Menulis novel yang berkualitas diperlukan langkah-langkah yang baik dari mulai membuat outline sampai proses editing. Selain itu, kita juga harus menguasai tata cara penulisan yang benar dan imajinasi yang bagus. Tentu kita akan belajar perlahan-lahan demi menciptakan novel yang berkualitas.
Dalam prosesnya, kita akan melakukan kesalahan berkali-kali, entah kecil ataupun besar. Semakin sering kita menyelesaikan novel, maka akan semakin sedikit kesalahan yang kita lakukan. Selama kita tidak menyerah untuk belajar, maka novel berkualitas tak mustahil untuk bisa kita ciptakan. Sebenarnya apa saja sih kesalahan yang biasa dan harus kita hindari saat menulis novel?
Berikut 5 kesalahan yang biasanya kita lakukan saat menulis novel:
1. Kurang Riset
Untuk menciptakan sebuah novel diperlukan riset yang dalam agar ceritanya terasa relate. Namun, kita sering mengabaikan poin ini dan beranggapan bahwa riset yang kita lakukan sudah cukup. Padahal kurangnya riset bisa membuat tulisan kita terasa mengada-ada.
2. Typo
Typo memang hal yang manusiawi bagi penulis, tapi terlalu banyak typo juga memberi kesan bahwa kita adalah penulis yang malas untuk melakukan editing. Kurangilah typo dengan membaca ulang adegan yang baru saja kita tulis dan memperbaikinya.
3. Baku dan Tidak Baku
Cara mudah untuk mengetahui baku atau tidaknya sebuah kata adalah dengan membuka KBBI. Wajib bagi seorang penulis untuk selalu membuka KBBI saat menulis novel. KBBI sendiri selalu berkembang seiringnya zaman, kosa kata baru pun akan bermunculan. Karena itu selalu gunakan KBBI saat menulis.
4. Banyak Plot Hole
Plot hole adalah alur cerita yang tidak masuk akal. Plot hole sering terjadi jika kita masih belajar menulis novel. Salah satu contoh plot hole adalah; kita memunculkan keahlian bela diri karakter kita di akhir cerita, padahal dari awal kita tidak pernah menyinggung bahwa dia pernah belajar ilmu bela diri.
5. Asal Memilih Nama
Untuk pemilihan nama seharusnya kita tidak ngasal hanya karena kita suka dengan nama tersebut. Cobalah memilih nama yang sesuai dengan latar yang dipakai. Misalnya ketika memilih nama untuk orang yang berasal dari Jawa, maka gunakanlah nama-nama khas orang Jawa.
Itulah 5 kesalahan yang biasanya kita lakukan saat menulis novel. Tak menutup kemungkinan bagi kita yang sudah profesional sekalipun masih melakukan kesalahan dalam menulis novel. Diperlukan konsentrasi ekstra untuk meminimalisir kesalahan yang ada. Alangkah baiknya kita memiliki seorang pembaca yang bisa menilai seperti apa novel kita. Sering kali kacamata pembaca menemukan kesalahan yang tidak kita sadari.
Baca Juga
-
Cari The Exile? Ini 3 Cara Mengalahkan Xuanwen Beast di Game Genshin Impact
-
Terkenal Gesit, Ini 3 Cara Mengalahkan Geovishap Hachling di Gim Genshin Impact
-
Gampang tapi Hebat, Ini 3 Cara Menggunakan Lyney di Gim Genshin Impact
-
3 Cara Mengalahkan Fatui Snezhnayan Maiden di Gim Genshin Impact
-
Bannyak yang Belum Paham, Ini 3 Cara Menggunakan Noelle di Gim Genshin Impact
Artikel Terkait
-
Review Novel 'Makhluk Bumi': Jadi Alien demi Bertahan di Dunia yang Gila
-
Novel Larung: Kelanjutan Konflik dan Perjuangan Saman yang Kian Menegangkan
-
Menyelami Isu Gender, Kemanusiaan, dan Sosial Politik dalam Novel Saman
-
Ulasan Novel Death by Dumpling: Misteri Pembunuhan Pelanggan Setia Restoran
-
Tragedi di Pesta Pernikahan dalam Novel Something Read, Something Dead
Hobi
-
Mengejutkan! Maarten Paes Kritik Taktik dari Patrick Kluivert di Timnas Indonesia
-
Ranking FIFA Timnas Indonesia Naik, Ini Harapan Besar Erick Thohir
-
Hadapi Korea Selatan, Timnas Indonesia U-17 Wajib Raih Minimal 1 Poin
-
Persija Jakarta Incar Posisi Empat Besar, Madura United akan Jadi Korban?
-
Kandaskan CAHN FC, PSM Buka Kans Akhiri Titel Juara Bertahan Puluhan Tahun Wakil Singapura
Terkini
-
Ada LANY hingga Hearts2Hearts, LaLaLa Festival 2025 Umumkan Daftar Lineup
-
Review Novel 'Makhluk Bumi': Jadi Alien demi Bertahan di Dunia yang Gila
-
Ada Romcom Hingga Fantasi, 8 Drama Korea yang Tayang di Bulan April
-
Novel Larung: Kelanjutan Konflik dan Perjuangan Saman yang Kian Menegangkan
-
Urgensi Pendidikan Budi Pekerti Ki Hadjar Dewantara vs Krisis Rasa Bersalah