Bidang usaha kian lama kian dinamis, variatif, dan bersaing. Segala yang dulu kita pikir tidak mungkin, sekarang menjadi sesuatu yang niscaya. Perubahan mindset masyarakat dan perkembangan tekhnologi adalah dua motor penggerak terbesarnya.
Jasa angkutan yang semula menunggu penumpang di lokasi-lokasi tertentu, sekarang mengubah haluan menjadi menjemput penumpang di tempat yang dikehendaki sesuai pesanan. Tentu saja lewat aplikasi online.
Demikian pula bidang tata boga alias kuliner. Tanpa perlu bersusah payah, menuju pusat kuliner, tinggal menunggu di rumah sembari bersantai, hanya cukup memencet-mencet layar handphone, ragam makanan yang dikehendaki, sampai dalam hitungan menit.
Rupa-rupanya, peluang usaha via jaringan online semakin merambah luas. Jasa tambal ban yang semula stay di satu tempat, kini dapat diakses lebih mudah dan praktis.
Kaitannya dengan judul tulisan, izinkan saya curhat. Saya dan keluarga tinggal di kawasan pusat Kota Purbalingga. Tapi, entah kenapa atau bagaimana, di kelurahan tempat saya tinggal, cukup sukar ditemui tukang tambal ban? Oleh karena itu, jika ban sepeda motor kempes karena bocor, repot sekali saya harus menuntun ke tempat yang jauh.
Lewat penelusuran di media sosial, saya menjumpai jasa Top, akronim dari Tambal Ban Online. Syukurlah, ketika dihubungi, responsnya cepat. Jawabannya jelas dan gamblang. Tidak berselang lama setelah share lokasi, petugas tambal ban, datang. Padahal waktu itu, sudah relatif malam, karena di atas jam 19.00 WIB.
Tetapi Top sigap membantu. Dengan peralatan tambal ban yang dibawa lengkap, urusan menutup ban dalam bocor, segera teratasi.
Ternyata, bayar jasanya cukup murah. Dua puluh lima ribu rupiah saja, termasuk garansi. Maksudnya, jika bekas tambalan tersebut bocor lagi, maka pelanggan dapat menambalkan kembali tanpa ditarik bayaran.
Hal ini jelas memudahkan serta praktis. Tidak perlu menuntun kendaraan. Tidak perlu menghabiskan waktu di tempat tambal ban. Pelanggan tinggal duduk di rumah sambil mengerjakan segala yang harus segera diselesaikan. Dalam hal saya, ialah sambil menuntaskan urusan kantor dan pekerjaan sampingan lain.
Terima kasih Top, Purbalingga.
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
Kolom
-
Saat Film Mengemas Gambaran Durhaka dari Legenda Kelam Malin Kundang
-
Duka Rakyat, Tawa Penguasa: Sebuah Pilu di Balik Kobaran Api Keadilan
-
Menggugat Konsep Nama Baik Keluarga: Beban Perempuan dalam Tradisi Sosial
-
80 Tahun DPR, Ulang Tahun di Atas Luka dan Derita Rakyat
-
Nyala Jiwa Ibu Berjilbab Pink: Elegi Perjuangan di Negeri yang Tengah Lebur
Terkini
-
Saleh Husin, Jusuf Kalla, Nasaruddin Umar Sholat Jumat di Masjid BSD Bersama Ribuan Umat Muslim
-
Demo Berujung Ricuh di Grahadi Surabaya, Ada Dugaan Pendiskreditan Ojol?
-
Sky Walking oleh Miyeon: Keinginan untuk Terbang Bersama Seseorang Spesial
-
Rilis First Look, Sutradara Film Harry Potter Kritik Hagrid Versi Serial
-
Pilih Gabung Persib, Nasib Thom Haye Bisa Seperti Jordi Amat di Timnas?