Sebuah kabar kurang sedap berembus dari kubu Timnas China. Menyusul hasil negatif yang didapatkan oleh tim Negeri Tirai Bambu di ronde ketiga babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, federasi sepak bola China, CFA memutuskan untuk mengakhiri kerja sama mereka dengan sang pelatih, Branko Ivankovic.
Pelatih berkebangsaan Kroasia tersebut, dilengserkan oleh induk sepak bola China karena dinilai gagal memberikan prestasi bagi Zhang Yuning dan kolega. Ivankovic yang dikontrak oleh CFA semenjak Februari 2024 lalu, gagal memenuhi ekspektasi federasi sepak bola China untuk meloloskan mereka ke putaran final Piala Dunia tahun depan.
Di grup C babak kualifikasi, Timnas China yang diasuh oleh mantan pemain Timnas Kroasia tersebut hanya mampu finish di peringkat kelima klasemen akhir, berada di bawah Jepang, Australia, Arab Saudi dan Indonesia yang mengalahkan mereka di pertandingan krusial matchday kesembilan (5/6/2025) lalu.
Dan bahkan, kekalahan atas Indonesia ini juga disebut-sebut menjadi salah satu alasan terbesar mengapa CFA pada akhirnya mendepak pelatih yang telah menjalankan 14 pertandingan bersama Tim Naga di pentas persepakbolaan internasional tersebut.
Berpotensi Datangkan STY Setelah Gagal di Kesempatan Pertama
Uniknya, di balik tragedi pemecatan Branko Ivankovic di Timnas China, belakangan ini santer dikabarkan bahwa pihak federasi negara kawasan Asia Timur tersebut tengah mencoba kembali peruntungannya untuk mendapatkan mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong.
Meskipun menurut kabar dari laman Suara.com (16/6/2025) pelatih berkebangsaan Korea Selatan tersebut mengakui hingga saat ini belum terjalin komunikasi dengan pihak CFA, namun STY tak menampik jika suatu saat dirinya bakal melatih negara yang pernah ditolaknya dulu.
Dari laman yang sama diinformasikan, mantan pelatih Timnas Korea Selatan tersebut juga tak mengindikasikan adanya penolakan jika suatu saat pihak China mendekat untuk memintanya melatih. Bahkan, secara gamblang dinyatakan oleh pelatih yang memulangkan Jerman di Piala Dunia 2018 lalu itu, bahwa jika semuanya memenuhi syarat, maka bisa saja dirinya menggantikan posisi Ivankovic di kursi kepelatihan Timnas China dalam waktu dekat ini.
Dan jika itu terjadi, maka mungkin saja akan tercipta sebuah CLBK, alias Cinta Lama Bersemi Kembali antara China dan Shin Tae-yong. Pasalnya, dari berbagai media telah diberitakan, demi bisa menjadi pelatih Timnas Indonesia, STY sampai menolak beberapa negara yang menginginkannya untuk menjai pelatih, termasuk di antaranya adalah China.
Bahkan, menyadur informasi dari laman Suara.com (6/1/2025), STY berani menolak tawaran puluhan miliar dari China, karena dirinya merasa lebih mantap untuk menjadi pelatih Timnas Indonesia di tahun 2019 lalu.
Sebuah fakta yang sekaligus mengindikasikan betapa pelatih yang satu ini dinilai oleh negara lain memiliki kualitas yang sangat bagus, meskipun kemampuannya disia-siakan oleh PSSI dan Timnas Indonesia.
Selama menjadi pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong sendiri memang belum bisa memberikan gelar juara bagi Pasukan Merah Putih. STY yang merangkap jabatan di berbagai level Timnas Indonesia, baik di skuat senior maupun kelompok umur, paling mentok hanya bisa membawa timnya menjadi runner-up di kejuaraan tingkat regional Asia Tenggara.
Namun demikian, di level Asia, kemampuan STY sudah terbukti keampuhannya. Selama berada di bawah asuhannya, Timnas Indonesia berhasil menembus babak 16 besar Piala Asia untuk kali pertama sepanjang sejarah keikutsertaan, dan membawa Timnas Indonesia U-23 menjadi semifinalis gelaran Piala Asia U-23 di momen debutnya.
Bukan hanya itu, STY juga pelatih pertama yang membawa Indonesia melaju ke ronde ketiga babak kualifikasi Piala Dunia 2026 untuk kali pertama sebelum pada akhirnya tongkat estafet kepelatihannya diteruskan oleh Patrick Kluivert.
Lantas, apakah cinta lama dari China kepada STY akan bersambut kali ini? Tentu hanya waktu yang bisa menjawab.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Selaku Bapak-Bapak yang Kerap PP Rembang-Tuban, Saya Menaruh Kejengkelan terhadap Hal-Hal Ini!
-
Cerita Bapak-Bapak PP Rembang-Tuban: Mengapa Saya Selalu Mengelus Dada Setiap Melintas di Jalur Ini?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan
-
Jadi Guru Pembimbing Sekaligus Juri adalah Dilema, Ibarat Sudah Kalah Duluan Sebelum Mulai Lomba
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
Artikel Terkait
-
Bojan Hodak Keluhkan Harga Pemain Naturalisasi Indonesia Mencekik
-
Imbas Kalah Telak dari Malaysia, Timnas Vietnam Jadi Bahan Olok-Olokan Media China
-
3 Pemain Bintang yang Jadi Rekan Dean James Jika Gabung AEK Athens, Ada Eks Man United
-
2 Pemain Naturalisasi Resmi Tak Dipanggil TC Timnas Indonesia U-23
-
Pesaing Calvin Verdonk apabila Gabung FC Utrecth, Harus Kalahkan Eks FC Schalke
Hobi
-
Nyesek, Jorge Martin Bisa Tinggalkan Aprilia Walau Raih Gelar Juara Dunia?
-
Sprint Race GP Prancis 2026: Jorge Martin Menang, Marc Marquez Patah Tulang
-
Wow! Yamaha XMAX Disulap Jadi Motor Cyberpunk dari Serial Tokyo Override
-
Bukan Vespa, Scomadi Technica 200i Hadir dengan Gaya Adventure Klasik Retro
-
Bukan Hanya Pembalap, Tim Tech3 Juga Tentukan Nasib untuk Tahun 2027
Terkini
-
Sinopsis Nameless, Film Action Thriller Jepang yang Dibintangi Jiro Sato
-
Lonceng Terakhir di Ruang Kelas
-
Hair Mist Terbaik untuk Hilangkan Bau Apek pada Rambut, Ini 5 Produknya!
-
Usung Aksi Mecha Epik, Anime Vertex Force Umumkan Tayang Oktober 2026
-
Lelaki yang Membawaku Naik Kapal dan Kabur ke Singapura