Saat ini, Indonesia telah memiliki lebih dari 170 klub sepak bola perempuan yang tersebar di berbagai penjuru, dari Sabang sampai Merauke. Namun, di balik angka yang masif tersebut, masih tersimpan realita pahit tentang kesenjangan akses, pendanaan, hingga ketidakjelasan masa depan bagi para atletnya.
Dalam diskusi “Breaking Barriers, Building Future” di Kedutaan Besar Inggris Jumat (6/3/2026), terungkap bahwa perjuangan atlet perempuan bukan sekadar mencetak gol, melainkan mendobrak tembok struktural yang hingga saat ini masih berdiri sangat kuat.
Mengejar Mimpi Tanpa Tujuan yang Jelas
Salah satu hambatan terbesar bagi atlet perempuan adalah ketiadaan kompetisi profesional yang berkelanjutan. Ketika sektor putra memiliki liga yang terstruktur, sektor putri justru terjebak dalam ketidakpastian.
"Untuk liga sepak bola profesional itu gak ada. Nah otomatis kalau liga tertingginya tidak ada, liga-liga yang di bawahnya akan menuju ke mana? Otomatis gak ada tujuannya," ungkap Women Program Manager and Head Coach Inspire Indonesia, Sicilia Setiawan.
Tanpa adanya liga tertinggi sebagai kasta utama, klub-klub di daerah akan kehilangan arah untuk melakukan pembinaan. Ini pada akhirnya dapat memadamkan semangat talenta muda sebelum mereka sempat berkembang.
Sekadar Ikut Tanpa Persiapan Matang
Struggle lain yang dirasakan atlet adalah kurangnya kepercayaan dari manajemen klub sendiri. Sering kali, sebuah tim perempuan dibentuk hanya untuk syarat administratif atau sekadar "ada", tanpa didukung manajemen yang profesional. Pemain Timnas Futsal Wanita Indonesia, Novita Murni Piranti merasakan betul bagaimana timnya sering kali diperlakukan setengah hati.
"Klub di awal kayak menyediakan, ayo kita ikut, tapi hanya sekadar ikut, tidak dengan persiapan dan proses. Nanti di tengah-tengah, kalau kelihatan timnya sudah tiba-tiba mau kalah, kita mundur. Jadi, kayak tidak mengusahakan kalau misalnya perempuan juga mampu," keluh Novita.
Minimnya investasi pada proses dan persiapan membuat para atlet perempuan sulit mencapai performa puncak karena mereka terus-menerus dihantui oleh ketidakpastian nasib klub di pertengahan musim pertandingan.
Standar Ganda Antara Nafkah dan Hobi
Masalah klasik yang paling mencekik adalah aspek finansial. Di Indonesia, ada stereotip yang sangat kuat bahwa olahraga adalah dunia laki-laki, sehingga nilai ekonomi atlet perempuan pada akhirnya juga dipandang sebelah mata. Komisioner Komnas Perempuan, RR. Sri Agustini menyoroti adanya diskriminasi berbasis gender dalam pemenuhan hak finansial.
"Dukungan finansial dibedakan dan lebih banyak diberikan ke laki-laki karena dianggap lebih profesional, sedangkan perempuan ya udah hanya sebagai olahraga (hobi). Laki-laki dianggap pencari nafkah utama dan perempuan sebagai tambahan," tuturnya.
Pandangan ini menciptakan jurang pendapatan yang sangat lebar serta fasilitas yang timpang, seolah-olah keringat atlet perempuan tidak memiliki nilai ekonomi yang setara dengan atlet laki-laki.
Membangun Ekosistem yang Inklusif
Moderator diskusi, Purnama Ayu Rizky, menekankan bahwa atlet perempuan masih sering berhadapan dengan risiko Kekerasan Berbasis Gender (Gender-Based Violence). Komnas Perempuan mencatat banyak kasus, mulai dari pelecehan verbal non-fisik hingga kekerasan fisik yang sering kali terjadi di tempat Latihan. Namun kenyataannya, fenomena ini minim mekanisme pelaporan yang melindungi korban.
Penyelesaian masalah kesenjangan ini tidak bisa dilakukan sendirian oleh para atlet. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan lebih dari 170 klub yang ada saat ini memiliki wadah kompetisi yang jelas dan berkelanjutan.
Sicilia menegaskan bahwa dukungan kolektif adalah kunci untuk meruntuhkan tembok penghalang tersebut. "Kalau ada dukungan dari semua pihak, saya yakin kita bisa tackle bareng-bareng. Kita bisa breaking barriers bareng-bareng untuk bisa mengatasi masalah ini. Karena masalah ini sudah cukup kritis sekali ya," tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Freddie Brunt dari Kedutaan Besar Inggris melihat bahwa potensi besar Indonesia sebagai negara sepak bola harus didukung dengan pembukaan akses yang lebih luas.
"Indonesia adalah negara sepak bola yang sangat besar. Saya mempunyai pemikiran akan ada masa depan yang cerah. Menggunakan platform (kolaborasi) semacam itu untuk membangun kolaborasi lokal bisa sangat ampuh. Tetapi tetap membutuhkan ambisi dan keahlian di lapangan," tutup Freddie.
Baca Juga
-
Ibadah Alam GKJ Baturetno ke-9: Memaknai Api, Kematian, dan Daya Hidup dari Balik Area Makam
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
Artikel Terkait
-
Bakti Tanpa Gaji Anak Perempuan: Karier Melesat, Tapi di Rumah Otomatis Jadi Perawat
-
UBL Dukung Atlet Berprestasi Lewat Beasiswa, Ada Penggawa Timnas Futsal Indonesia
-
Hasil Undian Piala AFF Futsal 2026: Indonesia Masuk Grup B, Bareng Australia hingga Malaysia
-
Skenario Dramatis! Timnas Futsal Putri Indonesia Lolos ke Semifinal Piala AFF Futsal Putri 2026
-
Hector Souto Ungkap Alasan Panggil Nama-nama Baru untuk Piala AFF Futsal 2026
Hobi
-
MotoGP Australia 2026 Gagal Total: Selamat Tinggal Phillip Island!
-
Marc Marquez Pimpin Klasemen Sementara, Gelar Juara Dunia Sudah di Tangan?
-
Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar
-
MotoGP Australia 2026 Batal! Marquez Tetap Kokoh, Harapan Veda Ega Pupus
-
Jadwal MotoGP Malaysia 2026: Apakah Jorge Martin Bisa Membalikkan Keadaan?
Terkini
-
Connor Storrie Negosiasi Peran Antagonis di Film Ghost Rider MCU
-
Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
-
Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas
-
4 Moisturizer Berbahan Honey Extract Berikan Efek Hidrasi agar Wajah Lembap