Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024 akan berlangsung pada tanggal 27 November 2024 sesuai dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 2 Tahun 20244. Pilkada merupakan pemilihan yang dilakukan secara langsung oleh masyarakat yang telah memenuhi syarat untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.
Memasuki tahun politik memang cukup gengsi dan asyik untuk diperbincangkan, bukan hanya para tokoh elit, tetapi juga masyarakat golongan menengah ke bawah yang ada di pos-pos ronda tak mau ketinggalan untuk membahas tokoh-tokoh potensial yang akan menjadi pemimpin mereka.
Selain menjadi perbincangan yang asyik, tahun politik juga justru membuat ada masyarakat yang makin muak kepada pemerintah. Mereka beranggapan kalau pesta demokrasi (baik Pemilu maupun Pilkada) hanyalah guyonan penguasa untuk merebut suara rakyat.
Pesta demokrasi tak sedikit dipertontonkan hanyalah sebuah medium untuk berpura-pura ingin meladeni rakyat dengan sejumlah janji-janji manis yang diutarakan. Alhasil, ketika sudah terpilih, banyak pemimpin yang justru melupakan janji-janji yang telah diutarakannya. Fenomena seperti inilah yang membuat ada masyarakat tidak terlalu percaya dengan pemilihan.
Pemilu 2024 yang baru saja selesai digelar dengan ditetapkannya Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih, juga tak sedikit menuai polemik yang ditimbulkan di tengah-tengah masyarakat. Termasuk polemik soal pencalonan Gibran yang berawal dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang berubah syarat batas minimal usia. Sehingga, isu mengenai politik dinasti dan oligarki berkeliaran menghantui rakyat.
Baru-baru ini, kembali geger di masyarakat soal keputusan Mahkamah Agung (MA) yang mengubah syarat calon kepala daerah. Bahkan, banyak yang menyebut kalau putusan MA tersebut telah membentangkan karpet merah kepada putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangareb yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Sebagai informasi, Kaesang yang saat ini berusia 29 tahun dan akan memasuki usia 30 tahun pada 25 Desember 2024 mendatang bisa ikut dalam kontestasi Pilkada Serentak 2024 dengan mengacu pada putusan MA tersebut.
Belum lagi, ketika foto Kaesang bersama dengan keponakan Prabowo diedarkan dan disebut sebagai pasangan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Jakarta 2024 mendatang.
Walaupun itu bisa hanya sebagai bentuk propaganda, tetapi tak bisa dipungkiri kalau berhasilnya Kaesang maju sebagai calon Gubernur tentu makin santer disebut keluarga Jokowi akan membangun politik dinasti. Apalagi diperkuat dengan putusan MA yang terbaru dengan sedikit polemiknya di media sosial.
Bisakah Pilkada Serentak 2024 mewujudkan trust masyarakat?
Dengan beragam problem yang terjadi, kepercayaan (trust) masyarakat haruslah yang menjadi utama. Ketika Pilkada digelar lantaran trust masyarakat tidak ada, tentu pergelaran Pilkada hanyalah sebagai ajang ceremony dan ujungnya semata-mata untuk kepentingan para penguasa saja.
Mendekati Pilkada Serentak 2024 yang tahapannya sudah berjalan ini, harusnya pemerintah bisa mengevaluasi diri dengan Pemilu yang sebelumnya sudah berlalu. Pemerintah sejatinya harus bisa menumbuhkan kepercayaan masyarakat kalau Pemilu maupun Pilkada merupakan wujud untuk mewujudkan segala kepentingan masyarakat dan publik. Bukan malah memperlihatkan kebiasaan buruk yang bisa menodai demokrasi, bukan pula mempertontonkan kalau Pilkada hanyalah ajang lima tahunan semata untuk bisa menduduki kursi kekuasaan.
Sebelum makin berkembang, pemerintah harusnya bisa melihat mulai dari akar rumput segala persoalan yang terjadi. Pemerintah mesti juga hati-hati dengan mengambil keputusan dan membuat kebijakan agar tidak jadi polemik di masyarakat. Apabila, pemerintah tidak melakukan itu, tentu trust masyarakat bisa saja makin teriris dengan segala problem yang terjadi apalagi bertepatan dengan momentum politik.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
Nyagub Gubernur Jakarta atau Tidak? Kaesang: Tunggu Kejutan di Agustus
-
Kaesang Bicara Kemungkinan Maju Pilgub Jakarta Usai Putusan MA, Tinggal Tunggu Peraturan Ini
-
Sowan Bareng Khofifah ke Kantor PSI, Emil Dardak: Mudah-mudahan Bawa Hasil Baik
-
Sekjen PDIP Diperiksa Polisi Ditanya 4 Pertanyaan, Bantah Pasal Kolonial Belanda dan Sebut Produk Jurnalistik
-
Kaesang Pilih Maju Pilgub DKI Jakarta: Mungkin Duet Sama Pak Anies Ya!
Kolom
-
AI Makin Pintar dan Serba Bisa: Saatnya Gen Z Harus Punya Pikiran Kritis
-
Bansos Bukan Barang Gratis: Ada Amanah yang Harus Dijaga
-
Kuliah Makin Mahal, tapi Kenapa Gaji Fresh Graduate Tetap Segitu-gitu Aja?
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
Terkini
-
Review Buku Cerita Buat Para Kekasih: Cinta Tak Selalu Berakhir Bahagia
-
Tanah Bekas Tambang Ternyata Masih Punya Kehidupan, Ini Temuan IPB
-
5 Novel Klasik Dunia yang Tipis dan Easy to Read, Wajib Masuk Reading List!
-
Ulasan Film Ritual Gaib: Nyai Randasura, Teror Mencekam Tumbal Pesugihan!
-
5 Mouse Gaming Wireless Murah dan Ringan, Cocok Buat Semua Game