Badminton, atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah bulu tangkis, telah menjadi olahraga yang digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, dari berbagai usia dan latar belakang sosio-ekonomi.
Baik anak-anak, remaja, pelajar, hingga mereka yang telah memasuki usia senja menggemari olahraga bulu tangkis, sebagai cara untuk menghibur diri, sekaligus menghabiskan waktu luang.
Bulu tangkis terkenal dalam konteks rekreasi dan olahraga profesional. Olahraga ini telah mendarah daging dalam kehidupan bangsa Indonesia yang melintasi berbagai kelas sosial. Bahkan telah menjadi identik dengan Indonesia itu sendiri.
Sejarah bulu tangkis di Indonesia
Menurut Like Hong Giok dalam bukunya berjudul Pedoman Bulu Tangkis, bulu tangkis telah diperkenalkan kepada publik melalui berbagai perkumpulan badminton yang bermula di Batavia, sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya pada sekitar tahun 1930-an.
Olahraga ini kemudian digemari oleh berbagai kelas dan latar sosial, baik itu pribumi hingga keturunan Tionghoa dan Arab. Bulu tangkis mudah diakses karena peralatannya yang sederhana dan dapat diperoleh berbagai kalangan sosial. Selain itu, peraturannya yang sederhana, tidak menuntut banyak hal, sehingga olahraga ini bisa dimainkan.
Kemudian oleh beberapa kelompok masyarakat etnis Tionghoa, membentuk sebuah klub atlet bulu tangkis yang berlaga di berbagai kejuaraan dunia dan lokal. Berkat mereka, olahraga ini semakin populer dan mencetak berbagai prestasi di dunia olahraga.
Sejak Indonesia merdeka, kebijakan pemerintah menjadi lebih egaliter, dan berbagai kalangan masyarakat bisa mengikuti klub atlet bulu tangkis. Setelah itu, semakin banyak nama atlet terkemuka muncul dari berbagai golongan etnis dan kondisi sosio-ekonomi yang beragam.
Bulu tangkis sebagai olahraga nasional
Berkat popularitas yang kian meningkat, masyarakat berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri menjadi atlet di berbagai klub bulu tangkis. Kenaikan animo masyarakat ini mendorong dibentuknya PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) pada tahun 1951, sebagai wadah resmi olahraga bulu tangkis di Indonesia.
Terbentuknya organisasi tersebut mempermudah Indonesia berpartisipasi dalam kejuaraan bulu tangkis antar-negara. Berkat peran organisasi tersebut, Indonesia telah mencetak berbagai kejuaraan melalui Badminton Asia Confederation, dan kemudian Badminton World Federation (BWF).
Berkat keuletan para atlet dan dukungan yang besar dari berbagai pihak, Indonesia memasuki peringkat ketiga sedunia, sesuai dengan peringkat yang ditetapkan oleh BWF. Nama Indonesia menjadi identik dengan olahraga bulu tangkis, yakni menjadi negara “langganan” kejuaraan badminton di samping negara lain, seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Denmark.
Bulu tangkis telah menjadi olahraga yang kondang di berbagai kalangan masyarakat seluruh penjuru Nusantara. Banyak fasilitas olahraga hingga tingkat desa disediakan oleh berbagai pihak baik pemerintah atau swasta, untuk dimanfaatkan sebagai wahana rekreasi warga. Tak cuma itu, penciptaannya juga dimaksudkan untuk mencetak atlet baru, guna membuka peluang untuk menetapkan Indonesia sebagai negara pencetak juara bulutangkis.
Berbagai pihak dan instansi juga memberikan banyak bantuan yang jumlahnya tidak terhitung. Hal ini semata-mata untuk mendukung bulu tangkis menjadi olahraga andalan Indonesia, untuk tampil di mata dunia. Mereka memberikan berbagai dukungan finansial untuk membiayai pelatihan para atlet baru dari berbagai daerah di Indonesia.
Terakhir, penulis ingin memberikan apresiasi bagi para atlet yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Tanpa kita sadari, atlet-atlet tersebut merupakan putra-putri bangsa dari berbagai daerah, suku, dan kalangan masyarakat.
Masyarakat telah menjadikan bulu tangkis sebagai identitas bangsa Indonesia. Semoga kedepannya, Indonesia selalu menorehkan prestasi yang membanggakan dalam kejuaraan bulu tangkis di dunia.
Referensi
- Beritatagar, Bulutangkis : Penyebaran bulutangkis di berbagai daerah.
- Like Hong Giok. 1954. Pedoman Bulu Tangkis
- Situs resmi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.
Tag
Baca Juga
-
Tips Ngabuburit dari Buya Yahya: Menunggu Berbuka tanpa Kehilangan Pahala Puasa
-
Mengenal Orang Tua Alyssa Daguise: Calon Besan Ahmad Dhani Ternyata Bukan Sosok Sembarangan
-
Profil Hestia Faruk: Tante Thariq yang Dahulu Sempat Dikenalkan ke Fuji
-
Menentukan Monster Sesungguhnya dalam Serial Kingdom: Manusia atau Zombie?
-
5 Langkah Awal Memulai Karier sebagai Desainer Grafis, Mulailah dari Freelance!
Artikel Terkait
-
Gegara Belum Pulih Cedera, Anthony Ginting Harus Absen Lagi dari Badminton Asia Championships 2025
-
Sehat dan Bugar dengan Lari: Gaya Hidup Aktif Perempuan Masa Kini
-
Anthony Ginting Ditarik Mundur dari BAC 2025 dan Ajukan Protected Ranking
-
Imam Masjid di AS Ajak Jamaah Push-Up sambil Dzikir setelah Salat Tarawih, Bagaimana Hukumnya?
-
Review Anime Ao no Hako, Cinta dan Ambisi Berpadu dalam Satu Lapangan
Kolom
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Penurunan Harga BBM: Strategi Pertamina atau Sekadar Pengalihan Isu?
-
Jumbo: Langkah Berani Animasi Lokal di Tengah Dominasi Horor
-
Ketimpangan Ekonomi dan Pembangunan dalam Fenomena Urbanisasi Pasca-Lebaran
-
Saatnya Resign setelah Lebaran?
Terkini
-
Hadapi Korea Selatan, Timnas Indonesia U-17 Wajib Raih Minimal 1 Poin
-
Review The Recruit, Aksi Spionase Menegangkan dengan Sentuhan Humor Segar
-
5 Rekomendasi Film Baru dari Netflix untuk Rayakan Libur Lebaran 2025
-
4 Skincare dengan Cactus Extract, Rahasia Hidrasi Kulit Tanpa Lengket!
-
Review Norma - Antara Mertua dan Menantu: Film Selingkuh Menariknya Apa?