Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati belakangan ini viral kembali dan sukses menembus cetakannya yang ke-100.
Di balik narasinya yang hangat dan jenaka, dalam proses penulisannya, Brian Khrisna bekerja sama dengan psikiater dan dosen psikologi untuk melakukan riset dan mengawal isi.
Kerja sama ini melahirkan beberapa saran aplikatif yang disisipkan secara halus dalam cerita untuk membantu seseorang ketika kondisi mentalnya sedang memburuk.
"Novel ini selalu diawasi oleh satu psikiater dan satu dosen psikolog," kata Brian.
Ia ingin memastikan bahwa isu kesehatan mental yang diangkat tidak ditulis secara sembarangan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan bisa tetap aman dan edukatif.
Dalam acara syukuran yang digelar di Gramedia Jalma, Sabtu (23/5/26), ia membongkar dapur rahasia di balik terciptanya karakter Ale, sang tokoh utama. Narasi depresi yang diceritakan rupanya bukan hasil imajinasi kosong, melainkan sebuah kompilasi wawancara dari penyitas depresi.
"Novel Mie Ayam ini didapat dari tiga orang. Ini dari kumpulan wawancara dan cerita teman-teman penyintas depresi akut," ungkap Brian. Ia juga menceritakan betapa beruntungnya momen pertemuan dengan salah satu penyintas di Yogyakarta, sebab sosok asli Ale tersebut hanya bersedia meluangkan waktu satu kali saja.
Memahami Kondisi Pembaca
Di balik kesuksesan tersebut, Brian menyadari bahwa setiap pembaca memiliki ketahanan emosional yang berbeda. Sebagai penulis yang bertanggung jawab, ia secara terbuka mengingatkan audiensnya untuk tidak memaksakan diri jika narasi di dalam bukunya memicu trauma personal (triggering). Menghadapi masa-masa sulit, menurut Brian, kejujuran pada diri sendiri lebih penting daripada berpura-pura kuat di hadapan orang lain.
"Kalau triggering, saran saya adalah berhenti dulu. Jangan memaksakan untuk berjalan ketika kamu terluka. Jangan sok dewasalah di depan orang," tegas Brian.
"Ketika kamu down banget, cepet-cepet jalan kaki. Psikolog juga bilang perbanyak jalan kaki, rapihkan kamar," tambah Brian.
Tindakan fisik sederhana seperti bergerak dan menata ruang personal ternyata memiliki dampak psikologis nyata untuk membantu mengurai benang kusut di dalam pikiran.
Melalui pendekatan yang jujur, novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bisa menjadi ruang yang aman bagi pembacanya. Novel ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan mental tidak harus terasa kaku, melainkan bisa disampaikan lewat kehangatan cerita sehari-hari.
Baca Juga
-
Dari Novel ke Layar Lebar, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Bawa Pesan Penting soal Kesehatan Mental
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Menolak Romantisasi Seni Gratisan yang Mematikan Seniman: Jeritan Jaran Abang dari Kota Budaya
-
GIVERS: Menjembatani Ketimpangan, Membawa Senyum Melalui Surplus Pangan
-
Silent Book Club Jakarta: Cara Baru Menuntaskan Buku di Tengah Keramaian
Artikel Terkait
News
-
Lewat Lensa Kamera, APC Angkat Cerita Kaum Marginal dalam Pameran Fotografi
-
Dari Novel ke Layar Lebar, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Bawa Pesan Penting soal Kesehatan Mental
-
25 Tahun Berdiri, Apa Rahasia Komunitas Indo Harry Potter Tetap Eksis di Era Gen Z?
-
Connect Community: Bergerak dari Kampus, Berdampak bagi Remaja Desa
-
Mengayuh Inspirasi ke Sekolah: Konsistensi Guru Matematika dalam Gaya Hidup Bike to Work
Terkini
-
Checkout Dulu, Pikir Belakangan: Tren Paylater di Kalangan Generasi Muda
-
5 Moisturizer dengan Kandungan Multi-Ceramide untuk Memperkuat Skin Barrier
-
Poco C81 Pro Hadir di Indonesia, HP Rp 1 Jutaan dengan Baterai 6.000 mAh dan Layar 120Hz000 mAh
-
Di Balik Game yang Seru: Lika-Liku Pekerja Game Tester di Beta Testing
-
Toko yang Menjual Ingatan Buruk