Seiring dengan kesuksesan Timnas Indonesia U-17 menembus babak 8 besar gelaran Piala Asia U-17 beberapa waktu lalu, tiket putaran final gelaran yang lebih tinggi, yakni Piala Dunia U-17 pun resmi menjadi milik mereka.
Sesuai dengan informasi yang dirilis oleh laman FIFA dan AFC, Pasukan Garuda Muda menjadi salah satu dari 48 kontestan turnamen berlevel dunia yang rencananya akan digelar pada tanggal 3 hingga 27 November 2025 mendatang di Qatar.
Mau tak mau, dalam sisa waktu yang tak sampai setengah tahun, PSSI dan tim kepelatihan di Timnas Indonesia U-17 pun harus segera bersiap untuk membentuk tim terbaik.
Terbaru, sepertimana dilansir laman Suara.com (5/8/2025), pelatih Timnas Indonesia U-17, Nova Arianto memanggil sejumlah 30 nama pemain yang secara jangka panjang akan diproyeksikannya untuk menjadi bagian dari tim yang dibawanya ke Timur Tengah akhir tahun mendatang.
Namun, sebelum menjadi bagian dari skuat final yang bakal bertarung di turnamen kelas dunia akhir tahun nanti, nama-nama yang dipanggil oleh mantan asisten pelatih Shin Tae-yong tersebut bakal dicoba oleh coach Nova dalam sebuah turnamen bertajuk Piala Kemerdekaan 2025.
Iya, untuk mempersiapkan skuat dengan lebih matang, induk sepak bola Indonesia, PSSI menginisiasi adanya turnamen mini bertajuk Piala Kemerdekaan 2025, yang menurut rencana akan dimulai pada taggal 12 Agustus 2025 mendatang.
Dan setelah tarik-ulur terkait dengan tim peserta, akun instagram resmi PSSI maupun Timnas Indonesia akhirnya pada Selasa (5/8/2025) merilis empat negara yang akan menjadi kontestan di ajang ini, yakni Tajikistan, Uzbekistan dan Mali.
Piala Kemerdekaan U-17: Datangkan Lawan Berat tapi Kurang Tepat Sasaran
Jika dilihat dari komposisi tim yang akan bertarung di turnamen empat negara bertajuk Piala Kemerdekaan U-17 2025, sejatinya lawan-lawan yang bakal dihadapi oleh Indonesia dapat dikatakan cukup berat.
Dari tiga negara yang turut serta, semuanya berstatus sebagai tim peserta Piala Dunia U-17 di Qatar akhir tahun ini. Bersama dengan Indoensia, Uzbekistan dan Tajikistan adalah wakil dari benua Asia. Sementara Mali, merupakan satu dari sepuluh negara yang menjadi perwakilan dari benua Afrika.
Bahkan, status dari tim-tim tersebut juga tak bisa dikatakan sembarangan. Mali adalah runner-up gelaran Piala Afrika U-17 tahun ini, sementara Uzbekistan adalah juara Piala Asia U-17 yang sukses menghancurkan perlawanan tuan rumah Arab Saudi di partai final meskipun mereka bermain dengan penggawa yang lebih sedikit.
Namun demikian, meskipun ketiga tim tersebut adalah tim-tim kuat di kawasan masing-masing, sayangnya komposisi peserta Piala Kemerdekaan U-17 ini sama sekali tak "menyentuh" aspek pemetaan kekuatan para calon lawan Indonesia di turnamen sesungguhnya nanti.
Pasalnya, sepertimana yang telah dirilis oleh FIFA, pada gelaran Piala Dunia U-17 mendatang, Indonesia yang tergabung di grup H berada satu grup dengan Brazil, Honduras dan Zambia. Dari tiga calon lawan yang akan dihadapi oleh Indonesia di Piala Kemerdekaan U-17 nanti, mungkin hanya Mali saja yang memiliki tipikal permainan mirip dengan Zambia.
Sementara dua negara lainnya, yakni Uzbekistan dan Tajikistan, tentu tak memiliki gaya permainan yang mirip dengan tiga negara yang bakal menjadi lawan Indonesia di Piala Dunia U-17.
Jadi, meskipun Piala Kemerdekaan U-17 ini berisikan tim-tim kuat di kawasan masing-masing, namun secara garis besar, ada semacam pandangan yang kurang tepat dalam pemilihan lawan ini.
Karena seyogyanya, dalam tahapan persiapan jelang pertarungan yang sesungguhnya, jikapun ada turnamen yang digelar dalam rangka menyongsong gelaran tersebut, maka sejatinya pemilihan lawan pun harus pula disesuaikan dengan tim-tim yang setidaknya memiliki gaya permainan yang mirip dengan mereka yang bakal dihadapi di pagelaran sebenarnya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Kampanye Less Waste More Future dan Cara Yoursay Kirimkan Paket yang Bikin Saya Pengin Meniru
-
Selaku Bapak-Bapak yang Kerap PP Rembang-Tuban, Saya Menaruh Kejengkelan terhadap Hal-Hal Ini!
-
Cerita Bapak-Bapak PP Rembang-Tuban: Mengapa Saya Selalu Mengelus Dada Setiap Melintas di Jalur Ini?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan
-
Jadi Guru Pembimbing Sekaligus Juri adalah Dilema, Ibarat Sudah Kalah Duluan Sebelum Mulai Lomba
Artikel Terkait
-
Dirumorkan Gabung Crystal Palace, Mees Hilgers Penuhi Syarat Main di Premier League?
-
Pencapaian 3 Lawan Timnas U-17 di Piala Kemerdekaan 2025, Semuanya Lebih Mentereng!
-
3 Pemain Berbahaya Tajikistan yang Wajib Diwaspadai Timnas Indonesia U-17
-
Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Tajikistan di Piala Kemerdekaan 2025
-
Mengenal Kota Sassuolo, Markas Baru Jay Idzes dan Surga Wisata Sejarah di Italia
Hobi
-
Gagal di GP Prancis, Pecco Bagnaia Tatap Seri Catalunya dengan Optimis
-
Nyesek, Jorge Martin Bisa Tinggalkan Aprilia Walau Raih Gelar Juara Dunia?
-
Sprint Race GP Prancis 2026: Jorge Martin Menang, Marc Marquez Patah Tulang
-
Wow! Yamaha XMAX Disulap Jadi Motor Cyberpunk dari Serial Tokyo Override
-
Bukan Vespa, Scomadi Technica 200i Hadir dengan Gaya Adventure Klasik Retro
Terkini
-
Lebih Dekat dengan Sang Pencipta dalam Syahdu-nya Seni Merayu Tuhan
-
Jam Tangan Casio AQ-240 Resmi Meluncur: Desain Vintage, Harga Bersahabat
-
Sinopsis The Honest Realtor, Film Komedi Dibintangi Tomohisa Yamashita
-
Dari Murah ke Flagship, Ini 8 Tablet Xiaomi Terbaik 2026
-
Istilah Guru Honorer Dihapus, Bisakah PPPK Paruh Waktu Menjadi Solusi?