Dalam masyarakat kerap kali atau bahkan memang sudah lazim terjadi yang namanya perubahan, apakah itu suatu perubahan yang kecil maupun besar dan perubahan itu tidak dapat dibendung kecuali dengan cara menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Tak terkecuali dengan perubahan ke arah yang lebih modern yang kita sebut dengan era disrupsi. Dikutip dari divedigital.id era disrupsi sendiri adalah sebuah era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Akibatnya pemain yang masih menggunakan cara dan sistem lama akan kalah bersaing.
Dalam menyikapi era disrupsi ini masyarakat utamanya mahasiswa tidak akan tinggal diam dan pastinya untuk memenangkan persaingan maka dibutuhkan berbagai cara. Persaingan yang dimaksud dalam hal ini adalah persaingan dalam pasar tenaga kerja yang mana setelah lulus kemampuan yang mereka kuasai akan menjadi nilai jual dalam memperoleh pekerjaan kelak. Lalu bagaimanakah peran mahasiswa dalam mengahadapi era disrupsi tersebut?
Dalam menghadapi era disrupsi mahasiswa harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan harus bisa melakukan sebuah inovasi guna menghadapi persaingan. Hal ini karena di masa sekarang persaingan kerja semakin kompetitif apalagi sejak Indonesia masuk dalam kawasan perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta bonus demografi yang membuat persaingan di pasar tenaga kerja pasti akan sangat ketat.
Mahasiswa harus memiliki kemampuan yang di atas standar agar turut bisa bersaing dan tentu saja kemampuan atau softskill yang dimiliki harus banyak dan lebih berkualitas. Yang tidak kalah penting adalah skill pembentukan karakter seperti disiplin, meiliki etos kerja, dan sebagainya yang merupakan softskill dasar yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa. Karena kedepannya juga seperti yang kita tahu bahwa era disrupsi merupakan eranya teknologi yang mana teknologi seperti robot AI (artificial intelligent) akan mengambil alih pekerjaan umat manusia. Kalangan pengusaha tentu saja lebih memilih pekerja yang diatas standard dan juga mau dibayar murah, maka robot bisa saja menjadi solusinya. Jadi lapangan kerja akan semakain sedikit sehingga masyarakat khususnya mahasiswa harus benar-benar bisa berinovasi dalam segala hal guna menjawab tantangan tersebut. Kedepannya persaingan bukan lagi hanya antar manusia dengan manusia dalam mencari kerja, tetapi juga antar manusia dan robot AI tersebut.
Lapangan kerja yang sedikit membuat mahasiswa harus bisa berinovasi dalam hal berwirausaha yang bisa menjadi pembuka lapangan kerja karena saat ini jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja. Sehingga perlu keseimbangan diantara keduanya supaya pengangguran dapat diminimalisir.
Di negara kita, Indonesia, jumlah pengusaha masih terbilang sedikit. Padahal untuk menjadi sebuah negara maju dibutuhkan sekitar 13% masyarakatnya yang merupakan pengusaha sedangkan di indonesia jumlah pengusahanya masih lumayan jauh dari angka tersebut yaitu sekitar 3%.
Oleh karenanya untuk menghadapi era disrupsi ini memang perlu banyak usaha karena tantangan yang dilalui benar-benar berat dan kita tidak bisa menolak itu. Satu-satunya cara adalah dengan bersikap adaptif terhadap perubahan-perubahan tersebut dengan cara mengasah skill utamnaya terhadap para mahasiswa yang bersiap-siap untuk masuk ke pasar tenaga kerja dan bersaing dengan banyak lulusan universitas lainnya. Kita harus memiliki kemampuan diatas standar karena itulah yang akan menajadi nilai jual. Dan juga untuk lebih mengasah skill berwirausaha yang kelak bisa menjadi penyumbang lapangan kerja dan menjadikan Indonesia sebagai negara maju.
Baca Juga
-
Menlu AS Lakukan Kunjungan Resmi Pertama ke Afrika Pekan Depan
-
Mahasiswa Turki Bermalam di Taman untuk Memprotes Kenaikan Sewa Penginapan
-
India Tunda Kesepakatan Ekspor Gula karena Harga Domestik Meningkat
-
AS Menyelesaikan Penarikan Pasukan Secara Keseluruhan dari Afghanistan
-
4 Cara Mencari Uang di Internet, Cocok Buat Kamu yang Butuh Kerja Sampingan
Artikel Terkait
-
77 Persen Perusahaan Sulit Cari Talenta, Mengapa Pendidikan Belum Selaras dengan Dunia Kerja?
-
Perawatan Tidak Ribet, Harga Mirip: Mending Suzuki Nex, Nex Cross atau Address untuk Mahasiswa?
-
Aksi 4 Mei: Kala Mahasiswi Pertanyakan Nurani Penguasa Soal Nasib Guru Honorer
-
Mahasiswa Kepung Jakarta Hari Ini: 3.225 Polisi Siaga di Titik Demo DPR, Kemendikti, hingga Gambir
-
Tak Ditemui Pemerintah karena Demo di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Bubarkan Diri Janji Balik Lagi
Kolom
-
Perempuan Harus Terus Membuktikan Diri: Tanda Emansipasi Setengah Jalan?
-
Saat Rupiah Melemah, Apakah Side Hustle Jadi Jawaban Keresahan Finansial?
-
Sekolah Mengajarkan Etika, tapi Mengapa Banyak Kejahatan Lahir di Dalamnya?
-
Di Balik Megahnya Dapur MBG, Ada Sekolah yang Dilupakan Negara
-
Dosa Lingkungan di Balik Label 'Ramah Bumi' yang Estetik
Terkini
-
Ulasan Film Ain: Menghadirkan Pesan Spiritual tentang Bahaya Hasad dan Iri
-
Paradise of Rumors Milik AKMU jadi Lagu Kedua Raih Perfect All-Kill di 2026
-
Bukan Pisang Biasa, Menikmati Hidangan Penutup Adat Desa Muaro Jambi
-
Review The Boys Season 5: Kritik Tajam Otoritarianisme di Dunia Modern!
-
Lee Byung Hun Dikonfirmasi Bintangi Film Aksi Bela Diri Berjudul Nambeol