Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Buku ruang tenang (Dok. pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Ada perasaan lega yang luar biasa ketika kita menemukan sebuah buku yang mampu memvalidasi emosi kita sendiri. Di saat kita sering bertanya, "Normal tidak sih kalau aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa?", buku ini hadir menjawabnya. Ia menyapa tepat di halaman awal, seolah mengizinkan kita untuk sejenak menjauh dari kebisingan sekitar dan memulihkan tenaga sosial yang terkuras.

Meski sampulnya tampak manis dengan ilustrasi kucing—yang mungkin membuat orang mengira ini adalah novel fiksi—isinya justru sebuah perjalanan self-healing yang mendalam. Bahasanya santai namun berisi, terasa seperti sedang berbincang intim dengan seorang psikolog.

Buku ini terbagi menjadi lima bagian yang saling berkelindan. Bagian pertama, "Rangkul Bayangan", mengajak kita mendekati diri sendiri. Membaca bagian ini membuat saya merenung: apakah aku dan diriku adalah dua jiwa yang berbeda?

Selama ini, saya sering menjadi hakim yang paling kejam bagi diri sendiri, mengutuki setiap kegagalan dan menyalahkannya atas segala kelemahan. Namun buku ini mengingatkan bahwa diri kita pun bisa merasa lelah dan ingin "pulang". Jika bukan kita sendiri yang memeluknya, lalu siapa lagi? Menatap bayangan di cermin menjadi simbol menemukan kembali jiwa yang sempat hilang.

Transisi menuju bagian kedua, "Lalu Lalang", membawa kita mengerti hakikat datang dan pergi, mulai dari masa lalu hingga ketakutan akan kehilangan. Bagian ini sangat menenangkan karena membangun narasi bahwa banyak kekacauan yang terjadi sebenarnya "bukan salahmu".

Masuk ke bagian ketiga, "Jangan Bunuh Diri", kita diajak menanyakan kabar pada diri sendiri dengan kejujuran yang paling telanjang. Bagian ini terasa paling sesuai dengan kondisi saya: merasa hidup membosankan dengan rutinitas yang itu-itu saja, lelah dengan tuntutan yang tak kunjung tercapai, hingga merasa menjadi beban keluarga karena di usia sekarang belum mampu memberikan apa-apa. Buku ini dengan sangat lembut menguatkan bahwa usia bukanlah tolok ukur tunggal sebuah kesuksesan; kita tidak perlu terus membandingkan diri dengan pencapaian teman sejawat.

Bagian keempat mengingatkan bahwa "Telapak Tangan Kita Terlalu Kecil". Kita tidak akan pernah bisa mengubah orang lain sesuai keinginan kita.

Jika lelah, beristirahatlah di tempat paling nyaman. Tempat inilah yang menjadi inti pada bagian kelima, "Ruang Tenang". Ruang ini adalah sebuah sudut di dalam hati yang tidak bisa didikte oleh siapa pun; tempat di mana kita menerima diri seutuhnya.

Menariknya, saat membaca bagian ini, saya teringat pada tulisan Leila S. Chudori dalam kumpulan cerpen Malam Terakhir. Di sana ia merefleksikan pengalamannya sebagai penulis perempuan yang sempat tidak menulis lagi selama 20 tahun sejak novel Pulang.

Ia menekankan pentingnya memiliki "ruang tenang". Saya sangat setuju dengan hal itu. Sebagai perempuan, saya rasa kita tidak hanya butuh ruang tenang di dalam hati, tapi juga ruang fisik yang nyata untuk sejenak lari dari kenyataan dan mengisi energi. Tidak harus mewah, yang penting nyaman, karena definisi kenyamanan tiap orang pasti berbeda.

Secara keseluruhan, buku ini kaya akan metafora puitis yang bersyair namun tetap membumi. Banyak sekali kutipan bijak yang perlu diberi stabilo sebagai penyemangat saat kita mulai lupa cara menemani diri sendiri. Sebuah buku yang bukan sekadar bacaan, melainkan sebuah pelukan bagi jiwa yang lelah.

Identitas Buku

Judul: Ruang Tenang
Penulis: Sky Cantiki
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: 2022
ISBN: 978-623-232-724-0