Suatu malam saya menutup buku setelah membaca satu bab. Mata saya belum sepenuhnya terlelap, tapi tangan saya secara refleks membuka aplikasi Goodreads. Saya bukan ingin menulis ulasan atau menyimpan kutipan favorit. Saya hanya ingin menambahkan satu angka lagi ke “progress bar” tantangan tahunan saya.
Membaca kini bukan sekadar kegiatan sunyi yang membawa kita masuk ke dunia lain. Ia telah berubah menjadi proyek pribadi, dengan grafik naik-turun, reminder target, bahkan rasa bersalah. Kita membaca bukan hanya untuk menikmati, tapi untuk memenuhi ekspektasi dari diri sendiri, dari aplikasi, dan dari orang lain.
Membaca Jadi KPI Pribadi
Reading tracker seperti Goodreads, StoryGraph, atau Notion kini menjadi teman atau musuh bagi pembaca modern. Tantangan “50 buku dalam setahun” mungkin awalnya terdengar menyenangkan, tapi belakangan justru menjadi beban.
Data dari studi Jafari et al. (2020) menunjukkan bahwa pengguna Goodreads yang mengikuti tantangan tahunan bisa membaca hingga 298% lebih banyak dibanding tahun biasa. Tapi apakah lebih banyak berarti lebih dalam?
Banyak yang akhirnya memilih buku yang tipis, cepat selesai, dan tidak terlalu kompleks demi mempercepat progress. Novel tebal atau buku-buku reflektif sering tertinggal di rak karena “memakan waktu”. Maka, bacaan kita pun menjadi lebih seperti snack cepat saji. Mengenyangkan, tapi kurang bergizi.
Ironisnya, meski jumlah buku yang dibaca meningkat, hanya sebagian kecil dari peserta tantangan yang menyelesaikannya. The Atlantic mencatat bahwa hanya 16% pengguna Goodreads benar-benar mencapai target mereka. Ini artinya, sebagian besar justru berakhir dengan rasa gagal. Padahal membaca seharusnya membawa rasa cukup.
Lebih jauh lagi, penelitian Yasaman Schiffer (2023) terhadap pengguna reading tracker menyimpulkan bahwa meskipun fitur-fitur seperti progress bar dan social sharing bisa memotivasi, mereka juga menciptakan tekanan psikologis. Membaca menjadi tugas yang harus diselesaikan, bukan lagi proses yang dinikmati.
Gamifikasi: Mendorong atau Membelenggu?
Goodreads dan platform lain jelas menggunakan gamifikasi untuk mendorong keterlibatan. Kita dapat lencana, progress bar terus bergerak, dan aplikasi mengingatkan kita untuk tidak tertinggal. Tapi seperti game yang terlalu kompetitif, ada risiko burnout.
Survei “State of the Reader” oleh Italic Type (2021) menemukan bahwa 70% pengguna merasa terbantu dengan tracking karena jadi lebih konsisten membaca. Tapi survei ini juga mencatat bahwa sebagian responden merasa kehilangan hubungan emosional dengan buku yang dibaca karena terlalu fokus menyelesaikan, bukan merenungkan.
Apalagi jika kita mulai membandingkan diri dengan teman-teman di Goodreads. Yang satu sudah baca 35 buku, yang lain sudah selesaikan trilogi klasik, sedangkan kita baru setengah jalan. Rasanya seperti dihantui progress orang lain. Padahal, setiap orang punya ritme sendiri dalam menikmati cerita.
Bukan berarti tracker itu buruk. Seperti alat bantu olahraga atau jurnal harian, ia bisa berguna selama kita tetap mengendalikannya. Tapi saat tracker mulai mengatur jenis buku yang kita baca, waktu membaca, hingga perasaan kita terhadap buku yang belum selesai, mungkin sudah waktunya untuk berhenti sejenak.
Mungkin kini saatnya kita bertanya, siapa sebenarnya yang ingin kita puaskan saat mencentang buku terakhir di daftar bacaan tahunan itu? Diri sendiri? Teman di media sosial? Atau algoritma yang terus menyodorkan target berikutnya?
Kita sering lupa bahwa membaca bukan tentang menyelesaikan sesuatu, tapi tentang masuk ke dalamnya dengan menikmati kekosongan, kebingungan, dan keterhubungan yang muncul dari kata-kata.
Dalam dunia yang serba terukur dan dipamerkan, membaca dengan jujur tanpa beban angka adalah bentuk pembebasan paling sederhana namun penting. Karena pada akhirnya, tak ada satu pun tracker yang bisa mengukur seberapa dalam sebuah buku mengubah kita.
Membaca seharusnya menjadi ruang tenang, bukan arus cepat yang menenggelamkan. Kita perlu merebut kembali hak untuk membaca perlahan, merenung, bahkan mengulang halaman yang sama berulang kali. Coba tanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali kita membaca bukan karena target, tapi karena jatuh cinta pada halaman pertama?
Baca Juga
-
Kenaikan Dana Riset 2026: Mahasiswa Siap Disibukkan Dengan Inovasi Nyata?
-
Deepfake dan Manipulasi Emosi: Ketika AI Memegang Kendali Realita dan Ilusi
-
Bahasa Baru Politik Gen Z: Menilik Fenomena Viralitas Meme dan Satir di Media Sosial
-
Harapan di Penghujung 2025: Kekecewaan Kolektif dan Ruang Refleksi Pribadi
-
Komunitas Seni sebagai Terapi Kota: Ketika Musik Menjadi Ruang Kelegaan
Artikel Terkait
-
Mengurai Luka Batin Lewat Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki 2
-
Bibliosmia: Mencium Aroma Buku adalah Ritual Bagi Pencinta Literasi
-
Saat Naik Gunung Tak Semudah FYP TikTok dalam Novel Sweet Edelweiss
-
Novel Kedai Bunga Kopi: Kisah Inspiratif Perempuan dan Aroma Perjuangan
-
Ulasan Novel Part of Your World: Melepaskan Ekspektasi untuk Cinta Sejati
Kolom
-
Autentisitas dan Anti-Mainstream sebagai Mata Uang di Ekonomi Platform
-
Makanan Organik: Tren Sehat dan Masalah Ketimpangan Akses
-
AI sebagai Rekan atau Ancaman? Adaptasi Skill Anak Muda di Era Otomatisasi
-
Olahraga sebagai Status Sosial: Lari, Padel, dan Komunitas Urban 2026
-
Harga Sebuah Peluang: Mengapa Pengambil Risiko Lebih Sering Menang dalam Perlombaan Karier?