M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Podcast Raditya Dika bersama dr. Tri Maharani (Youtube/Raditya Dika)
Atalie June Artanti

Belakangan ini, kasus gigitan ular kembali ramai dibicarakan publik. Bukan hanya karena meningkatnya laporan korban di berbagai daerah, tetapi juga setelah podcast Raditya Dika bersama Tri Maharani viral dan membuka mata banyak orang tentang betapa berbahayanya penanganan yang salah saat digigit ular.

Dalam obrolan tersebut, dr. Tri Maharani yang dikenal luas sebagai dokter ahli gigitan ular, mengungkap satu hal yang cukup mengejutkan: banyak korban justru meninggal bukan semata karena bisa ular, melainkan karena panik dan salah penanganan di menit-menit awal.

Dan ironisnya, kesalahan itu masih sangat sering terjadi di Indonesia.

Masih Banyak yang Menganggap Gigitan Ular Sepele

Kasus terbaru terjadi di Bogor. Seorang pria dilaporkan meninggal dunia setelah sempat memainkan ular weling di tongkrongan. Awalnya, gigitan ular itu dianggap candaan biasa. Korban bahkan masih sempat bercengkerama sebelum kondisinya memburuk. Beberapa jam kemudian, racun mulai menyerang sistem saraf tubuhnya. Korban mengalami penurunan kesadaran hingga akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kembali memperlihatkan betapa mematikannya ular weling, salah satu ular berbisa neurotoksik yang sering dianggap tidak agresif karena gerakannya lambat dan cenderung diam. Padahal, justru itu yang membuat banyak orang lengah.

Gigitan Ular Tidak Selalu Langsung Terasa

Menurut dr. Tri Maharani, banyak korban gigitan ular berbisa datang terlambat ke rumah sakit karena merasa baik-baik saja di awal. Beberapa jenis bisa ular memang bekerja perlahan. Korban mungkin hanya merasakan nyeri ringan atau bahkan hampir tidak sakit sama sekali. Namun, beberapa jam kemudian, racun mulai menyerang saraf, pernapasan, hingga organ vital. Inilah yang sering membuat korban merasa “masih aman”, padahal kondisinya sebenarnya kritis.

Mitos Penanganan Tradisional Masih Dipercaya

Masalah lain yang juga disorot adalah masih banyaknya masyarakat yang percaya pada penanganan tradisional yang justru berbahaya. Mulai dari menyedot luka gigitan, mengikat terlalu kencang, membakar luka, hingga memberi ramuan tertentu. Padahal, tindakan seperti ini bisa memperparah kondisi korban.

Dalam podcast tersebut, dr. Tri menegaskan bahwa langkah paling penting justru menjaga korban tetap tenang, tidak bergerak (imobilisasi), dan segera membawanya ke fasilitas kesehatan. Karena makin panik seseorang, detak jantung meningkat dan penyebaran racun bisa menjadi lebih cepat.

Indonesia Masih Kekurangan Serum Antibisa

Di sisi lain, kasus gigitan ular di Indonesia juga menghadapi tantangan besar: keterbatasan serum antibisa ular. Beberapa daerah terpencil masih kesulitan mendapatkan stok antivenom. Bahkan dalam sejumlah kasus, pasien harus dirujuk ke kota lain karena fasilitas kesehatan setempat belum memiliki serum yang sesuai.

Padahal, Indonesia termasuk negara dengan kasus gigitan ular cukup tinggi, terutama di wilayah pedesaan, perkebunan, hingga area persawahan. Universitas Gadjah Mada bahkan pernah menyoroti pentingnya Indonesia memperkuat produksi serum antibisa sendiri agar tidak terlalu bergantung pada pasokan terbatas.

Korban Tidak Selalu dari Hutan

Banyak orang mengira gigitan ular hanya mengancam pendaki atau warga pedalaman. Faktanya, kasus justru sering terjadi di lingkungan permukiman. Di Bekasi, misalnya, seorang nenek pemulung sempat kritis setelah digigit ular saat mencari botol bekas. Tim Damkar harus bergerak cepat menyelamatkan korban sebelum racun menyebar lebih jauh.

Kasus serupa juga terjadi di berbagai daerah lain, termasuk pada petani, pekerja kebun, bahkan orang yang tidak sengaja menginjak ular di sekitar rumah. Artinya, ancaman ular berbisa bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Tidak Semua Gigitan Langsung Mematikan

Meski terdengar mengerikan, gigitan ular sebenarnya bisa ditangani jika korban mendapatkan pertolongan yang tepat dan cepat. Banyak pasien berhasil selamat meski sempat berada dalam kondisi kritis. Salah satu kuncinya adalah waktu penanganan. Makin cepat korban mendapatkan serum dan perawatan medis, makin besar peluang untuk pulih tanpa komplikasi serius. Oleh karena itu, edukasi soal penanganan pertama menjadi sangat penting.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Digigit Ular?

Secara umum, langkah yang disarankan tenaga medis saat terjadi gigitan ular adalah:

  1. Tetap tenang
  2. Minimalkan gerakan tubuh
  3. Jangan menyedot luka
  4. Jangan mengikat terlalu kuat
  5. Jangan memotong area gigitan
  6. Segera ke rumah sakit

Jika memungkinkan, identifikasi warna atau bentuk ular dari jarak aman tanpa mencoba menangkapnya.
Informasi jenis ular dapat membantu dokter menentukan penanganan yang tepat.

Masalah Besarnya Bukan Ular, tetapi Kurangnya Edukasi

Yang menarik dari perbincangan dr. Tri bersama Raditya Dika adalah satu pesan sederhana: ular tidak selalu menyerang manusia lebih dulu. Banyak kasus justru terjadi karena manusia mencoba memegang, memainkan, atau mendekati ular tanpa pengetahuan yang cukup. Sayangnya, konten media sosial kadang membuat interaksi berbahaya dengan ular terlihat keren atau menegangkan, padahal risikonya nyata.

Dan ketika tragedi terjadi, semuanya sering sudah terlambat.