Sebagai seseorang yang pergi dan pulang bekerja menggunakan transportasi umum, Mega sudah cukup hafal dengan jadwal dan rute bus yang harus ia naiki setiap hari. Hari itu, seperti biasanya, ia berangkat dari rumah pukul 07.00 pagi agar bisa sampai di kantor lebih awal. Setelah berjalan kaki sekitar 5 menit dari rumah, Mega akhirnya sampai di halte. Beberapa saat kemudian bus nomor 97 yang biasa ia tumpangi datang dan dia langsung naik begitu bus berhenti.
Mega duduk di kursi tepat samping jendela sembari melihat lalu lalang pengendara. Mereka tampak terburu-buru sampai ke tujuan masing-masing. Sebagian ada yang berseragam sekolah, ada yang mengenakan seragam PNS, ada pula yang mengenakan pakaian kerja rapi. Ia mengembuskan napas berat sembari memandang bayangannya sendiri yang terpantul di kaca. Rasanya jauh sekali jika ia bermimpi menjadi seperti mereka yang bekerja dengan seragam atau kemeja kerja yang rapi. Lulusan SMK sepertinya, sudah cukup beruntung bisa bekerja di pabrik, meski ia menyadari kariernya tidak akan bisa melambung jauh seperti halnya lulusan sarjana. Pasalnya, sudah empat tahun bekerja, ia tetap memegang posisi yang sama sebagai staf pengemasan barang.
Empat puluh menit perjalanan berlalu tanpa terasa. Bus yang ditumpangi Mega berhenti tepat di depan pabrik tempatnya bekerja. Dengan segera, ia masuk menuju bagian pengemasan. Di sana sudah ada banyak barang yang siap di-packing sebelum nanti diambil oleh pihak ekspedisi.
"Mega, hari ini kamu lembur, ya. Ada banyak pesanan yang harus dikirim sore ini dan besok pagi." Mbak Leni, atasan Mega di pabrik itu langsung menodongnya begitu ia terlihat di ruangan.
"Baik, Mbak." Dengan cekatan, Mega memulai pekerjaannya. memeriksa ukuran dan warna barang, mencocokkannya dengan nota pesanan, lalu melakukan packing dengan rapi sesuai standar pabrik. Pengalamannya bekerja di pabrik konveksi tersebut selama empat tahun membuatnya sudah terbiasa dengan ritme kerja di sana. Lembur dadakan pun bukan hal yang asing lagi baginya.
Pukul 17.00 beberapa karyawan mulai terlihat mengemasi barang dan bersiap untuk pulang. Namun, Mega masih berkutat dengan 200 pesanan yang harus ia packing hari ini. Mendekati lebaran, pesanan memang melonjak cukup tinggi. Dalam sehari bisa sampai ribuan yang harus dikirim. Di ruangan yang sama, suara lakban yang ditarik dan ditempel masih bersahutan. Ada beberapa orang yang juga lembar bersamanya hari ini.
Mega baru menyelesaikan pekerjaannya sekitar pukul 20.30. Sementara bus terakhir yang lewat depan pabrik sudah lewat sejak satu setengah jam yang lalu. Artinya, ia harus berjalan kaki sekitar 20 menit untuk menuju jalan provinsi yang masih dilewati bus hingga larut malam.
Kurang lebih pukul 21.00, akhirnya bus yang ditunggu Mega lewat. Ia segera naik dan menyebutkan tujuannya. Dengan tubuh lelah, ia menjatuhkan tubuhnya di kursi nomor 10. Malam itu, bus tak terlalu penuh. Mega memejamkan matanya sejenak untuk melepas penat. Beberapa menit kemudian, ia kembali membuka mata.
"Jangan sampai aku ketiduran," ucapnya lirih, sebelum membuka ponsel untuk melihat beberapa pesan masuk.
Di saat yang sama, ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari arah kanan. Mega menoleh. Tak ada siapapun di belakangnya. Bus yang ia tumpangi cukup sepi. Hanya ada sekitar tujuh atau delapan penumpang yang semuanya duduk di depan dirinya.
Mega kembali fokus ke arah ponsel. Dan saat itulah ... ekor matanya menangkap ada perempuan yang duduk di kursi nomor 13. Ia merasakan ada angin berembus di samping telinganya. Hawa dingin menerpa membuang buku kuduk Mega berdiri seketika.
Perempuan berambut panjang di kursi 13 itu masih menunduk dalam diam. Mega tak bisa melihat jelas wajahnya yang tertutup rambut. Namun ..., pakaian wanita itu tampak kotor, penuh noda kecoklatan, dan merah yang sudah sedikit memudar, seperti bercak darah.
