Sekar Anindyah Lamase | M. Fuad S. T.
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman (dok. Photosports)
M. Fuad S. T.

Setelah lebih dari dua bulan berlalu tanpa adanya nakhoda di tubuh Timnas Indonesia senior, induk sepak bola Indonesia alias PSSI akhirnya mengumumkan secara resmi sosok pelatih di Pasukan Garuda Utama.

Dilansir laman Suara.com (4/1/2026), pelatih berkebangsaan Inggris yang juga eks pelatih Timnas Kanada, John Herdman akhirnya dipilih oleh federasi untuk menggantikan pos yang ditinggalkan oleh Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert.

Kedatangan John Herdman ke Timnas Indonesia sendiri sejatinya disambut dengan cukup antusias. Karena seperti yang telah diinformasikan oleh berbagai media, eks pelatih Selandia Baru ini memiliki portofolio yang cukup mengesankan dengan membawa Kanada menjadi kontestan di Piala Dunia 2022 lalu.

Sayangnya, di balik kesuksesan Herdman membawa Kanada ke panggung Piala Dunia, ternyata ada jejak minor yang menyertai perjalanan karier sang pelatih.

Sepertimana dilansir laman sportsnet.ca dan rnz.co.nz, Herdman pernah tersandung sebuah skandal penggunaan drone secara ilegal untuk mengintip latihan tim-tim lawan yang di kemudian hari dikenal publik dengan nama "dronegate". 

Berdasarkan informasi dari dua media tersebut, Herdman ternyata tak hanya melakukan skandal tersebut ketika menangani Timnas Kanada. Namun sudah menjalankannya ketika masih membersamai Selandia Baru.

Namun ternyata, jejak John Herdman yang sempat tersandung kasus dronegate tersebut justru membuat dirinya semakin cocok untuk menjadi pelatih Timnas Indonesia. Pasalnya, menurut sejarah yang ada, Timnas Indonesia justru lebih sukses ketika dilatih oleh sosok nakhoda yang kontroversial, alih-alih pelatih yang "lempeng galeng" alias lurus-lurus saja.

Pembuktiannya tentu saja terlihat dari dua sosok pelatih terakhir sebelum John Herdman, yakni STY dan Patrick Kluivert. Ketika keduanya melatih Pasukan Garuda, STY dan Kluivert seperti menampilkan 2 sifat berbeda yang saling bertolak belakang.

Jika STY kerap memberikan pernyataan yang "menantang" tim lawan dan memancing kontroversi, maka tidak demikian halnya dengan Kluivert. Selama kurang lebih 10 bulan menangani Pasukan Garuda, Kluivert justru lebih sering memberikan komentar yang mencerminkan sikap "anak baik-baik" tanpa sekalipun berani memberikan statemen yang bisa membuat panas pihak lawan.

Dengan kata lain, ketika STY dengan lugas mengatakan "kami akan mengalahkan mereka" tak peduli tim manapun yang akan dihadapi, Kluivert justru seperti mengatakan hal yang standar seperti "mereka tim bagus, dan kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik.".

Dan hal inilah yang dibutuhkan oleh Timnas Indonesia dari John Herdman ini. Dengan beragam kontroversi yang dimilikinya, Herdman seolah datang dengan membawa imej sebagai "bad boy" yang sulit diatur seperti STY, yang mana nantinya akan membangun motivasi internal dalam timnya dengan celetukan-celetukan menantang bagi tim lawan.

Hal itu memang perlu, karena setidaknya dengan memberikan statemen yang menantang seperti itu, selain akan membuat motivasi para pemainnya menanjak seperti ketika STY melakukannya, juga membuat tim lawan akan berada dalam zona intimidasi.

Jadi, kini kita tinggal menunggu waktu bagaimana John Herdman ini menggoreng lawan-lawannya bersama Timnas Indonesia nanti. 

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS