Kesalahan yang dilakukan Jay Idzes dalam pertandingan Sassuolo melawan Juventus kembali membangkitkan pembicaraan lama, yaitu bagaimana publik Indonesia menghargai pemain yang berkiprah di luar negeri. Meskipun satu kesalahan tersebut berujung pada kebobolan, reaksi yang muncul justru jauh lebih besar daripada sekadar satu momen di lapangan.
Sebagai kapten Timnas Indonesia yang bermain di kompetisi Eropa, Jay Idzes tengah menghadapi tekanan yang tidak mudah. Ia tidak hanya menanggung tanggung jawab profesional terhadap klubnya, tetapi juga menjadi representasi harapan masyarakat Indonesia. Dalam pikiran banyak penonton, performa Idzes sering kali dianggap sebagai indikator kualitas sepak bola Tanah Air.
Namun, ekspektasi ini sering kali tidak selaras dengan pemahaman konteks yang tepat. Bermain di liga Eropa berarti menghadapi persaingan ketat, tekanan tinggi, dan lawan yang berkualitas. Dalam situasi seperti itu, kesalahan adalah bagian dari permainan, bahkan bagi pemain terbaik dunia sekalipun. Sayangnya, ketika kesalahan dilakukan oleh pemain Indonesia, reaksinya cenderung lebih keras dan berlebihan.
Sebagai penonton Indonesia, saya melihat adanya penilaian yang terlalu ekstrem terhadap pemain yang berada di luar negeri. Ketika mereka menunjukkan performa baik, pujian datang sebentar. Namun, jika terjadi kesalahan, kritik langsung berubah menjadi hukuman. Media sosial memperparah suasana ini dengan mengubah satu momen blunder menjadi narasi panjang tentang "tidak layak", "overrated", atau bahkan menyentuh identitas nasional.
Faktanya, sepak bola adalah permainan kolektif. Kesalahan di lini belakang tidak muncul secara tiba-tiba. Ia muncul dari sistem, koordinasi tim, dan situasi tertentu. Mengisolasi satu pemain sebagai sasaran empuk justru mencerminkan emosi penonton, bukan analisis yang objektif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kita sebagai publik masih sedang belajar menjadi suporter yang dewasa. Mendukung pemain yang bermain di luar negeri bukan berarti tidak bisa menilai kesalahan, tetapi juga memahami bahwa proses pertumbuhan selalu diiringi kegagalan. Jika setiap kesalahan dihakimi, ruang untuk belajar dan berkembang justru akan lebih sempit.
Jay Idzes mungkin melakukan kesalahan. Namun, hal yang lebih penting adalah cara kita menanggapinya. Apakah kita ingin pemain Indonesia berani berkiprah di level tertinggi, atau justru takut mengambil risiko karena tekanan dari negara sendiri?
Bagi saya, momen seperti ini adalah kesempatan untuk berpikir kembali. Sepak bola bukan hanya soal hasil, melainkan juga tentang proses, mentalitas, dan dukungan yang sehat. Jika ingin melihat pemain Indonesia bertahan dan berkembang di Eropa, perubahan cara berpikir dari publik adalah langkah awal yang sangat penting.
Artikel Terkait
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Deretan Penghargaan Punya John Herdman Sebelum Tangani Timnas Indonesia
-
Kesaksian dari Ruang Analisis: John Herdman Bunglon Taktik yang Sulit Ditebak Lawan
-
Sassuolo Dihajar Juventus, Ini Momen Blunder Jay Idzes
-
John Herdman Wajib Lolos 3 Ujian Berat di 2026 Jika Nasibnya ingin Aman di Hati Fans
Hobi
-
John Herdman Cari Asisten Pelatih Lokal, Meski Layak, Sebaiknya Jangan Nova Arianto!
-
Pengamat Ini Sebut John Herdman Miliki Dua Sisi Kepribadian, Apa Saja?
-
Usung Permainan Intensitas Tinggi, Kepelatihan John Herdman Jadi Akhir Era Pemain Uzur di Timnas?
-
Tak Perlu Tahunan, John Herdman Bisa Bawa Indonesia Juara Hanya dalam Hitungan Bulan!
-
Rekap Malaysia Open 2026 Day 2: Jojo Menang Straight Game, Alwi Kalah Rubber
Terkini
-
Hantu Tanpa Wajah Meregang Nyawa
-
Matcha Kemasan Infus Viral, Menarik tapi Picu Dilema Etik Keamanan Pangan
-
Choi Woo Shik dan Gong Seung Yeon Akan Bintangi Film Baru, Number One
-
Film Musuh Dalam Selimut: Kisah Perselingkuhan dari Orang Terdekat
-
Film Die My Love: Menghadirkan Drama tentang Depresi yang Brutal!