Mega terdiam cukup lama. Jantungnya berdegup kencang. Dengan tubuh yang sudah mulai bergetar, ia menoleh ke kanan. Dan ... perempuan itu menghilang. Satu deret kursi di belakangnya masih kosong seperti tadi.
"Mungkin aku salah lihat," pikirnya.
Gadis 26 tahun itu menghela napas lega. Tatapannya kembali ke ponsel. Kali ini, ia fokus menggulir layar membaca novel di platform online sembari menunggu bus tiba di halte dekat rumahnya. Namun, saat sedang asyik mengikuti jalan cerita, ekor matanya kembali menangkap perempuan tadi. Refleks, Mega menoleh. Dan di kursi 13 yang sebelumnya kosong itu ... ia melihat perempuan yang sama. Namun, posisinya kali ini tak lagi menunduk, melainkan menatap ke luar jendela.
"Halte Merah Putih! Halte Merah Putih!" Teriakan kondektur sontak mengejutkan Mega. Ia bergegas menyandang kembali tas bahunya dan turun dari bus.
Lalu saat kendaraan besar tersebut melaju tepat di depan matanya, Mega bisa melihat sosok perempuan di kursi 13 menatapnya. Bibirnya tampak tersenyum tipis lalu semakin lebar ... melebar lagi ... hingga nyaris mencapai telinga.
Mega pulang dengan perasaan campur aduk. Malam itu, ia tak kunjung bisa terlelap. Untuk kesekian kalinya, ia coba memejamkan mata. Namun, lagi-lagi, sosok itu seolah mengikutinya sampai rumah ..., dan ada di dalam kamarnya. Mega mencoba bertahan. Tapi semakin lama, sosok yang tadinya hanya terlihat di pintu itu semakin mendekat ... terus mendekat ... dengan tubuh melayang ... kini sosok itu tepat di depan matanya hingga membuat Mega berjengit kaget dan langsung membuka matanya.
Tak ada siapapun di kamarnya. Tetapi, berulang kali ia menutup mata, sosok yang sama selalu muncul. Mega menyerah. Dia ambil ponsel dan membuka platform streaming drama Korea. Sepertinya, memang lebih baik ia tidak tidur dan menonton sampai pagi.
Saat sedang asyik menonton drama, tanpa sengaja Mega melirik ke arah cermin yang menempel di dinding. Dan di cermin itu ... ia melihatnya lagi. Sosok perempuan bergaun putih penuh bercak kecokelatan dan merah pudar sedang menyeringai lebar sambil menatapnya. Yang lebih mengerikan, Mega jelas mengingat, saat berjalan pulang setelah turun dari bus tadi, perempuan itu masih ada di dalam sana.
Baca Juga
-
Dompet Menangis karena Geng Pertemanan? Budaya Konsumtif Kini Makin Ngeri
-
In This Economy, Apakah Nongkrong di Kafe Estetik Masih Worth It?
-
Penuh Plot Twist! Ini 5 Rekomendasi Drama Korea yang Cocok Ditonton Setelah The Scarecrow
-
Ketika Keresahan Masyarakat Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Nggak Pakai Dolar"
-
Dapur, Sumur, dan Kasur: Benarkah Peran Perempuan Hanya Sebatas Itu?
Artikel Terkait
-
Doyan Beli Emas, Pembiayaan Konsumer Bank Mega Syariah Tumbuh 23 Persen
-
Menolak Lupa! 28 Tahun Reformasi, Aliansi Perempuan: Jangan Jadikan Tubuh Kami Sasaran Kekerasan
-
Perempuan dan Pentingnya Budaya Literasi: Bekal Melek di Era Digital!
-
Aliansi Perempuan Indonesia Gelar Aksi 28 Tahun Reformasi di Komnas HAM
-
Dilema Finansial Perempuan: Gaji Tak Seberapa, Ekspektasi Setinggi Langit
Cerita-misteri
Terkini
-
4 Essence Toner Probiotic, Kunci Kulit Auto Lembap dan Skin Barrier Kuat!
-
Samsung dan Google Siapkan Kacamata AI, Canggih tapi Tetap Fashionable
-
Demam Padel: Akankah Bertahan Lama atau Bernasib Sama seperti Tren Olahraga Sebelumnya?
-
Menakar Ego Donald Trump: Tabuhan Genderang Perang Mengancam Dompet Kita
-
Kumpulan Cerpen Stephen King yang Bikin Merinding di Buku Just After Sunset