Hayuning Ratri Hapsari | Rana Fayola R.
Asisten pelatih Timnas Indonesia, Cesar Meylan. (Instagram/@cesarmeylan)
Rana Fayola R.

John Herdman secara resmi memboyong rekan kerja setianya untuk memegang peran kunci dalam transformasi skuad Garuda. Sosok tersebut adalah Cesar Meylan, seorang pakar performa fisik yang kini memikul tanggung jawab besar untuk meningkatkan standar atletis para pemain Timnas Indonesia.

Kehadiran Meylan di tanah air bukanlah sebuah kebetulan. PSSI secara khusus menunjuknya sebagai asisten Herdman dengan fokus utama di bidang kebugaran, kekuatan, dan daya tahan fisik. Penunjukan ini menandai berlanjutnya kemitraan strategis antara keduanya yang telah terjalin selama lebih dari satu dekade di berbagai belahan dunia.

Pengamat sepak bola nasional, Mohamad Kusnaeni atau yang akrab disapa Bung Kus menilai langkah ini sangat krusial bagi masa depan tim nasional. Menurutnya, sebagai nakhoda baru, Herdman memang membutuhkan orang kepercayaan yang sudah sangat memahami filosofi dan cara kerjanya di lapangan.

Bung Kus menjelaskan bahwa latar belakang Meylan sebagai pelatih fisik akan sangat membantu implementasi gaya bermain yang diinginkan Herdman. Pasalnya, pelatih asal Inggris tersebut dikenal senang menerapkan permainan dengan intensitas tinggi dan tekanan (pressing) yang ketat sepanjang pertandingan.

"Filosofi sepak bola Herdman yang banyak menekankan permainan pressing dan high intensity butuh dukungan fisik dan stamina pemain yang memadai," ujar Bung Kus saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Rekam jejak kolaborasi mereka memang tidak perlu diragukan lagi. Kerja sama keduanya telah membuahkan berbagai prestasi, termasuk pencapaian bersejarah saat membawa Kanada menembus Piala Dunia 2022 di Qatar. Itu adalah penampilan kedua Kanada di panggung dunia setelah menanti selama 36 tahun.

Tak hanya di sepak bola pria, Meylan dan Herdman juga sukses mengawal tiga tim putri di ajang Piala Dunia Wanita pada edisi 2007, 2011, dan 2015. Pengalaman internasional yang luas inilah yang diharapkan dapat ditularkan ke dalam skuad Garuda untuk mendongkrak performa Jay Idzes dan kawan-kawan.

Menuliskan Sejarah Baru di Asia

Cesar Meylan sendiri merasa bahwa situasi di Indonesia saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi Kanada beberapa tahun lalu. Ia melihat potensi besar pada talenta lokal maupun pemain internasional yang merumput di Eropa, yang dianggapnya sebagai modal kuat untuk bangkit.

"Saya bisa melihat bahwa situasinya sangat mirip dengan Kanada 4-5 tahun lalu sebelum mereka lolos ke Piala Dunia. Dan, itulah yang benar-benar menarik untuk datang ke sini dan menuliskan sejarah," ungkap Meylan saat jumpa pers di Jakarta.

Sebagai "tangan kanan" Herdman, Meylan memiliki kualifikasi yang sangat mumpuni. Ia adalah seorang ilmuwan olahraga yang menyandang gelar Doktor (PhD) di bidang Strength & Conditioning dari AUT University, Selandia Baru. Keahliannya mencakup pengelolaan beban latihan hingga pencegahan cedera yang sangat vital bagi pemain elite.

Reputasi global Meylan juga diperkuat dengan gelar Sport Scientist of the Year 2021. Dengan bekal ilmu tersebut, ia bertugas memastikan bahwa pemain Timnas Indonesia mampu tampil konsisten di level tertinggi tanpa mengalami penurunan performa yang drastis akibat kelelahan.

Bung Kus meyakini bahwa tugas utama Meylan adalah menaikkan level kebugaran pemain agar Herdman bisa leluasa meracik strategi.

Ia menjelaskan, "Dengan kebugaran yang memadai barulah Herdman bisa leluasa menerapkan filosofi sepak bolanya di timnas Indonesia."

Tantangan terdekat bagi duo ini adalah agenda FIFA Series saat Indonesia menjadi tuan rumah pada Maret mendatang. Setelah itu, rangkaian FIFA Match Day dan Kejuaraan ASEAN pada bulan Juli telah menanti sebagai ajang pembuktian awal sebelum mereka berlaga di Piala Asia 2027 di Arab Saudi.

Ambisi Meylan tidak berhenti di level regional saja. Ia secara terbuka menyatakan target besarnya untuk membawa Indonesia melangkah lebih jauh di masa depan.

"Saya sangat antusias bekerja dengan seluruh negara Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia pada tahun 2030," tutur pria berusia 45 tahun tersebut.

Meski antusiasme membumbung tinggi, Bung Kus mengingatkan publik untuk tetap berpijak di bumi dan memberikan waktu bagi tim pelatih.