Salah satu insiden yang cukup menegangkan di balapan sprint race MotoGP Amerika 2026 terjadi pada Marc Marquez dan Fabio Di Giannantonio.
The Baby Alien menganggap insiden ini sebagai kesalahan besar, setelah sebelumnya mengalami kecelakaan yang cukup parah di sesi FP1.
Marc yang start dari P6 berhasil menungguli Diggia ketika balapan baru saja dimulai, sementara itu, Diggia yang berada di belakang Marc berusaha melakukan manuver. Terjadilah aksi saling salip di antara dua pembalap tersebut.
Namun, ketika Marc mencoba menyalip Diggia lagi lewat sisi dalam, dia kehilangan kendali pada bagian depan motornya yang menyebabkan dia terjatuh.
Sayangnya lagi, bagian belakang motor Marc mengenai Diggia yang kemudian membuat pembalap VR46 tersebut ikut terseret ke gravel.
Setelah insiden ini, Diggia tidak dapat melanjutkan balapan dan kembali ke garasi, sementara Marc bergabung kembali ke barisan dan finis di urutan ketujuh belas.
“Jelas, hari ini saya melakukan kesalahan besar, karena di Tikungan 12 saya tidak memperhitungkan dengan baik slipstream dari tiga motor di depan,” ujar Marc, dalam video wawancara yang diunggah di akun Instagram resmi MotoGP, @motogp.
Terlihat ekspresi kecewa dari tim Ducati dan VR46 yang sama-sama menyaksikan pembalapnya dari layar. Bahkan, Bos VR46, Pablo Nieto, mengatakan dia 'berharap' Marc Marquez mendapat penalti atas kesalahan yang dia perbuat.
Namun, sebelum ada keputusan yang keluar dari FIM Stewards, Marc Marquez sendiri telah meminta agar dirinya dihukum karena merasa bersalah telah membuat Diggia terjatuh. Sikap ini menunjukkan profesionalitas Marc Marquez sebagai pembalap.
“Saya belum tahu hukumannya (untuk saat ini), tapi saya harus mendapat hukuman, karena aturannya memang seperti ini. Hari ini saya melakukan kesalahan, dan saya menghancurkan balapan Sprint pembalap lain. Jadi saya setuju dengan hukuman apa pun yang mereka berikan kepada saya,” ujar Marquez.
Lebih lanjut, Marc Marquez menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bukan upayanya untuk menyerang Digga. Dan ketika ditanya apakah dia sudah menemui Diggia, Marc menjawab dia sudah bertemu dan meminta maaf, meskipun Diggia marah kepadanya.
“Ya, dia marah. Saya mengerti dia, dan saya hanya bisa meminta maaf," jelasnya.
Kendati demikian, Diggia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Pembalap muda tersebut juga tidak menunjukkan ekspresi marah atau kesal kepada Marc, dia bahkan menunjukkan sikap dewasa dengan mengerti posisi Marc yang kesulitan menyalip.
"Saya hanya ingin fokus pada diri saya sendiri. Saya rasa saya telah melakukan langkah yang bagus. Tidak mudah untuk menyalip di sana, apalagi pembalap kuat seperti Marc. Saya bangga dengan aksi menyalip saya, dan itu saja," jelas Diggia.
Terkait dengan hukuman yang diberikan Stewards pada Marc Marquez, alih-alih sependapat dengan bosnya yang meminta agar Marc dijatuhi hukuman, Diggia justru menyerahkan proses investigasi kepada pihak yang berwenang.
Dia merasa sebagai pembalap tugasnya hanya balapan, hak dan kewajiban untuk memeriksa dan memberi sanksi merupakan kewajiban dari Stewards.
Pada akhirnya, apa yang diinginkan Marc Marquez dan Pablo Nieto menjadi kenyataan. FIM Stewards menjatuhkan long lap penalty untuk Marc Marquez pada balapan hari Minggu. Marc pun menjalani hukuman tersebut dan hasilnya dia finis di P5, tepat di belakang Diggia.
Saat ini, baik Marc Marquez dan Fabio Di Giannantonio menjadi pembalap Ducati yang paling kompetitif dibandingkan dengan 4 pembalap yang lain. Tak heran, jatuhnya mereka di sprint race MotoGP Amerika 2026 kemarin membuat tim Ducati kecewa.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ikhlas Tinggalkan MotoGP, Jack Miller Siap Buktikan Diri di WorldSBK 2027
-
Sempat Ragu, Kenapa Marc Marquez Yakin Bertahan di Ducati hingga 2028?
-
Mau Jual Makanan yang Lagi Viral? Ini 5 Etika yang Perlu Diterapkan
-
Pimpin Klasemen, Jorge Martin Tak Mau Ambisi jadi Juara Dunia Lagi?
-
Bosan Dimsum Mentai? Ini 5 Kuliner Nusantara di Nganjuk yang Patut Dicoba
Artikel Terkait
Hobi
-
Ikhlas Tinggalkan MotoGP, Jack Miller Siap Buktikan Diri di WorldSBK 2027
-
Sempat Ragu, Kenapa Marc Marquez Yakin Bertahan di Ducati hingga 2028?
-
Fabio Calonego Ungkap Target Pribadi bersama Era Baru Persija Jakarta
-
Bali United Bertekad Dominasi Laga Kandang di BRI Super League 2026/2027
-
Jakarta Mulai Bersiap, 2 Lapangan Disiapkan untuk FIFA ASEAN Cup 2026
Terkini
-
Ulasan Film Seni Merayu Tuhan: Refleksi Sunyi Anak Muda Mencari Arah Hidup
-
Dentuman Sound Horeg di Kuburan dan Masjid: Hiburan atau Sudah Kelewat Batas?
-
Review Kung Fu Soccer: Terlalu Absurd Disebut Film Tentang Sepak Bola, Apakah Layak Ditonton?
-
Bli Nyoman dan Desa Les: Ketika sebuah Desa Tumbuh tanpa Kehilangan Akarnya
-
Dari Party ke Padel, Cara Gen Z Mengubah Arti Nongkrong