Induk sepak bola Indonesia, membuat sebuah keputusan yang cukup mengejutkan terkait nasib pelatih Timnas Indonesia U-22 di SEA Games, Indra Sjafri. Setelah gagal menembus babak semifinal di ajang dua tahunan tersebut, PSSI mengumumkan bahwa kebersamaan mereka dengan pelatih asal Sumatra Barat tersebut pada akhirnya menemukan titik persimpangan.
Disadur dari laman Suara.com (16/12/2025), karier kepelatihan Indra Sjafri sendiri memang terbilang suram di tahun 2025 ini. Sebelum gagal total di ajang SEA Games, pelatih yang sukses membawa Indonesia merengkuh gelar Piala AFF U-19 edisi 2013 tersebut juga terpantau tak bersinar saat menangani Timnas Indonesia di Piala Asia U-20 dan turnamen-turnamen lainnya.
Namun sayangnya, pemecatan Indra Sjafri dari kursi kepelatihan di Timnas Indonesia kelompok umur ini terkesan sangat tiba-tiba dan cenderung terlalu gegabah. Memang, coach Indra tak bisa memberikan racikan terbaiknya di SEA Games 2025 atau mungkin di pertandingan lainnya di tahun ini.
Bahkan, jika dilihat sedikit lebih teliti, melepas Indra Sjafri dengan cara memecatnya adalah sebuah antiklimaks dari perjalanan panjang sang pelatih dalam mengabdi kepada dunia sepak bola tanah air.
Secara perasaan, memecat seorang pelatih yang telah memberikan 14 tahun pengabdiannya kepada tanah air tentunya menjadi sebuah hal yang cenderung kurang manuasiawi. Bukan melulu terkait profesionalisme, namun dala 14 tahun perjalanan kariernya di Timnas Indonesia, coach Indra berkali-kali membawa kejayaan bagi tim besutannya.
Dalam catatan laman transfermarkt, coach Indra kali pertama masuk dalam lingkaran PSSI pada 1 Januari 2011 ketika ditunjuk oleh federasi untuk menangani Timnas Indonesia U-16.
Di era inilah dasar-dasar pakem permainan khas Indra Sjafri mulai diimplementasikan kepada anak-anak muda didikannya Hingga pada akhirnya di tahun 2013, dirinya berhasil membawa Pasukan Garuda U-19 angkatan Evan Dimas menjadi yang terbaik di kawasan melalui label juara Piala AFF U-19.
Pasca kesuksesannya tersebut, pelatih yang dikenal dengan gaya scouting blusukannya tersebut mulai naik turun di Timnas Indonesia kelompok umur. Maka tak mengherankan jika dalam 14 tahun pengabdiannya tersebut, coach Indra mewarnainya dengan meraih gelar Piala AFF U-22 di tahun 2019, hingga merengkuh medali emas SEA Games di Kamboja 2 tahun lalu.
Bukan hanya sebagai pelatih, pengabdian Indra Sjafri di lingkaran PSSI juga sempat diwarnai dengan jabatan Direktur Olah Raga pada tahun 2019-2020 lalu, sebelum pada akhirnya dilepas oleh PSSI dan kembali dipercaya menjadi nakhoda Timnas Kelompok Umur beberapa waktu kemudian.
Jadi, ketika tersiar kabar pelepasan Indra Sjafri oleh PSSI ketika dirinya tengah berada di fase penurunan pencapaian, sejatinya hal itu terlihat kurang bijak. Karena sejatinya coach Indra bisa saja dilepas oleh federasi (atau mungkin meminta untuk berhenti melatih) ketika dirinya sukses membawa kejayaan bagi Pasukan Garuda Muda dua tahun lalu.
Kalau seperti ini kan ibarat kata pengabdian 14 tahun dari sang pelatih yang concern untuk memajukan persepakbolaan tanah airnya berakhir dengan cara yang antiklimaks ya!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Prancis vs Senegal: Tuntasnya Dendam Kekalahan 24 Tahun yang Sempat Bikin FIFA Ubah Regulasi
-
Piala Dunia 2026: Duel Senegal Vs Prancis dan Sepenggal Kenangan Masa Remaja yang Mengecewakan
-
Vibes Piala Dunia 2026 Masih Anyep, FIFA Harusnya Lirik 2 Potensi Besar Ini untuk Dimaksimalkan
-
Tiga Poin Australia dan Permainan Pragmatis Ala STY yang Tak Haram Dimainkan di Guliran Piala Dunia
-
Piala Dunia 2026 dan Poin Perdana Qatar yang Sejatinya Tak Begitu Membantu Mereka di Kontestasi
Artikel Terkait
-
Kumpulan Prestasi John Herdman, Sudah Lebih dari Layak Jadi Pelatih Timnas Indonesia
-
Jadi Calon Kuat Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman Punya Kesamaan Taktik dengan STY
-
Apa Kabar Elkan Baggott? Sempat jadi Andalan Timnas Indonesia Kini Tenggelam
-
Elkan Baggott Menanti Kejelasan, Opsi Peminjaman Januari Menguat
-
John Herdman Tolak Tawaran Jamaika Demi Kursi Pelatih Timnas Indonesia
Hobi
-
Mentalitas Baja Samurai Biru: Mengapa Jepang Layak Jadi Kuda Hitam Paling Berbahaya
-
Lewis Hamilton Podium ke-106 Bersama Ferrari, Rekornya Makin Tak Tersentuh!
-
Portugal vs Kongo Piala Dunia 2026: Analisis Pemain, Skor dan Taktik Laga
-
Sejarah Tercipta, Wasit Wanita Pimpin Laga di Ajang Piala Dunia 2026
-
Buntut Ejekan ke Son Heung-min, Timnas Korea Selatan Boikot Media Lokal