Tren Jumat berkah kerap kali dimanfaatkan oleh pengemis untuk mengharap belas kasih, dan mengharap "keberkahan" bagi pemberi sedekah. Mereka yang berpura-pura menjadi pengemis sering kali memanfaatkan momentum tersebut untuk mengais welas orang lain.
Bagi para pengemis, hari Jumat adalah hari yang paling istimewa. Pasalnya, tidak perlu bekerja dan setoran, pengemis sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari.
Fenomena ini kerap kali terjadi di dijalan utama Taman Puri Cendana, Bekasi. Para pengemis berkumpul di gerbang utama perumahan untuk menampah pemberian Jumat berkah. Pengemis berkumpul dengan membawa anak-anak mereka dan atribut pendukung seperti karung, gerobak, dan baju yang lusuh sambil memasang wajah melas.
“Hari Jumat pagi mereka selalu berangkat bersama dengan membawa anak bayi, Ibu menggendong bayi dan Bapak mendorong gerobak. Padahal pada hari biasa mereka tidak ngemis,” ujar Didit petugas kemanan komplek.
Tak hanya itu, pengemis yang berkumpul tidak melakukan pekerjaan mereka seperti mengemis atau memulung. Mereka hanya duduk santai sambil bersendagurau, hingga mendapat makanan Jumat berkah. Apabila makanan yang didapat sudah cukup, mereka akan kembali kerumah.
“Hanya mau makanan enak dan uang saja itu,” kata Didit dengan nada sedikit kesal
Menggunakan pakaian lusuh sambil menggendong bayi adalah salah satu cara jitu untuk mendapat belas kasih. Memasang wajah melas, berjajar di keramaian jalan dengan harapan bisa mendapat simpati yang lebih banyak dari orang berlalu lalang.
Didit mengatakan, fenomena tersebut sudah terjadi sejak awal pandemi. Sebab, selama pandemi banyak warga mengadakan Jumat berkah untuk dibagikan. Sebetulnya, pengemis tersebut merupakan warga yang tinggal di perkampungan sebelah perumahan. Mereka mulai melancarkan aksinya sekitar pukul 06.00 sampai 10.00 dan kembali lagi pukul 16.00
Sebetulnya hal ini sudah membuat masyarakat menjadi geram, tetapi mereka tidak bisa ditertibkan dan terus kembali. Menurut masyarakat sekitar, sudah jarang warga yang memberi mereka Jumat berkah karena sudah tau kedok nya.
“Mereka masih sehat, kenapa harus minta-minta? Padahal masih banyak yang lebih membutuhkan,” ujar Qonik warga Taman Puri Cendana
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
100 Tahun Naar de Republiek Indonesia: Menelanjangi Neokolonialisme 2026, Republik untuk Siapa?
-
Kenapa La Copa de la Vida dan Waka Waka Masih Jadi Jawaranya Lagu Piala Dunia?
-
Cara Saya Menemukan Kembali Makna Proses di Balik Lembar Pengesahan Skripsi
-
Membaca Hasil Survei MBG: Dari Kepuasan Menuju Kapabilitas
-
Sebuah Ironi: Saat Akses Pendidikan Kalah Cepat dari Program Makan Siang
Terkini
-
Tanpa Jeda
-
Review The Gangster, The Cop, The Devil: Adu Brutal Polisi Nekat dan Bos Mafia Melawan Sang Iblis
-
Bertajuk 'The Sin: Bliss,' ENHYPEN Umumkan Comeback pada Bulan Agustus
-
It Girl Vibes! 4 Ide OOTD Kasual ala Roh Yoon Seo yang Cocok Buat Gen Z
-
Sinopsis Daikuko: GATE24, Drama Jepang Terbaru Shuri dan Maeda Gordon