Beberapa waktu belakangan ini, tensi kondusifitas dalam negeri tengah meningkat tajam. Demo-demo penyampaian aspirasi yang digelar oleh masyarakat luas, kini mulai keluar dari jalurnya dan lebih condong ke arah yang tak semestinya.
Alih-alih menyampaikan keluh-kesah kepada pihak yang berwenang, para peserta aksi justru kini berorientasi pada pengrusakan pun penjarahan. Sehingga, aksi-aksi yang semula merepresentasikan hidupnya demokrasi di negeri ini, justru beralih menjadi perbuatan yang mencederai demokrasi itu sendiri.
Parahnya lagi, sepertimana dilansir laman Suara.com (30/8/2025), aksi-aksi negatif yang sudah melenceng ini tak hanya berfokus pada satu kota atau daerah saja. Salah satu media berita terbesar di Indonesia tersebut menuliskan, aksi massa tersebut terjadi di berbagai wilayah seperti Jakarta, Makassar, Medan, Pontianak, Padang, Garut, Manokwari, Bandung, Solo, Palangka Raya, dan kota-kota besar lainnya seperti Surabaya dan Jogja.
Total, dalam laporan laman Suara.com, setidaknya ada 20 kota yang menggelar aksi yang dimulai pada pekan terakhir bulan Agustus 2025 lalu tersebut.
Aksi Massa yang Membuat Penggemar Timnas Indonesia Bisa Gigit Jari
Sayangnya, beragam kerusuhan yang kini tengah terjadi di berbagai wilayah tanah air tersebut juga turut memberikan dampak ke berbagai bidang. Bukan hanya menyisakan puing-puing hasil pengrusakan dan menyerang langsung pada bidang ekonomi kerakyatan, kericuhan-kericuhan yang terjadi belakangan ini juga berpotensi untuk membuat para penggemar Timnas Indonesia bakal gigit jari di bulan September ini.
Hal tersebut tentunya tak lepas dari rencana dua uji coba berstatus laga FIFA matchday bulan September yang sudah diagendakan oleh induk sepak bola Indonesia, PSSI. Sepertimana telah diinformasikan oleh berbagai media, Timnas Indonesia memang dijadwalkan akan menjadi tuan rumah untuk dua pertarungan uji coba resmi berstandar FIFA pada bulan September.
Disadur dari unggahan akun instagram @seasiagoal, Pasukan Merah Putih dijadwalkan untuk menjamu tim asal Asia Timur, China Taipei pada tanggal 5 September 2025, dan berlanjut di tanggal 8 September 2025 dengan menjamu Timnas Lebanon dari kawasan Asia Barat.
PSSI sendiri jauh-jauh hari sudah memplot Gelora Bung Tomo di Surabaya sebagai venue untuk dua pertandingan ini. Dan seperti yang kita ketahui bersama, Surabaya sendiri masuk dalam daftar kota yang paling masif kerusakannya dalam rentang kerusuhan akhir bulan Agustus ini.
Memanasnya situasi dalam negeri, khususnya Surabaya tentunya membuat agenda uji coba yang telah diketok oleh PSSI bisa menjadi berantakan. Faktor keamanan dalam negeri yang saat ini tak kondusif dan kerap terjadi bentrokan, tentunya membuat negara manapun mengkhawatirkan rakyatnya jika mereka berada di tanah air.
Bahkan, tak sedikit negara yang pada akhirnya membuat larangan berkunjung ke Indonesia, mengingat keamanan warga negara mereka bisa saja terenggut sewaktu-waktu dengan kondisi saat ini.
Hal inilah yang juga dikhawatirkan oleh para penggemar Timnas Indonesia. Meskipun belum ada pemberitaan resmi dari pihak pemerintah Taiwan dan Lebanon, namun juka situasi dalam negeri Indonesia terus-menerus seperti ini, bukan tak mungkin Timnas kedua negara tersebut bakal dilarang untuk hadir memenuhi undangan Indonesia.
Hal yang sama pun juga terjadi di pihak PSSI. Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi federasi sepak bola sebuah negara untuk memberikan jaminan 100 persen bagi tim yang mereka undang, termasuk di dalamnya adalah keselamatan sebagai yang paling utama.
Tentunya sangat sulit bagi PSSI sendiri untuk menjaminkan hal itu kepada pemain kedua Timnas tersebut dengan situasi yang seperti saat ini.
Kalaupun mereka berani menjamin hal tersebut kepada para penggawa Taiwan dan Lebanon, belum tentu juga mereka akan hadir ke Indonesia karena bisa jadi pemerintah di kedua negara tersebut mengeluarkan larangan perjalanan ke tanah air.
Dan jika hal itu terjadi, maka akan sangat mungkin para penggemar setia Timnas Indonesia akan gigit jari imbas batalnya pertarungan Skuat Garuda melawan Taiwan dan Lebanon nanti.
Baca Juga
-
Desa Sejahtera Astra Les dan Iklim Pendidikan Mandiri yang Tak Melulu Bertumpu Pemerintah
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
-
Dua Sisi Kebijakan Prabowo: Antara Ambisi Ekonomi dan Matinya Perhatian pada Pendidikan
-
Bongkar Tuntas Final Piala Dunia 2026: Kenapa Tudingan Konspirasi Argentina Mengalah Itu Konyol?
Artikel Terkait
-
4 Hari Lagi, Miliano Jonathans Sumpah WNI di Dekat Tanah Leluhurnya
-
Prabowo Umumkan Kondisi Negara, Semua Pimpinan Parpol Hadir! Apa yang Dibahas?
-
Prabowo Sebut Ada Gejala Makar di Balik Aksi Massa, Ada Apa Sebenarnya?
-
Dinginkan Tensi Politik, Prabowo Minta DPR Gelar Dialog Massa: Langsung Undang Mereka
-
TNI Turun Tangan, Pasukan Kodam Jaya Sisir Jakarta, Massa Aksi di Senayan Langsung Dibubarkan
Hobi
-
Tak Gentar! Jorge Martin Yakin Bisa Pertahankan Posisi Pemimpin Klasemen
-
Masuk Grup Neraka Babak Kualifikasi, Indonesia Bakal Susah ke Piala Asia U-17?
-
Persebaya Siap Taklukkan Cuaca Panas di Bhayangkara, Bisa Rebut Tiga Poin?
-
Jelang Hadapi Laos Malam Ini, Nova Arianto Pusing Atur Strategi Timnas U-20
-
Fabio Quartararo Dilarang Ikut Uji Coba Motor Yamaha, Sudah jadi Musuh?
Terkini
-
Ulasan Mangir: Intrik Kekuasaan dan Tragedi di Tanah Jawa
-
Demokrasi Terbalik: Rakyat Memilih, Rakyat Membayar, Kenapa Pejabat Dipuja?
-
Beban Moral Busana Perempuan Desa: Ketika Kain Memicu Stigma
-
NIPPON SANGOKU Umumkan Sekuel, Footage Baru Perlihatkan Aoteru Versi Dewasa
-
4 Sheet Mask Green Tangerine untuk Kulit Mulus, Cerah, dan Bebas Kusam