Bimo Aria Fundrika | Teddy Afriansyah
Penampakan Candi Borobudur sebagai peninggalan yang penuh makna dan misteri.
Teddy Afriansyah

Kabar audiensi Menteri Kebudayaan bersama tokoh industri kreatif memancing ingatan publik kembali. Tema pembicaraan selalu seragam serta terdengar amat heroik, seperti penguatan peran Borobudur sebagai pusat peradaban.

Namun di balik kata penguatan, sering terselip syahwat komersialisasi merusak. Publik lantas bertanya apakah Borobudur harus kembali diturunkan derajatnya sekadar menjadi etalase peragaan busana serta pemuas industri gaya hidup elite ibu kota, sementara nilai spiritualnya pelan-pelan dikikis habis.

Pertanyaan tersebut pantas dilontarkan mengingat rekam jejak pengelolaan kawasan bersejarah sering melenceng jauh dari muruah aslinya.

Masyarakat luas tentu berhak cemas atas nasib peninggalan leluhur. Jangan sampai janji pelestarian berujung pada eksploitasi berlebihan tiada henti. Candi megah warisan wangsa Syailendra pantas mendapat perlakuan lebih mulia daripada sekadar objek tontonan berbayar mahal.

Setiap pertemuan elite membahas nasib situs suci Jawa Tengah selalu memunculkan pola serupa berulang. Para pejabat duduk manis di ruangan sejuk bertukar gagasan mewah soal pariwisata berkelas dunia. Narasi besarnya selalu bermuara pada upaya mendatangkan tumpukan devisa tiada batas. Segala macam ide dicurahkan demi menarik perhatian wisatawan mancanegara maupun pelancong lokal berdompet tebal.

Sebuah Peringatan Keras dari Masa Silam

Pelajaran paling berharga sejatinya bisa dipetik langsung dari pengalaman kelam masa lampau. Komersialisasi tanpa kendali terbukti membawa petaka besar bagi struktur fisik bangunan bersejarah. Ribuan langkah kaki wisatawan saban hari menggerus batuan andesit perlahan tapi pasti.

Gesekan tiada henti dari alas kaki pengunjung menipiskan keindahan relief ukiran tangan nenek moyang pemahat candi. Kerusakan fisik tersebut bukan sekadar urusan batu aus tergerus zaman semata.

Gelaran acara eksklusif berkedok apresiasi seni sering menutup akses bagi masyarakat awam. Panggung besar didirikan tepat di atas pelataran suci tanpa memedulikan kesakralan tata ruang. Suara dentuman musik keras seketika menggantikan keheningan syahdu doa para peziarah pencari kedamaian.

Situs ibadah mendadak berubah wujud menjadi arena konser megah penuh hura-hura pemuas dahaga hiburan sesaat. Situasi ironis tersebut jelas melukai perasaan umat Buddha secara mendalam.

Bagi penganut jalan Dharma sejati, candi bukan sekadar latar belakang estetik penunjang kebutuhan berswafoto. Bangunan berundak tersebut merupakan mandala suci tempat merenung serta memanjatkan doa kedamaian alam semesta. Ketika kebebasan beribadah dibatasi ketat demi memberi ruang bagi acara komersial berharga fantastis, keadilan tata ruang spiritual patut digugat keras. Penduduk sekitar turut merasakan pahitnya keterasingan berlapis.

Warga desa sering hanya menjadi penonton pasrah di tanah kelahirannya sendiri tanpa daya. Kebijakan tiket masuk berharga selangit memutus total ikatan batin antara penduduk dengan warisan agung leluhurnya. Harta karun peradaban teralienasi dari pemilik aslinya demi melayani kepentingan kaum berduit pencari sensasi.

Membongkar Ilusi Penguatan Peran Berkacamata Bisnis

Konsep penguatan peran sering diterjemahkan secara sangat dangkal oleh pemangku kepentingan. Para pembuat kebijakan cenderung memandang situs purbakala sekadar aset ekonomi semata penghasil laba. Arah pengembangan selalu berkutat pada nafsu penambahan ragam fasilitas wisata modern penunjang kenyamanan pengunjung. Restoran mewah bertaraf internasional dibangun berdekatan dengan zona inti tanpa rasa bersalah. Pusat perbelanjaan suvenir ditata ulang sedemikian rupa demi memancing hasrat belanja para tamu asing maupun lokal.

