Musim 2025 seakan menjadi periode penuh ujian bagi Pecco Bagnaia. Alih-alih tampil konsisten di papan atas seperti dua musim sebelumnya, juara dunia dua kali itu justru sering diterpa masalah teknis maupun nasib buruk di lintasan.
Episode terbaru terjadi di ajang sprint race MotoGP 2025 kemarin. Sejak awal, tanda-tanda positif pada Bagnaia sebenarnya sudah terlihat. Dia memulai balapan dengan posisi yang cukup menjanjikan, yakni dari posisi ketiga di grid.
Dengan modal itu, ia seharusnya punya peluang besar untuk ikut berebut podium. Namun sayangnya, begitu lampu start padam, masalah mulai datang. Ban belakang motornya tampak kehilangan kendali, membuatnya tergelincir dan tidak mampu melakukan start dengan baik. Dalam sekejap, Pecco yang semula berada di barisan depan harus merosot jauh ke posisi ke-14.
Situasi semakin sulit baginya. Alih-alih bangkit, ia justru makin tertekan ketika Jorge Martin dan Joan Mir berhasil melewatinya.
Bagnaia sempat mencoba menjaga performa dan berharap bisa menemukan kembali stabilitas yang dia inginkan, tetapi masalah teknis semakin terlihat. Desmosedici GP25 kali ini tampak tidak mau bekerja sama.
Hingga lap kedelapan, Pecco masih bertahan di lintasan dengan usaha keras untuk mengendalikan situasi. Namun, ketidakstabilan motor semakin terasa.
Pada titik itu, Bagnaia akhirnya harus mengambil keputusan untuk memilih menghentikan balapan lebih awal daripada mengambil risiko yang bisa berujung kecelakaan.
Usai turun dari motor, ekspresi kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Ia kemudian menjelaskan bahwa sejak sebelum balapan dimulai, sudah ada perasaan janggal dengan kondisi motornya. Menurutnya, sesuatu tidak bekerja sebagaimana mestinya.
"Saya memulai dengan sangat buruk, tapi sudah di lap pemanasan saya merasa sangat aneh pada roda belakang. Saat keluar dari Tikungan 3 di lap pemanasan, saya menyadari ada yang aneh. Motor mulai banyak berputar, bahkan saat saya di lintasan lurus," ujar Pecco, dilansir dari laman Motorsport.
Awalnya ia masih mencoba optimis, berpikir mungkin hanya masalah kecil yang bisa teratasi saat balapan berjalan. Akan tetapi, ketika gejala itu justru semakin parah di lintasan, Bagnaia tidak punya pilihan selain mundur.
"Setelah tiga putaran, ban belakang saya benar-benar habis. Saya mengalami guncangan hebat di lintasan lurus. Lalu saya tiba di Tikungan 1 tanpa rem karena guncangan tersebut membuat kampas rem terbuka. Saya memutuskan untuk berhenti karena menurut saya lebih dari ini sudah teralu berat. Saya hanya menunggu penjelasan dari para teknisi, karena sejujurnya ini cukup aneh. Saya butuh penjelasan agar lebih tau apa yang harus dilakukan," tambahnya.
Keputusan tersebut memang berat, apalagi Pecco yang selama musim ini sudah mengalami banyak masalah. Wajar jika dia terlihat frustrasi saat memasuki garasi Ducati karena dia gagal meraih hasil terbaik di sirkuit yang sudah 3 tahun dikuasainya.
Namun, bagi Pecco, keselamatan tetap prioritas. Ia lebih memilih mengakhiri sprint race tanpa poin ketimbang memaksakan diri dan berisiko jatuh. Kejadian ini sekaligus menambah panjang daftar kesulitan yang ia alami musim ini.
Kini, tantangan terbesar bagi Bagnaia bukan hanya memperbaiki kondisi teknis motor, tetapi juga menjaga mentalitas tetap kuat di tengah musim yang penuh ketidakpastian.
Meski kecewa, ia sadar bahwa perjalanan masih panjang. Yang jelas, insiden di Austria menjadi pengingat bahwa keberhasilan di MotoGP tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga bagaimana seorang pembalap mampu bertahan menghadapi badai masalah yang datang silih berganti.
Baca Juga
-
Geser Status Calon Juara ke Marco Bezzecchi, Marc Marquez Atur Strategi?
-
Skincare Bisa 'Basi'? Kenali Oksidasi, Ciri, dan Cara Mencegahnya!
-
Mampir ke Warung Brodin Nganjuk: Menu Beragam, Rasa Tak Asal-asalan
-
Pedas! Fabio Quartararo Sebut Yamaha Tak Tau Cara Atasi Masalah Yamaha V4
-
Bak Siang dan Malam: Marco Bezzecchi Cetak Hattrick, Ducati Tak Berkutik
Artikel Terkait
-
De Javu, Jorge Martin Senang Bisa Salip Pecco Bagnaia Lagi
-
Finis P11, Fabio Quartararo: Saya Tak Menyangka Situasinya Akan Sesulit Ini
-
Sprint Race GP Austria 2025: Merayakan Kemenangan Satu Lusin Marc Marquez
-
Casey Stoner: Pecco Bagnaia Harus Bersyukur Jadi Rekan Setim Marc Marquez
-
Flashback, Pecco Bagnaia Ingin Bisa Kompetitif Seperti Dulu Lagi
Hobi
-
3 Motor Touring Segala Medan Paling Canggih, Siap Taklukkan Jalan Apa Pun
-
Usai 4 Kali Juara bersama Verstappen, Gianpiero Tinggalkan Red Bull ke McLaren
-
Geser Status Calon Juara ke Marco Bezzecchi, Marc Marquez Atur Strategi?
-
Mengapa Toyota Supra MK4 dan Nissan GT-R R34 Jadi Mobil Favorit Banyak Orang?
-
Penuh Visi, John Herdman Dorong Transformasi Sistem Pembinaan Usia Dini
Terkini
-
Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca
-
Liturgi dari Rahim Silikon
-
Ilusi Gaji UMR: Terlihat Besar di Atas Kertas, Hilang Begitu Saja Sebelum Akhir Bulan
-
Cerita Perantau di Batam: Gagal Makan Ayam Penyet, Ujung-ujungnya Mi Ayam Jadi Penyelamat
-
Pemanasan Sebelum Coachella! Pinky Up ala Katseye Bikin Hook-nya Nempel Terus di Kepala