Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh yang tak hanya memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, tetapi juga memperkenalkan konsep pendidikan yang mencakup pembentukan karakter serta kepribadian yang berkualitas.
Dalam perjuangannya, Ki Hadjar menekankan pentingnya pendidikan yang merata, bebas dari diskriminasi, dan berorientasi pada kebangsaan. Meskipun era kini telah berkembang pesat, prinsip-prinsip yang diperjuangkan oleh Ki Hadjar Dewantara tetap relevan, terutama dalam mengatasi isu-isu pendidikan yang terjadi di Indonesia saat ini, seperti ketidakmerataan pendidikan, peran teknologi dalam pendidikan, dan kurangnya kesadaran sosial dalam sistem pendidikan.
Salah satu isu paling mencolok yang relevan antara perjuangan Ki Hadjar Dewantara dan kondisi pendidikan saat ini adalah ketimpangan antara pendidikan di daerah perkotaan dan pedesaan. Pada zaman perjuangan, Ki Hadjar Dewantara berjuang agar pendidikan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Begitu pula pada zaman sekarang, meskipun sudah ada kemajuan dalam infrastruktur pendidikan, ketidakmerataan fasilitas pendidikan antara daerah urban dan daerah terpencil masih menjadi masalah serius.
Di banyak daerah terpencil, fasilitas pendidikan yang layak dan tenaga pengajar yang berkualitas masih sangat terbatas, yang menyebabkan siswa di daerah tersebut kesulitan untuk mengakses pendidikan berkualitas. Ini jelas bertentangan dengan visi Ki Hadjar yang menginginkan pendidikan yang inklusif dan menyeluruh untuk seluruh rakyat Indonesia.
Selain ketimpangan geografis, masalah lain yang relevan dengan perjuangan Ki Hadjar Dewantara adalah isu mengenai kualitas pendidikan itu sendiri. Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, banyak sekali tantangan terkait dengan sistem kurikulum yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman, serta metode pengajaran yang belum optimal dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Ki Hadjar Dewantara sangat mengutamakan pendidikan yang bisa membangun karakter dan budi pekerti siswa (Khoir dkk, 2025).
Hal ini sangat relevan dengan tantangan zaman sekarang, di mana generasi muda sering kali lebih terfokus pada pencapaian akademis tanpa memperhatikan nilai-nilai moral dan etika. Dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi, terutama dalam bidang kecerdasan buatan dan digitalisasi, pendidikan harus lebih menekankan pada pembentukan karakter yang kuat, selain pengetahuan teknis. Dalam hal ini, prinsip pendidikan yang ditekankan oleh Ki Hadjar Dewantara, yang memadukan aspek intelektual dan karakter, sangat penting untuk diterapkan di zaman sekarang.
Dalam perkembangan teknologi yang serba cepat ini, pembelajaran berbasis digital, seperti penggunaan platform e-learning, menjadi isu penting lainnya. Pada masa Ki Hadjar Dewantara, pendidikan lebih banyak dilakukan dalam format tatap muka langsung, yang memungkinkan interaksi langsung antara guru dan siswa. Kini, dengan adanya pembelajaran daring (online), siswa dapat mengakses materi dari mana saja dan kapan saja.
Walaupun ini membuka peluang untuk pendidikan yang lebih fleksibel, ada tantangan besar terkait kualitas pembelajaran yang dilakukan secara daring, terutama bagi siswa yang tidak memiliki akses memadai ke perangkat dan internet. Selain itu, ada kekhawatiran mengenai hilangnya interaksi sosial dan moral yang biasanya didapatkan dalam proses pendidikan tatap muka. Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang mengutamakan pembentukan karakter dan hubungan langsung antara guru dan siswa menjadi sangat relevan di tengah perubahan ini, mengingat pembelajaran digital bisa saja mengurangi kualitas interaksi tersebut.
Di sisi lain, pembelajaran daring juga memunculkan tantangan terkait dengan kurangnya keterampilan digital yang dimiliki oleh banyak guru dan siswa. Meskipun kita hidup di era digital, masih banyak pendidik yang kurang terlatih dalam memanfaatkan teknologi untuk menunjang proses pembelajaran.
Hal ini dapat memperburuk ketimpangan yang ada, di mana hanya sebagian kecil pendidik yang mampu menggunakan teknologi dengan baik. Di sini, perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam mendidik guru dan memberikan pelatihan yang memadai sangat relevan. Pendidikan yang menyeluruh, di mana guru dan siswa diberdayakan untuk menghadapi perubahan zaman, adalah langkah penting yang perlu diambil untuk mengatasi tantangan ini.
Selain itu, terdapat masalah penting lainnya yang relevan dengan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, yakni kurangnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan karakter dalam pembelajaran. Meskipun berbagai program pendidikan telah diterapkan, masih banyak siswa yang kurang mengaplikasikan nilai-nilai moral dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bangsa yang masih berjuang untuk menciptakan keharmonisan sosial, nilai-nilai karakter seperti saling menghormati, gotong royong, dan kedewasaan dalam berpolitik sangatlah penting. Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pada pengembangan karakter seharusnya menjadi dasar bagi pendidikan saat ini, agar dapat menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki rasa tanggung jawab sosial dan moral yang tinggi.
Ki Hadjar Dewantara juga mengajarkan tentang pentingnya pendidikan yang berakar pada budaya dan kearifan lokal (Kardina dkk, 2022). Meskipun kita hidup di dunia yang semakin terhubung secara global, tetap penting untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan kebangsaan dalam proses pendidikan.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh budaya asing, pendidikan di Indonesia harus mampu menjaga identitas budaya bangsa. Ki Hadjar Dewantara meyakini bahwa pendidikan harus berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan budaya Indonesia, serta membentuk generasi yang mampu menghargai dan melestarikan warisan budaya tersebut.
Perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan tetap relevan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Melalui prinsip-prinsip yang beliau ajarkan, kita diajak untuk mengatasi ketimpangan pendidikan, menjaga kualitas pendidikan, dan membentuk karakter generasi penerus bangsa. Pendidikan Indonesia saat ini harus mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai kebangsaan dan moral, agar dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dan memiliki semangat kebersamaan dalam membangun bangsa.
Baca Juga
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Singa di Media Sosial, Anak Kucing di Ruang Kuliah: Mengapa Kita Gagap Menulis Ilmiah?
-
Sisi Gelap Label Introvert yang Bikin Generasi Sekarang Makin Egois
-
Beban Menjadi Anak Emas yang Dipaksa Menebus Kegagalan Orang Tua
Artikel Terkait
-
Ki Hadjar Tidak Akan Diundang dalam Rapat Kurikulum Hari ini
-
5 KM Lewati Hutan Demi Sekolah, Mimpi Siswi Lebak Terancam Pupus karena Tak Punya Sepatu-Alat Tulis
-
20 Kewajiban Orang Tua kepada Anak dalam Islam Sesuai Al-Quran dan Hadis, Apa Saja?
-
Kurikulum Ganti Lagi? Serius Nih, Pendidikan Kita Uji Coba Terus?
-
Politik Pendidikan Ki Hadjar: Masihkah Sekolah Jadi Ruang Perjuangan?
Kolom
-
Sesi Sambutan di Acara Resmi, Warisan Feodal yang Dianggap Normal
-
Di Tiongkok Guru Setara Dokter, di Indonesia Guru Honorer Dijerat Judi Online: Ada Apa?
-
Mengintip Surga Laptop Second Jogja yang Jadi Penyelamat Mahasiswa Rantau
-
Saat Stigma Menjadi Senjata: Mengapa Label "Demo Bayaran" Bisa Mematikan Demokrasi?
-
Ledakan Pengangguran: Membaca Persoalan di Balik Ketergantungan pada MBG
Terkini
-
Mohammad Hatta: Potret Kesederhanaan dan Integritas Sang Proklamator
-
5 Moisturizer untuk Base Makeup, Bikin Riasan Lebih Nempel dan Flawless
-
Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Misteri Ritual Kuno yang Mencekam!
-
First Look Film Werwulf, Aaron Taylor-Johnson Jadi Manusia Serigala
-
10 Lagu Piala Dunia Terbaik Sepanjang Massa, Nomor Dua Masih Favorit Dunia