Semua langkah eksploitatif tersebut senantiasa dianggap sah asalkan tidak mengorbankan langsung kesakralan monumen. Sayangnya, batas nyata antara pelestarian murni dan eksploitasi terselubung sungguh teramat tipis layaknya sehelai benang. Kepentingan jaringan bisnis raksasa sering memenangkan pertarungan sengit melawan argumen sunyi kaum konservasionis. Suara lirih para ahli arkeologi kerap kalah lantang dibanding hitungan kalkulator untung rugi barisan investor modal besar.

Keterlibatan langsung figur sentral industri gaya hidup dalam menyusun cetak biru pengelolaan candi tentu memunculkan tanda tanya teramat besar. Pendekatan pragmatis industri kreatif berbenturan keras dengan prinsip dasar pelestarian cagar budaya Nusantara. Dunia hiburan selalu menuntut kebaruan konstan, sensasi visual, serta laba maksimal berlipat ganda. Sementara kerja pelestarian menuntut kehati-hatian ekstra, pembatasan ketat, serta penghormatan sunyi terhadap kearifan masa lalu. Membenturkan dua kutub berlawanan arah tersebut senantiasa membutuhkan kebijaksanaan tingkat tinggi pembuat keputusan. Monumen peradaban berubah wujud menjadi sekadar taman bermain tematik bernuansa sejarah palsu. Ruh spiritualnya sirna tidak berbekas menyisakan tumpukan batu mati tanpa nyawa kehidupan bermakna.

Upaya Mengembalikan Kesucian pada Muruah Spiritualnya

Kementerian Kebudayaan dituntut segera mengubah total cara pandang usang berorientasi pasar bebas. Keberhasilan penguatan kedudukan Borobudur sama sekali tidak pantas diukur dari seberapa deras aliran uang beredar di sekelilingnya. Indikator kesuksesan mutlak harus digeser sepenuhnya pada terjaganya aspek spiritualitas serta terjaminnya kelestarian fisik struktur batuan.

Langkah taktis paling krusial bermula dari keberanian membatasi intervensi rakus industri hiburan di seputaran zona inti situs bersejarah.

Segala bentuk perhelatan berskala masif berisiko merusak kestabilan struktur batuan wajib dilarang tanpa pengecualian sedikit pun. Pelataran suci harus segera dikembalikan fungsi utamanya sebagai ruang kontemplasi hening, bukan panggung pertunjukan hingar bingar pemekak telinga. Proses penataan ulang kawasan wajib melibatkan partisipasi aktif para tokoh agama serta budayawan lokal secara sungguh bermakna.

Suara tulus para biksu beserta sesepuh desa setempat jauh lebih relevan didengar daripada paparan muluk konsultan bisnis ibu kota pencari cuan. Kearifan lokal memendam jawaban paling murni tentang tata cara beradab memperlakukan mahakarya peninggalan luhur. Dengan demikian, kebudayaan tetap menjadi suatu harga mati tiada tawar menawar.

Keputusan strategis tidak dapat tergantikan oleh kebijakan serampangan penurun standar peninggalan leluhur tersebut. Candi agung pantas bernapas kembali sebagai urat nadi kegiatan spiritual, bukan sekadar monumen mati sisa kejayaan purba penarik turis. Semaraknya lantunan doa suci jauh lebih bermakna daripada riuhnya tepuk tangan ribuan penonton konser malam buta.

Konservasi Sebagai Panglima Tertinggi

Kerja konservasi mutlak ditempatkan sebagai panglima tertinggi dalam merumuskan setiap kebijakan turunan pengelolaan cagar budaya.

Anggaran negara pantas difokuskan membiayai upaya perawatan, penelitian mendalam, serta pendidikan sejarah peradaban bangsa. Pejabat berwenang memikul beban tanggung jawab sejarah amat berat menjaga warisan tidak ternilai harganya. Keputusan hari esok menentukan nasib peninggalan bersejarah masa silam.

Ambisi memoles wajah kawasan sekadar demi mengejar gengsi pariwisata internasional harus ditekan sekuat tenaga. Biarkan candi berdiri anggun dalam balutan kesunyian absolut penjaga spiritualitas Nusantara. Batu tua bercerita ragam kisah bermakna lewat pahatan relief tiada duanya.

Tugas peradaban masa sekarang sekadar sungguh-sungguh menjaga utuh kelestariannya menyambut generasi penerus kelak. Keserakahan berkedok jubah kebudayaan pantas lekas diakhiri sebelum penyesalan panjang tiba menjemput.

Baca Juga