Hernawan | Aji Putra Perdana
Ilustrasi Robot AI menatap dunia pemetaan (Unsplash/Alex Knight)
Aji Putra Perdana

Sebagai pemerhati teknologi geospasial, saya terkesima melihat berita yang menayangkan Robot AI (Artificial Intelligence - Kecerdasan Buatan) dalam konferensi pers saat forum “AI for Good” yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss pada awal bulan Juli 2023.

Poin yang mencengangkan adalah adanya silang pendapat antar Robot AI tatkala ditanya sejauh mana mereka dalam memimpin dunia dan akankah mereka melawan manusia. Mereka menyadari bahwa mereka tidak mempunyai perasaan sebagaimana manusia.

Di sisi lain, dunia penelitian dan penulisan sempat dan bahkan masih dihebohkan dengan kemampuan linguistik AI, salah satunya keberadaan ChatGPT. Bahkan, di dunia karya seni teknologi AI makin meningkatkan kemampuannya dalam menghasilkan gambar atau foto yang diterjemahkan dari susunan rangkaian kata sebagai inputnya. Di dunia geospasial, yang menjadi kunci perencanaan dan pembangunan di Indonesia saat ini, juga tak dapat dielakkan dari perkembangan teknologi AI.

Kecerdasan Buatan di Bidang Geospasial (GeoAI)

Sebagaimana dilansir dalam salah satu media geospasial, Mark Munsell, Wakil Direktur Badan Intelijen Geospasial Nasional Amerika bidang Data dan Inovasi Digital, menyatakan bahwa dalam banjirnya data dan tantangan keberlanjutan dalam memodelkan fenomena di bumi ini, satu-satunya cara adalah menggunakan mesin.

Namun, Munsell lebih lanjut menegaskan bahwa kemampuan analisis geospasial dari sumber daya manusia (SDM) di bidang geospasial tetaplah dibutuhkan. Keberadaan kecerdasan buatan geospasial atau dikenal kecerdasan buatan di bidang geospasial (GeoAI) ini akan membantu meningkatkan efisiensi dan tetap membutuhkan kolaborasi antara manusia dan mesin.

Teknologi GeoAI memungkinkan pemrosesan data yang lebih cepat, analisis yang lebih mendalam, dan pengambilan keputusan yang lebih akurat. Salah satu contoh penting dari penerapan teknologi GeoAI adalah penggunaan algoritma dan teknik pembelajaran mesin untuk analisis citra satelit atau pemetaan digital.

Sebagaimana dilansir dalam situs web ESRI Indonesia, Ade Komara Mulyana, Kepala Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim – Badan Informasi Geospasial, menyampaikan dalam acara GeoAI Summit 2022 di Indonesia bahwa otomasi pemetaan rupabumi menggunakan GeoAI dapat mengurangi waktu proses pengolahan data hingga lebih dari 79% dibandingkan dengan proses manual.

Kini pemanfaatan GeoAI untuk kegiatan pemetaan tematik pun mulai marak digunakan. Bahkan, tren karya tulis mahasiswa sebagai tugas akhir/skripsi hingga tesis/disertasi pun berkembang ke arah eksplorasi sejauh mana GeoAI mampu menjawab pertanyaan keruangan dengan optimalisasi data penginderaan jauh yang makin mudah diakses.

Pemanfaatan teknologi GeoAI tidak berhenti di situ saja, saat saya menjadi moderator dalam forum diskusi mengenai percepatan penyediaan peta dasar. Salah satu narasumber yang bekerja di bidang layanan aplikasi berbasis lokasi menyampaikan peran GeoAI dalam transformasi digital layanan mereka, meningkatkan kenyamanan dan kemudahan bagi pengguna.

Menjajaki Keberadaan Geo-Etika dalam Penerapan Teknologi GeoAI

Penerapan teknologi GeoAI membawa banyak manfaat, seperti pemrosesan data yang lebih cepat, analisis yang lebih mendalam, dan pengambilan keputusan yang lebih akurat. Namun, bersamaan dengan kemajuan ini, ada berbagai pertimbangan etika yang harus dipertimbangkan untuk memastikan penggunaan teknologi tersebut sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip moral.

Oleh karena itu, kajian tentang geo-etika menjadi semakin relevan dan penting. Geo-etika merupakan cabang etika yang berkaitan dengan pertimbangan moral dan nilai-nilai dalam penggunaan dan penerapan teknologi geospasial, termasuk AI, dalam pemetaan dan analisis data geografis.

Salah satu isu etika yang muncul adalah bagaimana teknologi GeoAI digunakan untuk memastikan keadilan dan kebermanfaatan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya segelintir orang atau kelompok. Adanya kemampuan pemrosesan data yang besar dan analisis mendalam dapat membantu mengidentifikasi masalah dan potensi solusi dalam perencanaan dan pembangunan, namun juga dapat memunculkan isu privasi dan penyalahgunaan data.

