Gelaran Piala Dunia U-17 yang diselenggarakan di Indonesia menjadi sebuah momen manis bagi Timnas Jerman U-17. Pasalnya, ini adalah kali pertama bagi Timnas Jerman U-17 menembus babak final kejuaraan setelah Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu.
Sebelumnya, Jerman sendiri pernah melaju ke partai puncak kejuaraan Piala Dunia U-17 di edisi 1985 di China. Namun perlu dicatat, kala itu mereka masih bernama Jerman Barat, dan belum resmi menggunakan nama Jerman saja sebagai sebuah negara.
Kesuksesan Jerman kembali menembus partai final Piala Dunia U-17 ini ternyata meninggalkan sebuah keunikan tersendiri, sekaligus sebuah pembelajaran. Berdasarkan informasi yang diunggah oleh akun TikTok bolasepakw, Der Panzer Muda saat ini berisikan setidaknya 11 pemain keturunan. Dalam artian, dari 21 pemain yang dibawa oleh Christian Wuck ke Indonesia, lebih dari separuhnya merupakan pemain yang memiliki darah campuran antara Jerman dengan negara-negara lainnya.
Jika kita kroscek dengan data yang ada di laman transfermarkt, sejatinya memang kita temukan sebuah fakta bahwa lebih dari 50 persen skuat U-17 Jerman saat ini memiliki darah dari Afrika maupun Asia Barat.
Seperti misal, di sektor lini pertahanan ada nama David Odogu, Almugera Kabar, dan Eric da Silva Moreira. Sementara di sektor gelandang, terdapat nama-nama seperti Fayssal Harchaoul, Winners Osawe, Assan Ouedraogo, Bilal Yalcinkaya hingga Charles Herrmann.
BACA JUGA: Keluhan Pelatih Jeonnam Dragons, Akankah Isyarat Masa Depan Asnawi di Korea?
Pun demikian di lini serang, terdapat nama Paris Brunner yang memiliki darah Jerman dan Kongo. Sebuah kombinasi yang sangat lengkap bukan, karena semua lini diisi oleh para pemain keturunan?
Lantas, pembelajaran apa yang bisa kita petik dari Timnas Jerman U-17 ini? Tentu saja terkait dengan polemik yang saat ini masih saja beredar perihal pemain keturunan dan pemain lokal.
Jerman saja yang memiliki prestasi tingkat dunia, tak sungkan-sungkan untuk memanggil pemain keturunan untuk memperkuat Timnasnya, lha Indonesia? Justru malah menimbulkan dikotomi di beberapa pihak yang tak sejalan dengan kebijakan federasi.
Padahal jika kita lebih meluaskan pandangan, sejatinya tak hanya Jerman U-17 yang disesaki dengan pemain berdarah campuran pada gelaran Piala Dunia U-17 ini. Timnas negara lain pun tak sungkan-sungkan membawa talenta mereka ke gelaran.
Seperti contohnya Maroko, sebagian besar skuat yang dibawa ke Indonesia juga berisikan para pemain keturunan. Sementara Indonesia? Lagi-lagi masih menimbulkan pro kontra terkait hal ini.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ajax Amsterdam, Maarten Paes dan Pentingnya Federasi Menaturalisasi Pemain yang Sudah Matang
-
Jadi Lawan Tertangguh, Bulgaria Terikat Erat dengan Timnas Indonesia Berkat 3 Hal Ini
-
Dihantui Fakta Minor 3 Pelatih Terdahulu, Bisakah John Herdman Catatkan Debut Manis di Indonesia?
-
Gegara John Herdman, Kans Marselino Ferdinan Balik ke Timnas Indonesia Kembali Menipis?
-
Salah Kaprah Sistem Pertandingan FIFA Series 2026, Bagaimana Format Sebenarnya?
Artikel Terkait
Hobi
-
Ajax Amsterdam, Maarten Paes dan Pentingnya Federasi Menaturalisasi Pemain yang Sudah Matang
-
Jadi Lawan Tertangguh, Bulgaria Terikat Erat dengan Timnas Indonesia Berkat 3 Hal Ini
-
Dihantui Fakta Minor 3 Pelatih Terdahulu, Bisakah John Herdman Catatkan Debut Manis di Indonesia?
-
Peluang Pedro Acosta ke Ducati Lenovo? Pilihan Paling Realistis
-
Thailand Masters 2026: Laga 14 Wakil Indonesia, Siapa yang Bakal Melaju?
Terkini
-
4 Jajanan Jadul Warna-warni yang Meramaikan Masa Kecil, Ada Es Gabus!
-
Menguak Misteri Lorong Rahasia dalam Lima Sekawan Beraksi Kembali
-
Ruqyah: The Exorcism, Ketika Iman Diuji di Tengah Teror Kerasukan
-
Aku Menemukan Sahabat di Tengah Hutan, Tapi Dia Bukan Manusia
-
Denada Pernah Sebut Anak adalah Segalanya, Netizen Singgung soal Ressa