Berkembangnya media massa di Indonesia saat ini sangat memudahkan budaya lain masuk ke Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh (McQuail, 1989:31) bahwa komunikasi massa dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massal dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah yang besar.
Dahulu untuk mendapatkan informasi harus melalui surat kabar atau radio, namun sekarang dengan adanya media massa untuk mendapatkan informasi sangatlah mudah. Informasi yang didapatkan dari komunikasi massa dapat mengubah sikap, perasaan dan perilaku seseorang tergantung dari penggunaan media massa itu sendiri.
Perubahan sikap atau perilaku masyarakat saat ini membuat muncul budaya populer dan atas kehendak media. Strinarti (2007) mendefinisikan bahwa budaya populer dihasilkan secara massal dengan bantuan teknologi industri. Budaya populer seperti Korean Wave saat ini dipasarkan secara professional terhadap publik untuk mendatangkan keuntungan. Korean Wave saat ini sangat menarik dalam industri periklanan atau hiburan saat ini.
Di Indonesia saat ini, teknologi sedang berkembang hingga terkadang memanfaatkannya berlebihan. Teknologi yang dimaksud adalah televisi dengan berbagai konten didalamnya. Konten-konten seperti Korean Wave sudah tidak asing lagi dimata masyarakat Indonesia. Lantas, apakah media massa sudah menayangkan informasi yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat?
Teori uses and gratification yang dikemukakan oleh Blumler, Gurevitch, dan Katz ini menyatakan bahwa penggunaan media memainkan peran yang aktif dalam memilih dan menggunakan media. Little John juga mengatakan bahwa teori ini lebih menekankan fokus kepada individu khalayak dari pada pesan yang disampaikan oleh media itu sendiri.
Jika dilihat dari penjelasan tersebut jika dihubungkan dengan fenomena saat ini adalah fenomena yang sedang treding topic di Twitter yaitu pada 24 Juni Tokopedia membagikan video NCT Dream. NCT dream adalah salah satu boyband terkenal asal Korea.
Dalam video tersebut, Mark mengatakan dengan bahasa Indonesia, "Halo, ada orang di rumah?" Sementara Jaemin dengan ekspresi lucunya mengatakan dengan bahasa Indonesia, "Ya ampun salah tanggal." Kefasihan Jaemin berbahasa Indonesia serta ekspresinya yang natural menjadi bahan pembicaraan banyak penggemar hingga menjadi trending Twitter Indonesia no. 1 saat ini.
Penggemar meninggalkan komentar seperti, "Cie nanadoongies kecanduan 'ya ampun salah tanggal," "Kita adalah nanadoongies yang dimabuk 'ya ampun salah tanggal'," "Lucu banget na Jaemin," dan masih banyak lagi. Dengan fenomena ini jika dilihat dari kacamata penggunaan media, apakah sudah benar?
Dapat diartikan bahwa masyarakat Indonesia dalam menggunakan media memiliki cara untuk memahami makna. Maka itu media saat ini sangatlah berperan aktif dan mengikuti perkembangan zaman, kehadiran media dalam penyebaran informasi dan budaya sangatlah cepat, hal tersebutlah yang membuat media massa dapat menciptakan masyarakat Indonesia kreatif dalam berkonten.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Media Massa Menjadi Jalan Berkembangannya Budaya Korea di Masyarakat
-
Drama Korea Semakin Digandrungi, Korean Wave Semakin Berkembang!
-
Tekan Penularan Covid-19, Aceh Barat Umumkan Identitas Pasien di Media Massa
-
Lawan Objektifikasi Perempuan, Ini Pentingnya Perspektif Gender di Media
-
Polisi Mau Diberikan Hal Baik, Komnas HAM: Media Dikendalikan Kode Etik
Kolom
-
Di Balik Rekor Kunjungan Wisatawan: Saat Air Bersih Warga Dikorbankan untuk Vila Mewah
-
Delayed Gratification: Ketika Jarak Membuat Mental Makin Tangguh
-
Politik Beras Orde Baru: Bagaimana Nasi Jadi Standar Makan Orang Indonesia?
-
Mengembalikan Sistem Tak Naik Kelas: Siapkah Sekolah Hadapi Nilai Jujur?
-
Ketika HRD Dibayar Mahal untuk Menekan Biaya Tenaga Kerja
Terkini
-
Bebas Kusam dan Noda Hitam! 4 Toner Alpha Arbutin untuk Meratakan Warna Kulit
-
Petualangan Seru Beruang Pencari Hewan di Buku This is How to Spot Animals
-
4 Physical Sunscreen Heartleaf Korea, Cegah Breakout pada Kulit Sensitif
-
Gandeng Tiga Mitra Industri, SaIG UPI Gelar GEOCAB untuk Bincang Karier
-
My Plastic Mother: Film Pendek tentang Duka Eki dan Krisis Sampah Indonesia