Meskipun telah digaungkan jauh-jauh hari, namun ternyata penerimaan khalayak sepak bola di Asia Tenggara terkait dengan lga antara Manchester United melawan tim ASEAN All Stars tak seperti yang diharapkan.
Selain tak terlalu menyedot atensi pencinta sepak bola regional, laga yang digagas oleh induk sepak bola Asia Tenggara tersebut juga tak mendapatkan sambutan positif dari negara-negara anggotanya.
Hal ini terlihat jelas dari barisan pemain yang dikirimkan untuk bergabung dalam skuat. Sepertimana disadur dari laman Suara.com (19/4/2025), negara-negara kekuatan sepak bola utama di Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand dan Malaysia lebih memilih untuk tak mengirimkan para pemain terbaiknya ke tim besutan Kim Sang-sik tersebut.
Bahkan, tanpa bermaksud untuk merendahkan mutu pertandingan hiburan kali ini, laga antara ASEAN All Stars melawan Manchester United ini dapat dikataka tak terlalu menarik, terutama bagi para pendukung Timnas Indonesia.
Setidaknya, ada tiga alasan yang membuat laga ekshibisi antara tim Iblis Merah melawan ASEAN All Stars ini terkesan biasa-biasa saja dan tak terlalu menarik bagi para pendukung Timnas Indonesia.
Penasaran? Mari kita ulas bersama.
1. MU Tak Seistimewa Dulu
Hal pertama mengapa laga ASEAN All Stars melawan Manchester United ini tak terlalu menarik tentu saja karena kualitas dari tim Setan Merah saat ini.
Berbeda dengan akhir dekade 1990an hingga awal dekade 2010an lalu, kekuatan Manchester United saat ini tak ubahnya tim-tim medioker Inggris dan benua Eropa lainnya.
Manchester United era Sir Alex Ferguson dulu, memang sangat layak untuk dinantikan kedatangannya. Namun untuk saat ini, tentu saja sudah berbeda jauh.
Jangankan bersaing di level benua, Manchester United versi saat ini bahkan harus terseok ketika mengarungi Liga Primer Inggris yang mereka kuasai satu dekade lampau.
Bahkan jika kita mengacu tabel di laman premierleague.com, hingga pekan ke-33, Manchester United saat ini masih berada di posisi ke-14 klasemen. Alih-alih bersaing untuk mengejar gelar, untuk terhindar dari posisi yang lebih bawah lagi saja mereka masih butuh perjuangan yang ekstra keras.
2. Fans Timnas Sudah Terbiasa
Diakui ataupun tidak, untuk saat ini para fans Timnas Indonesia sudah terbiasa untuk menyaksikan para pemain kesayangannya bertarung melawan tim-tim elit benua Eropa yang selevel dengan Manchester United.
Selain Mees Hilgers yang sempat bertarung secara langsung dengan MU di pentas Eropa dan Kevin Diks yang berjibaku melawan Chelsea, kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes bahkan hampir tiap pekan melawan tim-tim hebat benua biru.
Bukan hanya tim sekelas MU saja, namun juga tim mapan seperti Juventus, Inter Milan, AC Milan, AS Roma dan sederet tim lain menjadi lawan dari Jay Idzes di pentas Liga Italia Serie A.
Jadi, jika melawan MU hanyalah untuk mendapatkan sensasi melihat pemain Indonesia bertarung melawan tim dunia, fans Timnas Indonesia sudah sangat kenyang untuk hal itu.
3. Berdekatan dengan Laga Timnas
Alasan ketiga mengapa laga melawan MU tak terlalu menarik adalah, karena laga tersebut berdekatan dengan lanjutan laga Timnas Indonesia di babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia ronde ketiga melawan China dan Jepang.
Menurut rilisan laman Suara.com, laga antara MU melawan ASEAN All Stars ini akan dimainkan pada 28 Juni 2025. Dan hanya berselang satu pekan kemudian, Timnas Indonesia sudah kembali turun lapangan dengan menantang China di kandang sendiri.
Melihat kondisi saat ini, jika suporter Indonesia diminta untuk memilih antara laga ASEAN All Stars vs Manchester United, atau menonton laga Timnas Indonesia, bisa dipastikan mereka akan memilih opsi kedua.
Itulah 3 alasan mengapa pertandingan MU melawan ASEAN All Stars kali ini tak begitu menarik. Ada yang mau menambahkan?
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
-
Penerapan UU Transfer Daerah dan Nasib Remang Masa Depan PPPK: Efisiensi Berujung Eliminasi?
Artikel Terkait
-
Ayah Pascal Struijk Bocorkan Pelatih Timnas Sudah Hubungi Sang Anak
-
Dean Zandbergen Kirim Kode Segera Gabung Timnas Indonesia
-
5 Pemain Top Berstatus Polisi yang Tidak Perkuat Bhayangkara FC, Siap Dibajak The Guardian?
-
Erick Thohir Komentari Kondisi Timnas Indonesia, Singgung Situasi Liga 1?
-
3 Calon Pengganti Marselino Ferdinan yang Absen di Timnas Indonesia vs China
Hobi
-
Alex Rins Resmi Hengkang dari Yamaha, Didepak Diam-diam?
-
Build Fanny Tersakit 2026: Rekomendasi Item dan Emblem untuk Dominasi Jungle
-
Loyalitas di Tengah Perang: Peran Vital Darijo Srna di Shakhtar Donetsk
-
Triumph Rocket 3 Storm R, Motor dengan Mesin Lebih Besar dari Innova Zenix
-
Bersaing! Bos Aprilia Akui Jorge Martin Lebih Unggul dari Marco Bezzecchi
Terkini
-
Ruang Tenang: Validasi untuk Jiwa yang Lelah dan Hati yang Ingin Rehat
-
Kuroko no Basket: Persahabatan, Persaingan Sehat, Pengakuan, & Bola Basket
-
Perempuan Bermata Kelam yang Menjanjikan Kemakmuran
-
Sinopsis We Are Worse at Love than Pandas, Drama yang Dibintangi Ikuta Toma
-
Mau Kulit Cerah Merata? 5 Rekomendasi Sabun Batang untuk Atasi Kulit Kusam