Hayuning Ratri Hapsari | Rana Fayola R.
Harry Kane dan Jude Bellingham, dua pemain andalan Timnas Inggris yang jadi tulang punggung di Piala Dunia 2026. (Instagram/judebellingham)
Rana Fayola R.

Perjuangan Inggris harus terhenti secara dramatis di fase krusial turnamen, di mana skuad Tiga Singa resmi dinyatakan gugur dari kompetisi setelah sang kapten Harry Kane mengakui bahwa keputusan untuk main bertahan ternyata sama sekali tidak cukup tangguh untuk membendung gempuran Argentina pada laga semifinal Piala Dunia 2026 yang berlangsung ketat di Stadion Atlanta.

Pertandingan yang digelar pada hari Kamis tersebut menyisakan kekecewaan mendalam bagi seluruh penggawa Inggris. Mimpi besar mereka untuk menembus babak final terpaksa kandas akibat serangan balik yang masif dari tim lawan di menit-menit krusial babak kedua.

Antara News melaporkan, Inggris sejatinya sempat membuka harapan besar lewat gol pembuka yang dilesakkan oleh Anthony Gordon. Keunggulan satu bola ini sempat membuat asa publik Britania melambung tinggi, mengingat performa mereka yang sangat menjanjikan sejak awal paruh pertama.

Namun, situasi di atas lapangan hijau berubah drastis setelah papan skor berubah menjadi keunggulan buat Inggris. Pola permainan yang awalnya agresif perlahan-lahan mulai mengendur dan beralih menjadi skema defensif demi mempertahankan angka.

"Ini mengecewakan untuk tim, staf, dan para suporter. Kami bermain bagus hampir sepanjang pertandingan. Namun, setelah unggul 1-0, kami seperti hanya berusaha mempertahankan keunggulan. Di level (semifinal) seperti ini, itu tidak cukup," ungkap Harry Kane sebagaimana dipublikasikan oleh FIFA.

Kekalahan tipis dengan skor akhir 1-2 ini menjadi pil pahit yang harus ditelan oleh anak asuh Gareth Southgate. Argentina sukses membalikkan kedudukan melalui dua gol balasan yang masing-masing diciptakan oleh Enzo Fernandez serta penyelesaian akhir dari Lautaro Martinez jelang peluit panjang berbunyi.

Bagi penyerang andalan Bayern Muenchen tersebut, hasil negatif di babak empat besar ini terasa luar biasa menyakitkan. Pasalnya, seluruh anggota tim dinilai telah mengerahkan seluruh kapasitas terbaik mereka sepanjang bergulirnya turnamen bergengsi ini.

"Kami bekerja sangat keras untuk bisa berada di sini. Semua pemain telah memberikan darah, keringat, dan air mata. Gagal dengan cara seperti ini benar-benar sangat menyakitkan," lanjut sang kapten.

Jika menilik jalannya pertandingan di paruh pertama, Inggris sebenarnya mampu mengimplementasikan strategi pelatih dengan sangat rapi. Skema tekanan tinggi atau high pressing yang mereka terapkan sejak menit awal terbukti ampuh membuat lini tengah Argentina frustrasi.

Tekanan konsisten tersebut mempermudah para pemain Inggris untuk merebut kendali bola di area pertahanan lawan. Kane pun mengamini bahwa pada fase tersebut, mereka sukses mendikte tempo permainan sesuai dengan rencana awal.

"Kami memberi tekanan tinggi sehingga bisa merebut bola dan mengendalikan permainan," tutur Kane menjelaskan performa apik timnya di paruh awal laga.

Petaka Menit Akhir dan Kehilangan Kendali Permainan

Malapetaka bagi The Three Lions baru dimulai pasca lahirnya gol yang dicetak oleh Anthony Gordon pada menit ke-55. Dinamika pertandingan bergeser karena Argentina merespons ketertinggalan dengan meningkatkan intensitas serangan dan menambah daya gedor di lini depan.

Di sisi lain, armada Inggris justru gagal mempertahankan intensitas permainan yang sama seperti di babak pertama. Mereka kesulitan meladeni duel satu lawan satu melawan pergerakan dinamis para pemain Albiceleste yang semakin agresif.

"Setelah kami mencetak gol, entah karena mereka memasukkan lebih banyak pemain ke depan atau kami tidak lagi mampu mengimbangi mereka satu lawan satu, serangan mereka datang bertubi-tubi. Kami terus melakukan blok, tetapi pada akhirnya itu tidak cukup," keluh Kane panjang lebar.

Secara umum, performa lini belakang Inggris sebenarnya menunjukkan tingkat disiplin yang cukup tinggi dan keberanian yang luar biasa. Sayangnya, mereka kehilangan momentum krusial ketika gelombang serangan Argentina bertambah intens pada sepuluh menit terakhir waktu normal.

Gol penyeimbang dari Enzo Fernandez pada menit ke-85 menjadi momentum kebangkitan total bagi Argentina. Keberhasilan tersebut sekaligus meruntuhkan fokus dan struktur pertahanan solid yang sudah dibangun Inggris sejak awal pertandingan.

Puncaknya terjadi saat memasuki masa injury time, di mana Inggris benar-benar kehilangan kontrol permainan di area pertahanan mereka sendiri. Kelengahan di detik-detik akhir ini berhasil dimanfaatkan secara sempurna oleh Lautaro Martinez untuk mengunci kemenangan dramatis Argentina.

Meskipun harus tersingkir dengan cara yang tragis, Kane tetap mencoba melihat sisi positif dari perjuangan panjang timnya. Menurutnya, pondasi skuad saat ini sudah semakin dekat dengan level juara, walau masih ada detail kecil yang wajib dibenahi agar mampu melangkah lebih jauh di masa depan.

Tak dapat dipungkiri, penampilan Inggris dalam laga semifinal ini sebenarnya tergolong solid namun dinilai belum cukup matang untuk mengamankan tiket final. Mereka telah membuktikan kapasitasnya untuk bersaing sengit dengan tim-tim raksasa dunia, tetapi ketajaman dalam mempertahankan keunggulan di menit-menit akhir pertandingan tetap menjadi pembeda utama yang memisahkan mereka dari kemenangan.