Sebagaimana disadari, bahwa childfree merupakan istilah yang mengacu pada seseorang yang tak memiliki anak, baik biologis, adopsi, atau lainnya. Tidak heran jika childfree menjadi topik perbincangan di berbagai kesempatan.
Artinya, istilah di atas tentu dapat digunakan untuk menggambarkan seseorang yang telah memilih untuk tak memiliki anak. Namun, bisa juga untuk mereka yang tak bisa memiliki anak karena sebab-sebab tertentu; misalnya karena masalah kesehatan.
Hemat penulis, memilih untuk tidak memiliki anak merupakan suatu pilihan yang hendaknya dihormati semua orang. Tampaknya tidak tepat jika istilah childfree selalu dikonotasikan hanya mengikuti tren belaka, karena hal ini merupakan bentuk penghakiman yang tidak berdasar.
BACA JUGA: Tuai Pro Kontra, Ini 4 Alasan Pasangan Memilih Childfree
Memang, ada sebagian kalangan yang memiliki pandangannya tersendiri mengapa memilih tidak memiliki anak. Misalnya karena alasan ekonomi dan tanggung jawab yang tidak ringan sebagai orang tua, pengalaman tumbuh kembang, luka pengasuhan masa lalu, dan persoalan kesehatan mental.
Ada pula individu beralasan bahwa memilih untuk tidak memiliki momongan lantaran karena tidak menginginkan anaknya di masa depan juga merasakan “luka” batin yang pernah dialaminya ketika kecil.
Jadi tidak perlu heran jika di masa sekarang ini tidak sedikit pasangan yang biasanya berupaya untuk mempersiapkan kondisi mental terlebih dahulu sebelum memutuskan memiliki/tidak memiliki anak.
Kita juga mafhum, bahwa anak tidak sekadar membutuhkan sandang, pangan dan papan, akan tetapi juga memerlukan kedekatan emosional dan kasih sayang, agar tercipta kelekatan (bonding) dengan orang tuanya.
Hemat penulis, keputusan memilih childfree hendaknya diambil berdasarkan kesepakatan dengan pasangan, agar tuduhan-tudahan sekadar mengikuti tren atau hanya mengikuti pilihan orang lain dapat diminalisir.
BACA JUGA: Childfree tapi Didoakan Punya Anak, Gita Savitri Emosi Tanggapi Netizen: Gak Ada Adab
Sementara ini, tidak dapat dipungkiri bahwa “gaya hidup” masyarakat di Indonesia pasca menikah adalah memiliki anak-keturunan. Hal ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap diajukan pada pengantin baru, seperti; “Rencananya ingin punya anak berapa?”, ”laki apa perempuan, nantinya?”
Perlu diperhatikan, bahwa memilih menikah tanpa memiliki anak merupakan hak setiap individu yang perlu dihargai. Oleh karenanya, kehadiran negara dengan seperangkat otoritasnya agar memenuhi hak-hak warganya agar terbebas dari segala bentuk kekerasan. Bagi saya, menghakimi orang lain yang memilih tidak memiliki anak merupakan perwujudan dari tindakan kekerasan verbal.
Sebagai catatan penutup penulis ingin menggaris bawahi satu hal jika pilihan tidak memiliki anak dapat dipahami sebagai bentuk keberhasilan kampanye terhadap hak kesehatan reproduksi (HKSR), yang di dalamnya menjamin setiap individu untuk dapat mengambil keputusan terkait dengan aktivitas seksual dan reproduksi mereka tanpa diskriminasi, paksaan, dan segala bentuk kekerasan. Semoga.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
Belajar Membaca Peristiwa Perusakan Makam dengan Jernih
-
Kartini dan Gagasan tentang Perjuangan Emansipasi Perempuan
-
Membongkar Kekerasan Seksual di Kampus oleh Oknum Guru Besar Farmasi UGM
-
Idul Fitri dan Renyahnya Peyek Kacang dalam Tradisi Silaturahmi
Artikel Terkait
-
Tanggapi Netizen Nyinyir, Gita Savitri Dinilai Liar Depan Suami Sendiri, Publik: Kok Keliatan Arogan
-
Heboh Childfree, Curhatan Masa Lalu Gita Savitri Terbongkar: Gue Pengen Punya Dua Anak
-
Kiky Saputri Pusing Mikirin Gaya Bikin Anak, Netizen: Spill yang Sudah Apa Aja
-
Tak Setuju dengan Childfree, Wapres Ma'ruf Amin: Lantas Dunia Ini Siapa yang Melanjutkan?
-
Lagi Heboh Soal Childfree, Kiky Saputri Ikut Beri Tanggapan: Pusing Gonta Ganti Gaya
Kolom
-
Berburu Minyak Dunia: Mengapa Cadangan 'Jumbo' Kita Masih Terkubur?
-
Ekowisata dan Komitmen Destinasi Berkelanjutan, Sejauh Mana?
-
Apatisme yang Dipupuk: Ketika Rakyat Melepas Nasibnya Sendiri
-
Habis THR Terbitlah Undangan: Menghadapi 'Musim Kawin' Syawal yang Brutal
-
Belajar dari Kisah Hamlet dan Ophelia: Jangan Sampai Cinta Hancurkan Diri
Terkini
-
Badan Usaha Beraset Triliunan: Konsep Koperasi di Buku Model BMI Syariah
-
Sepotong Senja untuk Pacarku: Cinta, Imajinasi, dan Realitas yang Terbentur
-
Dipuji Jangan Terbang, Dihina Jangan Tumbang:Seni Menjaga Diri di Tengah Tekanan
-
Minim Menit Bermain di Persija, Shayne Pattyanama Berpeluang Hengkang?
-
Ulasan Novel Melangkah, Ketika Nusantara Menjadi Gelap Tanpa Aliran Listrik