Presiden Prabowo Subianto kembali melemparkan ide untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Kali ini, sasarannya: cabai.
Dalam peluncuran program Gerakan Indonesia Menanam di Banyuasin, Sumatera Selatan, ia mengajak masyarakat menanam cabai sendiri di rumah. Alasannya? Supaya harga cabai tak lagi naik-turun seperti roller coaster.
Mengutip usulan dari Menko Pangan Zulkifli Hasan, Prabowo berkata: “Kalau satu keluarga punya 5 pot cabai, harga cabai tidak akan pernah mahal lagi.”
Lucu ya? Kalau masalah sesederhana itu, kita tak butuh Kementerian Pertanian, tak perlu APBN triliunan, dan tak perlu importasi dari negara tetangga. Cukup kasih pot ke semua rumah, cabai tumbuh, harga turun, negara aman. Semua selesai di pekarangan!
Tapi sayangnya, dunia nyata tak seindah pot cabai imajiner itu.
Yang membuat pernyataan ini makin mencengangkan adalah... ini bukan pertama kali.
Sebelumnya, saat harga cabai melonjak, Prabowo juga sempat menyarankan masyarakat untuk mengurangi makan pedas. Serius. Bukannya memperbaiki rantai pasok atau menurunkan harga pupuk, masyarakat malah disarankan diet rasa.
Sekarang, babak selanjutnya adalah: “kalau cabai mahal, ya tanam sendiri.”
Berarti kalau harga beras mahal, tanam padi di pot juga? Kalau harga daging mahal, pelihara sapi di balkon?
Saran ini bukan hanya dangkal, tapi juga menunjukkan kegagalan memahami akar persoalan pangan di Indonesia. Seolah-olah yang salah itu rakyat yang kurang kreatif, bukan negara yang tak becus menjaga stabilitas harga.
Harga cabai mahal bukan karena rakyat malas nanam. Tapi karena rantai distribusi yang amburadul, minimnya infrastruktur penyimpanan, buruknya manajemen stok, hingga tak adanya kontrol harga yang adil. Belum lagi soal pupuk mahal, subsidi yang tak tepat sasaran, cuaca ekstrem, dan impor yang serampangan.
Lalu, apakah semua itu bisa dibereskan dengan menanam lima pot cabai di rumah?
Tentu saja tidak.
Dan jangan lupa, tidak semua keluarga punya pekarangan. Di kota-kota besar, jangankan tanah untuk tanam, ruang buat jemur pakaian saja rebutan. Belum lagi bicara soal waktu, pengetahuan menanam, hama, musim tanam, dan produktivitas cabai yang tidak semanis status WhatsApp.
Ajakan tanam cabai ini juga terasa kontras dengan kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Harga sembako naik, daya beli turun, dan pengangguran meningkat. Banyak keluarga bahkan sudah kesulitan membeli beras, minyak goreng, dan telur.
Dalam kondisi seperti ini, ketika rakyat butuh solusi nyata dari pemerintah, ajakan menanam cabai bisa terdengar seperti candaan yang tidak lucu. Apalagi datang dari Presiden. Rakyat butuh kebijakan, bukan sekadar imbauan.
Yang jadi soal besar adalah: ajakan ini seolah menunjukkan bahwa pemerintah kehabisan akal. Daripada membenahi sistem pangan dari hulu ke hilir, lebih mudah melempar ke rakyat.
Pak Presiden, rakyat butuh negara hadir dengan sistem pangan yang kokoh. Bukan hadir sebagai influencer urban farming dadakan.
Tanam cabai itu baik, iya. Tapi jangan dibesar-besarkan seolah itu solusi atas kegagalan negara menjaga harga bahan pokok tetap terjangkau.
Kenapa tidak fokus benahi kebocoran anggaran di sektor pertanian? Menguatkan koperasi petani? Memotong jalur distribusi yang membuat harga cabai naik 300% dari kebun ke pasar? Kenapa justru malah melempar slogan yang lebih cocok jadi caption Instagram?
Ketahanan pangan tidak dibangun dari lima pot cabai, tapi dari kebijakan yang adil, perencanaan yang matang, dan keberpihakan pada petani lokal.
Kalau rakyat diajak menanam cabai, maka negara harus menanam kepercayaan: bahwa pemerintah serius mengurus pangan, bukan cuma menanam narasi.
Jadi, Pak Presiden, cukup ya saran makan tak pedas atau tanam cabai sendiri. Rakyat sudah cukup pedas hidupnya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Catat Tanggalnya! Intip Keseruan Event Besar Thai Festival Jakarta 2026
-
Ironi Rupiah Rp18.000: Turis Malaysia Borong Barang, Warga Lokal Menjerit
-
Rupiah Jeblok, Netizen Desak Tunda Makan Gratis dan Proyek Mercusuar
-
Portal Mitra BGN: Cuma Kosmetik Digital yang Tekuk di Tangan Pejabat?
-
Skandal Miliaran BGN Dibongkar: Ketegasan Nyata atau Bom Waktu yang Telat?
Artikel Terkait
-
Indonesia Getol Negosiasi Bareng AS, Hubungan dengan China Terancam?
-
Komentar Ganjar Soal Isu Matahari Kembar di Pemerintahan Prabowo
-
Rocky Gerung Puji Purnawirawan TNI Desak Gibran Lengser: 'Batin Mereka Masih Sangat Berani!'
-
Fedi Nuril Merasa Aneh Bakal Dijauhi Produser Film Bila Sering Kritik Pemerintah
-
Prabowo Pilih Utus Jokowi Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus, Muzani Bongkar Alasannya
Kolom
-
Media Sosial, Tren, dan Paylater: Kolaborasi "Epik" Gaya Hidup Konsumtif
-
Dari Euforia hingga Patah Hati, Ini Dampak Piala Dunia pada Mood Penggemar
-
Darurat Sampah Indonesia 2026: Mengapa Cara Lama Kita Sudah Tak Lagi Relevan?
-
Beban Menjadi Anak Emas yang Dipaksa Menebus Kegagalan Orang Tua
-
Piala Dunia Bukan Sekadar Hiburan, Bisa Bantu Melepas Stres?
Terkini
-
Cari Toner Snail Mucin? Ini 4 Produk yang Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
-
Mengapa Film Scary Movie 6 Semakin Sulit Membuat Penonton Tertawa?
-
Algoritma Pemuja Rahasia
-
Tanpa Alas Kaki dan Tanpa Suara, Makna di Balik Mubeng Beteng Malam 1 Suro
-
Mentalitas Baja Samurai Biru: Mengapa Jepang Layak Jadi Kuda Hitam Paling Berbahaya