Like: Drama Sunyi Remaja di Balik Layar Ponsel
-
Hindari Jerat Penipuan! Kenali dan Cegah Modus Catut Foto Teman di WhatsApp dan Medsos
-
Takut Dinilai Buruk, Penjara Tak Terlihat di Era Media Sosial
-
Di Sidang MKD: Ahli Media Sosial Sebut Isu Demo Agustus Sarat Penggiringan Opini
-
Ahli Media Sosial di Sidang MKD Soroti Penyebaran Hoaks Cepat dan Respons Lambat DPR
Health
-
Dr. Tirta Luruskan Isu Asam Lambung Picu Mati Mendadak yang Ramai di Medsos
-
Gara-Gara Telat Ngopi, Aku Terjebak Caffeine Withdrawal Syndrome
-
Mengenal Virus Nipah (NiV): Bahaya Buah Terkontaminasi dan Cara Mencegah Infeksinya
-
4 Makanan yang Membantu Meningkatkan Kualitas Tidur
-
Bukan Sekadar Kafein, Biji Kopi Arabika Ternyata Mengandung Zat Antidiabetes Alami
Terkini
-
Chun Woo Hee Diincar Main di Film Aksi Korea Veteran 3 dengan Lee Junho
-
IPK Indonesia 2025 Menurun, Kepercayaan Anak Muda pada Pemerintah Menurun
-
4 Toner Tranexamic Acid Atasi Kulit Kusam Auto Buat Wajah Cerah dan Lembap
-
4 Cleanser Korea Calendula Andalan Perkuat Skin Barrier pada Kulit Sensitif
-
Kado Valentine Anti Mainstream: 4 Hadiah Universal Biar Makin Berkesan