Dari babak semifinal ajang Piala Dunia 2026, laga antara Prancis dan Spanyol berkesudahan dengan hasil yang cukup mengejutkan banyak pihak. Melansir dari laman Instagram @arsiptimnas, timnas Prancis harus menelan pil pahit usai takluk dari Spanyol dengan skor akhir 0-2 dalam laga yang digelar pada Rabu (15/7/2026).
“Spanyol berhasil pulangkan Prancis di semifinal dengan skor 2-0 dan lolos ke final. Oyarzabal membuka keunggulan Spanyol di menit ke-22 melalui titik putih usai Lucas Digne melakukan pelanggaran terhadap Lamine Yamal di kotak terlarang. Di babak kedua, Pedro Porro berhasil menambah keunggulan untuk timnas Spanyol, skor akhir 2-0 bertahan hingga akhir laga,” tulis laman Instagram @arsiptimnas.
Kekalahan 0-2 Prancis dari Spanyol ini memang berada di luar dugaan. Pasalnya, peraih gelar Piala Dunia edisi 2018 tersebut jauh lebih diunggulkan untuk mampu menaklukkan tim berjuluk “El Matador” tersebut. Namun, fakta di atas lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Spanyol menaklukkan Prancis melalui gol yang dicetak oleh Mikel Oyarzabal pada menit ke-22 dan Pedro Porro pada menit ke-58.
Dengan hasil ini, Spanyol sukses kembali melaju ke babak final ajang Piala Dunia 2026 setelah terakhir kali melangkah ke partai puncak pada edisi Piala Dunia 2010 silam di Afrika Selatan. Uniknya, kala itu timnas Spanyol juga sukses keluar sebagai juara setelah di partai final mempercundangi timnas Belanda dengan skor tipis 1-0.
Di sisi lain, kekalahan ini tentunya membuka diskusi baru mengenai taktik yang diterapkan oleh pelatih Prancis, Didier Deschamps, sepanjang gelaran turnamen Piala Dunia 2026. Banyak pihak memprediksi bahwa sejak awal timnas Prancis sudah salah menerapkan strategi, kendati mereka mampu melaju hingga babak semifinal. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Terlalu Mengandalkan Skill Individu Jadi Bumerang
Kekalahan Prancis dari Spanyol di babak semifinal ini tentu membuat banyak pihak bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi dengan skuad Les Bleus. Melansir dari laman resmi FIFA (fifa.com), Prancis yang begitu tangguh di sepanjang turnamen justru dibuat tidak berkutik saat menghadapi Spanyol yang sejatinya kurang diunggulkan meraih kemenangan.
Namun, ternyata ada sebuah hal mendasar yang menjadi kesalahan taktik dari Didier Deschamps sejak awal turnamen. Mantan pemain legendaris timnas Prancis era 1980 hingga 1990-an tersebut terlalu mengandalkan kemampuan individual pemainnya dibandingkan permainan kolektif dalam satu tim.
Sejak awal, Prancis terlalu terpaku kepada trio penyerang Ousmane Dembélé, Michael Olise, dan Kylian Mbappé sebagai motor serangan. Ironisnya, ketiga pemain ini sama-sama berkarakter individualis yang secara tak langsung membuat skuad timnas Prancis terlalu bergantung kepada mereka.
Hal ini sejatinya bisa dilihat sejak babak 16 besar kemarin saat melawan Paraguay. Prancis hanya mampu menang 1-0 melalui titik penalti setelah harus bersusah payah membongkar pertahanan rapat dan permainan kolektif Paraguay. Hal inilah yang membuat kelemahan Prancis mulai terekspos dan tak disadari menjadi senjata makan tuan bagi mereka sendiri.
Bertemu dengan timnas Spanyol yang sudah sejak lama memainkan pakem sepak bola kolektif, skuad Prancis yang terlalu bertumpu pada trio penyerangnya sama sekali tak mampu berbuat banyak. Taktik skill individu para pemain Prancis seakan-akan mendapatkan antitesis saat menghadapi timnas Spanyol yang bermain secara terorganisasi.
Lalu, apakah memang sejak awal strategi timnas Prancis yang terlalu bergantung kepada skill individu para pemainnya sudah salah? Bagi saya, taktik tersebut memang keliru jika diterapkan secara berlebihan. Sejatinya, sepak bola adalah permainan tim yang berisikan 11 orang di atas lapangan, bukan sekadar pertunjukan 1-2 orang individu semata.
Baca Juga
-
Lebih dari Sepak Bola, Inggris vs Argentina Jadi Laga Sarat Muatan Politik
-
Skandal Kartu Merah Piala Dunia: Bom Waktu yang Dipasang Sendiri oleh FIFA?
-
Dari Euro 1992 ke Piala Dunia 2026: Benarkah Skandinavia Sedang Menuju Masa Kejayaan Baru?
-
Comeback yang Berakhir Air Mata: Mengapa Piala Dunia 2026 Jadi Mimpi Buruk Neymar?
-
Tampil Gila di Piala Dunia 2026, Vozinha Layak Menunda Masa Pensiunnya!
Artikel Terkait
-
Argentina di Ambang Sejarah, Mampukah Albiceleste Wujudkan Back-to-Back?
-
FIFA Tuai Kontroversi Lagi, Final Piala Dunia 2026 Bakal Punya Halftime Show?
-
Final Piala Dunia 2026: Foto Lionel Messi Mandikan Lamine Yamal Kembali Viral
-
Argentina Terancam Sanksi FIFA Jelang Final Piala Dunia 2026, Spanduk Malvinas Jadi Sorotan
-
Piala Dunia 2026 Segera Usai, Apa Saja Kegiatan Pemain setelah Ini?
Hobi
-
Argentina di Ambang Sejarah, Mampukah Albiceleste Wujudkan Back-to-Back?
-
Takhta Dunia di Ujung Era: Spanyol atau Argentina yang Menulis Sejarah?
-
Piala Dunia 2026 Segera Usai, Apa Saja Kegiatan Pemain setelah Ini?
-
'Penyakit Mematikan' Argentina: Mengapa Inggris dan Lawan Lainnya Selalu Runtuh di Menit Akhir?
-
Dihujani Kritik usai Pilih Yamaha, Jorge Martin Beri Jawaban Tegas!
Terkini
-
Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi
-
Beban Ganda Perempuan Kepala Keluarga: Bangun Jam Lima pagi, Malam Masih Menghitung Setoran
-
4 Inspirasi OOTD Y2K Summer Style ala Asa BABYMONSTER yang Playful Abis!
-
Mitos Anggaran Pendidikan Kecil ala Singapura dan Jepang: Kenapa Indonesia Tidak Bisa Meniru?
-
Antara Hemat dan Takut Keluar Uang: Saat Belanja Bikin Kita Merasa Bersalah