Beberapa waktu lalu, Timnas Indonesia harus menerima perlakuan yang cukup tak mengenakkan dari sang tetangga, Malaysia. Indonesia yang memiliki itikad baik dengan mengajak tim jiran untuk melakukan pertandingan uji coba, harus mendapati bahwa niatnya tersebut tak bersambut.
Tanpa menyebutkan alasan yang pasti saat itu, niatan Indonesia untuk mengajak Malaysia bertarung di friendly match bulan September mendatang, langsung mendapatkan penolakan dari mereka. Sebuah keputusan yang tentu saja membuat Indonesia dan para pendukungnya cukup kecewa karena tak bisa menyaksikan pertarungan kedua kesebelasan setelah kali terakhir keduanya terlibat pada perlawanan di tahun 2021 lalu.
Namun pada kenyataannya, lambat laun penolakan dari Malaysia tersebut justru memberikan sebuah hikmah besar bagi Indonesia. Pasalnya, batalnya pertandingan melawan Malaysia di bulan September mendatang, tergantikan dengan pertandingan lainnya yang secara kualitas dan manfaat jauh lebih besar ketimbang laga melawan Harimau Malaya.
Menyadur laman Suara.com (20/6/2025), induk sepak bola Indonesia alias PSSI merencanakan untuk membuat sebuah mini turnamen di bulan September mendatang dengan melibatkan tiga kontestan, termasuk di dalamnya adalah Timnas Indonesia.
Namun karena Malaysia memutuskan untuk menolak ajakan Indonesia guna berpartisipasi dalam pertandingan berbalut mini turnamen ini, maka Indonesia pun mencari lawan lainnya, hingga pada akhirnya menuju deal dengan dua negara asal Timur Tengah, yakni Lebanon dan Kuwait.
Jika dianalisis dengan kondisi Timnas Indonesia saat ini, tentunya bertarung melawan dua tim asal Asia Barat tersebut memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada bertanding melawan Malaysia.
Selain karena faktor kekuatan yang dimiliki dua negara tersebut bisa dikatakan masih berada di atas Malaysia, bertarung melawan negara asal Timur Tengah ini juga menjadi sebuah persiapan yang sempurna bagi Indonesia sebelum mereka kembali bertanding di ronde keempat babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia pada bulan Oktober mendatang.
Seperti yang kita ketahui bersama, berdasarkan informasi dari laman AFC, Indonesia menjadi satu-satunya negara dari kawasan non-Timur Tengah yang berhasil menjadi kontestan ronde keempat babak kualifikasi. Lima peserta lainnya, semuanya berasal dari kawasan Asia Barat, yakni Irak, Oman, Uni Emirat Arab, serta dua negara yang diplot menjadi tuan rumah oleh AFC, yakni Arab Saudi dan Qatar.
Meskipun secara permainan tiap negara memiliki gaya yang cenderung berbeda-beda, namun patut diingat, setiap kawasan memiliki semacam akar yang sama dalam mengembangkan sistem permainan mereka. Seperti contoh, negara-negara dari kawasan Asia Timur memiliki ciri khas bermain yang mengandalkan kecepatan yang dipadukan dengan kekuatan fisik.
Sementara Asia Tenggara, secara garis besar memainkan skema yang mengandalkan kelincahan para pemain sayap untuk kemudian mengajak berlari lawan-lawan mereka. Dan Asia Barat? Tentunya kita tahu, mereka memiliki kekuatan dalam hal fisik, serta keunggulan dalam postur tubuh, sehingga sistem permainan yang mereka kembangkan berbasis kekuatan tersebut.
Maka tak mengherankan, dalam pertarungan yang dijalani, negara-negara dari kawasan ini kerap memaksimalkan umpan-umpan silang ataupun bola atas yang berasal dari sisi-sisi permainan.
Dan yang menjadi keuntungan besar bagi Indonesia adalah, dengan menghadapi Kuwait dan Lebanon yang notabene memiliki pakem permainan yang mirip dengan lima negara calon lawan yang bakal dihadapi, tentunya hal tersebut menjadi sebuah kesempatan emas bagi Pasukan Garuda maupun jajaran pelatihnya untuk mempelajari kekuatan para calon lawannya, sekaligus menyiapkan kontra strategi yang tepat untuk diterapkan pada pertandingan aslinya nanti bukan?
Jadi, kalau dipikir-pikir, ternyata ada hikmahnya juga ya Malaysia menolak ajakan Indonesia untuk beruji tanding beberapa waktu lalu. Secara kini Indonesia malah memiliki dua lawan untuk dijadikan materi pembelajaran sebelum bertarung di bulan selanjutnya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
AFC Harusnya Malu, Negara yang Mereka Anak Tirikan Justru Jadi Penjaga Marwah Sepak Bola Asia
-
Piala Dunia 2026: Momen Gol Kedua Portugal, Nuno Mendes Curi Tendangan Bebas Milik Ronaldo?
-
Piala Dunia 2026: Jika Terus Dapatkan Suplai, CR7 Sejatinya Tak Kalah Garang Ketimbang Messi
-
Piala Dunia 2026: Messi Makin Menggila, Mengapa CR7 Masih Belum Temukan Performa Terbaiknya?
-
Kompak Jadi Aib, Piala Dunia 2026 Tak Ubahnya Panggung untuk Permalukan Anak Emas AFC
Artikel Terkait
-
Kode Keras! Thom Haye dan Jordi Amat Here We Go ke Persija?
-
10 Fakta Unik Lecce: Kenali Klub Peminat Jay Idzes, Dirumorkan Dikuasai Raffi Ahmad
-
Lirik Jay Idzes, Lecce Pernah Sia-siakan Pemain Timnas Indonesia
-
Media Asing Soroti Penurunan Karir Pemain Naturalisasi di Timnas Indonesia
-
Antara Liga Petani atau Plus Minus Liga 1: Thom Haye Bakal Berlabuh ke Mana?
Hobi
-
Piala Dunia 2026: Cetak Rekor, Erling Haaland Kian dekat Raih Gelar Topskor
-
Prediksi Curacao vs Pantai Gading: Misi Panas Kedua Tim di Philadelphia
-
Analisis Taktik Ekuador vs Jerman: Die Mannschaft Jaga Mental Juara
-
Turki vs Amerika Serikat: Ujian Mental di Akhir Fase Grup Piala Dunia 2026
-
Tumbang Lagi, Pelatih Korea Selatan Buka Suara soal Rumor Keracunan Makanan
Terkini
-
The Bodyguard From Beijing: Film Jet Li yang Bikin Masa Kecil Kita Berdebar-debar
-
5 Serial Netflix Terbaik 2026 yang Wajib Masuk Daftar Tontonan
-
Ulasan The Auditors, Kisah Seru Tim Audit yang Bekerja Layaknya Detektif
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Ego Anak, Penyesalan, dan Air Mata di Panti Jompo
-
Hospitality: Seni Memanusiakan Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis