Bahasa selalu punya cara licik merembes ke dalam hidup kita tanpa disadari. Kita tumbuh dengan kalimat-kalimat yang dianggap biasa, wajar, bahkan lucu. Kita mengulangnya tanpa banyak pikir.
Lalu suatu hari, kita mendapati seseorang menangis diam-diam di toilet sekolah atau mematikan notifikasi grup karena tidak sanggup membaca komentar yang “katanya cuma bercanda.” Di titik ini, sobat Yoursay, kita sadar bahwa kata-kata adalah dunia kecil yang kita bentuk bersama.
Dan bahasa yang kita gunakan setiap hari diam-diam menjadi pupuk bagi suburnya bullying. Dan anehnya, kita sering tidak sadar saat melakukannya.
Coba ingat kembali kata yang paling sering kita dengar sejak kecil, seperti “gendut”, “pendek”, “cupu”, “alay”, “lemah”. Kata-kata itu menyelinap di lorong sekolah, di lini masa media sosial, bahkan dalam candaan antara teman dekat.
Kita sering mengucapkannya dengan nada santai, seakan semuanya baik-baik saja. Padahal, setiap kata meninggalkan jejak di kepala orang yang menerimanya.
Ada ribuan wajah yang merasa ukurannya salah, suaranya tidak cukup keras, tubuhnya tidak sesuai standar, atau kepribadiannya tak layak dihargai.
Ketika kita memanggil seseorang dengan sebutan “gendut” misalnya, kita pikir itu hanya komentar fisik. Namun bagi orang yang mendengarnya, itu bisa menjadi gema yang mengikuti mereka sampai jauh di kemudian hari, membentuk cermin retak tentang diri sendiri.
Remaja adalah makhluk yang sedang sibuk menata identitas. Di usia ini, kata-kata dari orang sekitar punya pengaruh yang tidak main-main. Dan penghinaan yang berulang dapat melemahkan self-image, memicu kecemasan sosial, bahkan membuat remaja menghindari ruang-ruang sosial yang seharusnya aman bagi mereka.
Jadi ketika seseorang dipanggil “lemah” hampir setiap hari, lama-kelamaan tubuhnya mulai mempercayai kebohongan itu.
Dan masalahnya, kita menganggap semua itu normal. “Ah, cuma bercanda.” Padahal, bercanda yang tidak menyisakan ruang untuk martabat orang lain bukanlah humor.
Sobat Yoursay, bahasa yang melukai itu menular. Kita mempelajarinya dari lingkungan, menirunya, lalu meneruskannya tanpa sengaja.
Dunia digital membuat semuanya berjalan lebih cepat. Satu komentar pedas bisa berubah menjadi tren kecil dalam hitungan jam. Satu video yang memparodikan seseorang bisa menjadi ajakan tidak langsung untuk ikut mengejek. Kata-kata menjadi senjata yang diserahkan dari satu tangan ke tangan lain.
Lalu bagaimana memutuskannya?
Mengganti bahasa bukan berarti menghapus humor atau kedekatan. Justru sebaliknya, bahasa humanis membuat hubungan terasa lebih ringan dan saling menjaga.
Misalnya, alih-alih memanggil teman “gendut”, kita bisa memilih untuk tidak menjadikan tubuhnya sebagai bahan komentar. Alih-alih menyebut seseorang “cupu”, kita bisa mengakui keberanian mereka mencoba hal baru meski tidak sempurna. Saat seseorang terlihat kesulitan, kita bisa mengganti kata “lemah” dengan “butuh waktu” atau “butuh dukungan.”
Bahasa yang kita pilih pelan-pelan mengubah lanskap emosional di sekitar kita. Lingkungan yang aman akan lahir, dari cara kita menyapa, mengomentari, mengkritik, atau mengingatkan.
Tentu saja tidak mudah. Kita terbiasa merespons dengan cara yang sama bertahun-tahun. Mengubahnya terasa canggung di awal. Tapi sobat Yoursay, perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil yang konsisten.
Kita mungkin tidak bisa membatalkan kata-kata yang pernah kita lontarkan, tapi kita bisa mengubah yang akan kita ucapkan.
Setiap kali kita memilih untuk mengoreksi diri sebelum berbicara, kita sedang mencabut satu duri yang bisa saja menusuk orang lain. Dan setiap kali kita menghindari ejekan yang dulu terasa biasa, kita sedang membuka ruang baru di mana orang bisa bernapas lebih lega.
Ubah cara bicaramu, maka lingkungan pun mulai berubah.
Sobat Yoursay, bagaimana kalau hari ini kita mulai melangkah dengan kalimat baru? Satu kalimat yang sederhana, “Mulai hari ini, aku memilih kata yang tidak melukai.”
Kadang keberanian dimulai dari bibir, dan dunia berubah dari dua-tiga kata yang kita tata ulang.
Baca Juga
-
Lailatul Qadar vs Algoritma: Menjaga Fokus di Tengah Badai Notifikasi
-
12 Tahun Suara.com: Saat Yoursay Menjadi Bukti bahwa Suara Kita Berharga
-
Di Balik Target Khatam: Bicara Jujur tentang Ramadan dan Privilege Ibadah
-
Prabowo Bilang 'Siap-Siap Sulit', Rakyat Menjawab: 'Pak, Kami Sudah Sulit!'
-
Hari Perempuan Internasional: Saatnya Berhenti Membeli Narasi Kesempurnaan
Artikel Terkait
Kolom
-
Evolusi Doa: Saat Saya Berhenti Meminta Dunia dan Mulai Meminta Ketenangan
-
Siomay Bukan Dimsum: Memahami Istilah yang Tertukar dalam Kuliner Tiongkok
-
Mudik Jalur Sabar: Tutorial Gak Emosi Pas Macet Demi Sepiring Opor Ibu
-
Keresahan Sarjana Pendidikan: Haruskah Jurusan Menjadi 'Penjara Profesi'?
-
Lapar Mata saat Berbuka: Kenapa Makanan Terlihat Lebih Menggoda saat Puasa?
Terkini
-
Sholat Ied atau Khutbah Dulu? Ini Hukum jika Tidak Mendengarkan Ceramah
-
Pelukmu Sementara, Hatiku Selamanya: Surat Cinta Pamungkas Vidi Aldiano yang Menembus Batas Waktu
-
Mengungkap Kedok Maskapai Super Buruk di Novel Efek Jera Karya Tsugaeda
-
Tayang 24 April, Girl from Nowhere Kembali Hadir Versi Remake Jepang
-
4 Sheet Mask Korea Tea Tree untuk Kulit Berminyak Atasi Jerawat dan Iritasi