Selain itu, GeoAI dapat menghasilkan pemetaan yang sangat detail dan informasi yang sangat sensitif tentang lingkungan dan masyarakat. Dalam konteks ini, penting untuk mempertimbangkan etika penggunaan data dan transparansi dalam pengambilan keputusan yang didasarkan pada teknologi AI.

Geo-etika juga berkaitan dengan pertanyaan tentang tanggung jawab dan akuntabilitas dalam penggunaan teknologi GeoAI. Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan atau kegagalan dalam analisis data geospasial yang dihasilkan oleh AI? Bagaimana menghadapi potensi bias dalam pengambilan keputusan yang diotomatisasi oleh algoritma AI?

Dalam menghadapi berbagai pertanyaan dan isu etika ini, penting bagi para pemangku kepentingan di bidang geospasial dan AI, termasuk pemerintah, akademisi, lembaga penelitian, perusahaan teknologi, dan masyarakat, untuk berdiskusi dan menyusun kerangka kerja etika yang mengatur penggunaan teknologi ini secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Kesiapan Sumber Daya Manusia di Bidang Geospasial

Meneropong cepatnya perkembangan teknologi tersebut, maka kesiapan sumber daya manusia di bidang geospasial menjadi hal yang krusial. Perkembangan teknologi GeoAI akan mengubah cara kerja dan mempengaruhi peran para profesional di bidang survei dan pemetaan dan penyelenggaraan informasi geospasial di Indonesia. Terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk memastikan bahwa sumber daya manusia di Indonesia siap menghadapi perubahan ini:

Pertama, pendidikan dan pelatihan. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan terkait teknologi AI dan geospasial menjadi hal yang mutlak. Institusi pendidikan dan lembaga pelatihan harus beradaptasi dengan cepat dan menyediakan kurikulum yang relevan dengan perkembangan teknologi ini. Selain itu, pelatihan dan kursus mengenai geo-etika dan pertimbangan etika dalam penggunaan teknologi AI juga harus diberikan kepada para profesional di bidang geospasial.

Kedua, kolaborasi dengan dunia industri. Kerjasama antara lembaga akademis dan industri menjadi penting untuk mengidentifikasi kebutuhan pasar dan mengarahkan penelitian serta pengembangan teknologi AI yang relevan dengan kebutuhan dunia geospasial. Melalui kolaborasi ini, para sumber daya manusia di bidang geospasial dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang aplikasi teknologi AI dalam dunia nyata.

Ketiga, sertifikasi profesional. Pendirian sistem sertifikasi profesional untuk para ahli geospasial dapat membantu memastikan bahwa para praktisi memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan standar internasional. Sertifikasi ini juga harus mencakup aspek etika dalam penggunaan teknologi AI dalam geospasial. Semoga berbagai pihak terkait sertifikasi profesional di bidang geospasial mulai mendiskusikannya dengan matang.

Keempat, penyusunan pedoman geo-etika. Dalam menyelenggarakan kegiatan pemetaan dasar maupun tematik melalui pemanfaatan teknologi AI, maka Indonesia harus memiliki pedoman geo-etika yang jelas dan mengikat. Pedoman ini harus menetapkan prinsip-prinsip etika yang harus diikuti dalam pengumpulan, pengolahan, dan penggunaan data geospasial.

Kelima, kesadaran publik. Meningkatkan kesadaran publik mengenai teknologi AI dalam pemetaan dan pentingnya geo-etika menjadi kunci untuk memastikan adopsi teknologi yang berkelanjutan dan berdampak positif. Kampanye penyuluhan dan edukasi publik tentang manfaat, risiko, dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi ini harus diselenggarakan secara aktif.

Berdasarkan kelima pertimbangan di atas, maka profesi geografer dan surveyor memainkan peran penting dalam penyelenggaraan pemetaan di Indonesia. Para profesional di bidang geospasial ini diharapkan dapat bersinergi dan berkolaborasi serta tentunya bertanggung jawab untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan informasi geografis yang akurat dan relevan, guna mendukung pengambilan keputusan yang tepat dalam pembangunan dan perencanaan di berbagai sektor.

Dengan menggali potensi teknologi GeoAI dan menghadapinya dengan pemahaman tentang Geo-etika, SDM di bidang geospasial menjadi garda terdepan dalam memanfaatkan teknologi GeoAI secara bertanggung jawab dan mengoptimalkan manfaatnya bagi kemajuan Indonesia menuju masa depan yang berkelanjutan dan inovatif.

Aji Putra Perdana, Surveyor Pemetaan Madya di Badan Informasi Geospasial