Keberadaan pepohonan atau area hijau bagi kehidupan bumi tentunya memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kualitas kehidupan di dunia. Kelestarian pepohonan atau ruang terbuka hijau tentunya dapat menjadi tolak ukur kualitas udara di dunia. Pada tanggal 13 April tahun 2023 kali ini kembali diperingati sebagai Hari Apresiasi Tanaman Sedunia atau International Plant Appreciation Day. Melansir dari situs National Today, peringatan tersebut merupakan salah satu bentuk kampanye kepedulian terhadap tanaman yang merupakan mesin penghasil oksigen alami di bumi.
Kelestarian tanaman atau yang dapat dianalogikans sebagai area pepohonan seperti taman, hutan ataupun ruang terbuka hijau lainnya tentunya bukan hanya untuk menjaga kualitas oksigen dan udara di dunia semata. Akan tetapi, juga menjadi penjaga keseimbangan ekosistem hayati di bumi. Tentunya pepohonan dapat menjadi habitat tertentu dari sebuah atau kawanan makhluk hidup yang pastinya memiliki peran tersendiri bagi kehidupan. Menjaga kelestarian tanaman tentunya kita juga turut menjaga ekosistem tersebut tetap lestari.
Peran Area Terbuka Hijau Terhadap Penanggulangan Polutan
Tanaman tentunya memiliki peran yang cukup krusial sebagai penjaga kualitas udara di bumi. Perannya yang diibaratkan menjadi mesin penghasil oksigen tentunya masih belum dapat digantikan seutuhnya hingga saat ini. Namun, dalam beberapa tahun terakhir beberapa hutan penopang yang dahulunya menjadi sumber penghasil oksigen di dunia mulai terkikis sedikit demi sedikit. Hal inilah yang membuat perlunya kesadaran dalam diri untuk tetap menjaga kelestarian hutan dan ruang terbuka hijau diperkotaan sebagai salah satu kiat menjaga kualitas udara di bumi.
Langkah inilah yang mulai dilakukan oleh beberapa lembaga dan pemerintahan di seluruh dunia. pengelolaan ruang terbuka hijau di beberapa kawasan termasuk di area perkotaan seringkali menjadi rencana jangka panjang dalam tata ruang kota. Banyak kota di dunia yang juga mulai menerapkan konsep “Eco-Green City” dalam sistem tata ruang kotanya. Melansir data yang dirilis oleh NASA, dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2017 silam setidaknya ada 10 negara yang mengalami pembangunan area hijau paling besar di dunia.
Urutan pertama terdapat Cina yang menyumbang sekitar 17.8% dan diikuti oleh India yang melakukan pertumbuhan sekitar 11.1% dari total wilayahnya yang mulai tertutupi area pepohonan atau ruang terbuka hijau.
BACA JUGA: Pengurangan Tempat Pembuangan Sampah di Samarinda, Estetika atau Penyebab Bencana?
Langkah ini tentunya merupakan hal yang cukup positif dalam menjaga kelestarian area terbuka hijau dan tanaman di kawasan perkotaaan ataupun kawasan lainnnya. Tentunya hal ini masih perlu pengembangan dan komitmen lebih besar lagi dari para pihak terkait. Namun, setidaknya langkah ini menjadi awal yang cukup bagus dalam menjaga kualitas udara di bumi yang kian hari kian rusak oleh polutan bebas.
Penerapan Sistem Ruang Terbuka Hijau Dari Rumah Sendiri
Kamu juga dapat berperan dalam menjaga ketersedian ruang terbuka hijau di area sekitarmu. Kamu dapat menanam beberapa tanaman seperti pohon atau varietas tanaman lainnya yang dapat menyejukkan area sekitar di rumahmu. Tentunya tanaman yang menjadi pilihan untukmu yang akan ditanam di area rumahmu dapat menyesuaikan dengan seleramu sendiri. Kamu juga bisa menanam tanaman yang sekiranya dapat difungsikan sebagai tanaman pangan seperti cabai-cabaian, pohon mangga, tanaman bawang-bawangan ataupun tanaman sayur mayur dan buah lainnya.
Langkah tersebut tentunya dapat berperan dalam menjaga area terbuka hijau dan menjaga kualitas udara di sekitarmu, sekaligus dapat dipergunakan untuk kepentinganmu sendiri. Langkah penanaman tanaman secara mandiri di kawasan rumah tersebut tentunya sudah sering digalakkan oleh beberapa pemerintah negara guna mendorong peran masyarakat untuk ikut andil dalam menjaga ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan guna menjaga kualitas udara di daerah tersebut agar dapat tetap sehat.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?
-
Lebih dari Sepak Bola, Inggris vs Argentina Jadi Laga Sarat Muatan Politik
-
Skandal Kartu Merah Piala Dunia: Bom Waktu yang Dipasang Sendiri oleh FIFA?
-
Dari Euro 1992 ke Piala Dunia 2026: Benarkah Skandinavia Sedang Menuju Masa Kejayaan Baru?
-
Comeback yang Berakhir Air Mata: Mengapa Piala Dunia 2026 Jadi Mimpi Buruk Neymar?
Artikel Terkait
Kolom
-
Ketimpangan Jejak Karbon: Emisi Orang Kaya di Balik Kampanye Go Green
-
Dilema Pekerja Digital Masa Kini: Saat Jam Kerja Tak Lagi Punya Batas
-
Krisis Identitas Gen Z: Saat Algoritma dan Media Sosial Membentuk Jati Diri
-
Dilema Pencari Kerja: Mengapa Mencari Upah Layak Dianggap Pilih-pilih?
-
Standar Ganda Idol K-Pop : Kenapa Idol Laki-Laki Lebih Mudah Dimaafkan?
Terkini
-
Review Serial Marc by Sofia: Estetika Sunyi Sofia Coppola yang Memesona
-
4 Physical Sunscreen Heartleaf Cegah Kulit Sensitif Iritasi Akibat Sinar UV
-
Rilis Forever July, Sunmi Bandingkan Sensasi Jatuh Cinta bak Hujan Deras
-
5 Film dan Serial Romantis Netflix Paling Banyak Ditonton Sepanjang 2026
-
Belajar dari Bear di Film Obsession: Keinginan yang Tak Pernah Terpuaskan