Scroll untuk membaca artikel
Hernawan | Ridho Hardisk
Ilustrasi digital anxiety (freepik.com/Kamran Aydinov)

Gemuruh takbir berkumandang, aroma opor ayam memenuhi ruangan, senyum hangat keluarga menyambut kedatangan. Lebaran, momen yang seharusnya menjadi oase kebahagiaan setelah sebulan penuh berpuasa. Namun, di balik layar ponsel, sebuah fenomena mengintai, siap menjerat kita dalam pusaran kecemasan: digital anxiety.

Pernahkah Anda merasa cemas saat melihat unggahan Lebaran teman-teman Anda di media sosial, yang menampilkan keluarga yang harmonis, rumah yang mewah, atau hadiah-hadiah yang berlimpah? Atau justru, Anda merasa tertekan untuk selalu memposting foto-foto Lebaran yang instagramable, demi mendapatkan validasi dari dunia maya? Jika pernah, Anda mungkin tidak sendirian. Semakin banyak orang yang mengalami digital anxiety saat Lebaran, sebuah fenomena yang mencerminkan tekanan sosial untuk selalu tampil sempurna di era digital.

Tekanan sosial untuk tampil sempurna ini semakin diperparah oleh budaya Fear of Missing Out (FOMO), yang membuat kita selalu merasa harus terhubung dengan dunia digital agar tidak ketinggalan informasi atau tren terbaru. Kita terus-menerus memeriksa ponsel kita, bahkan saat sedang berkumpul dengan keluarga, sehingga kehilangan momen-momen berharga yang seharusnya kita nikmati bersama. Kita lupa bahwa kebahagiaan sejati tidak bisa ditemukan di layar ponsel, tetapi di dalam hati dan di antara orang-orang yang kita cintai.

Digital anxiety adalah kecemasan yang timbul akibat tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial. Saat Lebaran, tekanan ini semakin meningkat. Kita merasa harus memiliki pakaian baru yang stylish, dekorasi rumah yang mewah, dan hidangan Lebaran yang lezat. Kita takut ketinggalan momen seru yang dibagikan orang lain, merasa iri melihat kebahagiaan mereka, dan akhirnya lupa menikmati momen Lebaran yang sebenarnya.

Media sosial, yang seharusnya menjadi jembatan silaturahmi, justru sering kali menjadi arena kompetisi. Kita berlomba-lomba untuk mendapatkan likes dan komentar terbanyak, membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa insecure jika unggahan kita tidak mendapatkan respons yang diharapkan.

Ironisnya, digital anxiety dapat merusak kualitas hubungan sosial kita. Kita terlalu fokus pada dunia digital sehingga mengabaikan interaksi langsung dengan keluarga dan teman. Kita lebih sibuk memotret dan mengunggah makanan daripada menikmati hidangan Lebaran yang lezat. Kita lebih tertarik membalas komentar di media sosial daripada mendengarkan cerita dari sanak saudara.

Lalu, bagaimana cara mengatasi digital anxiety dan menikmati Lebaran dengan lebih bermakna? Jawabannya sederhana: lepaskan diri dari dunia maya dan fokus pada dunia nyata. Batasi penggunaan media sosial selama Lebaran. Manfaatkan waktu tersebut untuk berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman. Dengarkan cerita mereka, berbagi pengalaman, dan ciptakan kenangan indah bersama.

Bersyukur atas apa yang Anda miliki dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Jangan biarkan standar-standar yang tidak realistis di media sosial merusak kebahagiaan Anda.

Gunakan media sosial secara bijak untuk berbagi kebahagiaan, bukan untuk pamer atau mencari validasi. Bagikan momen Lebaran yang autentik dan bermakna bagi Anda, bukan yang hanya terlihat bagus di mata orang lain.Nikmati setiap momen Lebaran dengan mindfulness. Rasakan kehangatan keluarga, nikmati hidangan lezat, dan syukuri setiap berkah yang Anda terima. Jangan biarkan digital anxiety mencuri kebahagiaan Anda.

Lebaran seharusnya menjadi momen untuk mempererat hubungan dan mensyukuri kebersamaan, bukan untuk bersaing dan menimbulkan kecemasan. Mari jadikan Lebaran tahun ini sebagai momen untuk melepaskan diri dari digital anxiety dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup: keluarga, cinta, dan kebahagiaan sejati. Selamat Hari Raya Idul Fitri! Semoga Lebaran tahun ini membawa kedamaian, kebahagiaan, dan keberkahan bagi kita semua.

Ridho Hardisk