Pernah nggak kamu masuk ke toko buku, pegang satu buku yang bikin kamu penasaran… terus pas lihat harganya, kamu langsung taruh lagi pelan-pelan ke rak?
Kalau pernah, kamu nggak sendirian.
Di Indonesia, beli buku itu butuh mikir panjang, karena berkaitan dengan isi dompet. Satu buku bisa dihargai Rp90.000 sampai Rp150.000, angka yang cukup besar buat sebagian orang Indonesia. Terlebih bagi mereka yang bekerja dengan upah minimum, nominal itu bisa buat makan 3 sampai 4 kali.
Padahal buku itu sumbernya ilmu, informasi, pengetahuan, dan kadang pelarian dari kenyataan yang pahit. Tapi sayangnya, di negara kita, buku masih dianggap sebagai “barang mewah”. Bukan kebutuhan dasar. Bukan pula sesuatu yang disubsidi atau dipermudah aksesnya. Tapi justru dikenai pajak seperti barang konsumsi biasa.
Bayangin kamu kerja di Jakarta dengan UMP sekitar Rp5.067.381 per bulan. Itu artinya, sekitar Rp168 ribuan per hari. Kalau kamu beli satu buku seharga Rp120.000, berarti hampir 75% dari upah harian kamu habis hanya buat beli satu buku.
Bandingin dengan kebutuhan makan, transport, pulsa, atau cicilan. Nggak heran kalau akhirnya beli buku jadi pilihan terakhir.
Banyak yang bilang, “Orang Indonesia itu males baca.” Tapi, apakah mereka benar-benar nggak mau baca, atau mereka cuma nggak mampu beli?
Kebiasaan baca nggak akan tumbuh kalau akses ke bahan bacaan mahal, terbatas, dan nggak dianggap penting. Negara sebetulnya punya peran besar di sini, tapi ironinya, justru kelihatan seperti lepas tangan.
Indonesia masih mengenakan PPN 11% untuk buku umum, kecuali buku pelajaran agama dan pendidikan formal yang memang dibebaskan. Tapi, buku fiksi, buku sejarah nonkurikulum, buku motivasi, dan berbagai genre lainnya tetap kena pajak.
Jadi kalau kamu cetak buku indie atau beli buku dari penerbit mayor, harga buku itu udah termasuk pajak yang bikin harga makin mahal.
Ini beda banget sama kebijakan di beberapa negara lain. Norwegia contohnya, negara ini menghapus PPN untuk semua jenis buku, baik cetak maupun digital, karena mereka percaya buku adalah hak dasar warga negaranya, bukan sebatas barang dagangan.
Dengan adanya media sosial, banyak orang yang menjadikan membaca sebagai tren. Mereka posting foto buku, ulasan di Instagram, atau bikin #BookTok di TikTok. Tapi itu tetap nggak bisa menutupi kenyataan bahwa membaca di Indonesia lebih sering diperlakukan sebagai lifestyle, bukan kebutuhan.
Kita belum melihat buku diposisikan setara dengan kebutuhan dasar seperti makan, pendidikan, atau kesehatan. Padahal, kemampuan membaca yang baik, yang bukan cuma bisa baca, tapi paham dan kritis, itu punya dampak besar buat masa depan negara.
Tapi katanya, negara kita memang nggak berniat bikin rakyatnya suka baca. Karena pembaca yang kritis itu berbahaya buat sistem yang nggak pengen dikritisi.
Ini opini yang cukup banyak beredar, bahwa negara memang tidak serius membangun budaya membaca. Soalnya, kalau rakyatnya rajin baca, makin pintar.
Kalau makin pintar, makin banyak yang kritis. Kalau makin kritis, makin banyak yang berani nanya tentang kebijakan pemerintah, “Kenapa harga kebutuhan pokok naik terus?”, “Ke mana sebenarnya uang pajak pergi?”, atau “Apa benar undang-undang ini adil?”
Dan itu jelas repot untuk mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan.
Tapi tentu saja kita nggak bisa selamanya menunggu dan bergantung pada pemerintah, meskipun emang itu tanggung jawabnya sih. Komunitas pembaca, penerbit, penulis, dan media sosial bisa ambil peran besar dalam membuka akses, berbagi bacaan, dan saling dukung.
Contohnya seperti inisiatif perpustakaan jalanan, book-sharing lewat media sosial, atau gerakan digitalisasi buku dengan tetap menjaga hak cipta. Ini memang bukan solusi jangka panjang, tapi setidaknya jadi bentuk perlawanan terhadap kemewahan buku yang diciptakan sistem.
Karena pengetahuan itu bukan cuma hak orang kaya. Tapi milik semua orang. Dan selama negara masih memajaki buku layaknya barang konsumtif, maka hampir tidak mungkin kita akan memiliki “masyarakat berpengetahuan”.
Kita nggak minta semua buku jadi gratis kok. Kita cuma ingin harga buku cukup masuk akal untuk dibeli tanpa harus mengorbankan makan sehari-hari.
Kalau kamu tim yang rela ngorbanin makan demi beli buku, atau justru nabung dan tunggu bonus dulu baru beli buku impian?
Baca Juga
-
Perry Warjiyo Mundur: Jangan Sampai Bos Baru BI Mudah Disetir Politisi!
-
Rumah Bocor Malah Usir Pemiliknya: Sengkarut Narasi 'Pindah Negara'
-
Anggaran Perpusnas Dipangkas Separuh, Perut Dikenyangkan Otak Dibiarkan
-
Heboh Sensus Ekonomi 2026: Ditanya soal Gaji, Warga Parno Naik Pajak?
-
Dari Pahlawan Teknologi Jadi Terdakwa: Akhir Getir Perjalanan Nadiem
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Kasih Tak Terlarai: Intrik Cinta Terhalang Restu Orang Tua
-
Ulasan Novel Kenangan Manis Takkan Pernah Habis: Mengenang Hewan Kesayangan
-
Ulasan Novel Jepang Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage
-
Menguliti Luka dan Obsesi dalam Novel False Idol Karya Shooastrif
-
Ulasan Buku Sun & Ssukgat: Self-Care ala Korea yang Mudah untuk Ditiru
Lifestyle
-
4 Micellar Water Green Tea Solusi Lawan Pemicu Jerawat pada Kulit Berminyak
-
Classic Vibes! 4 Padu Padan Dress ala Gawon MEOVV yang Menarik untuk Dicoba
-
5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan: Performa Ngebut, Kamera Jernih, dan Memori Lega
-
Jangan Salah Pilih! Ini 5 Sepatu Lari Lokal Terbaik untuk Daily Run
-
5 HP Murah Baterai 6.000 mAh Awet Dipakai Seharian, Harga Mulai Rp1 Jutaan
Terkini
-
A Shop for Killers Season 1: Ketika Didikan Keras Jadi Bekal Bertahan Hidup
-
Tiny Garden: Buku Bergambar yang Mengajarkan Bahagia Lewat Hal-Hal Kecil
-
Kim Se Jeong hingga Cho Han Gyeol Bintangi Drama Baru Bertema High School
-
Ulasan Novel The Good Neighbor, Sisi Gelap Tetangga yang Baik Hati
-
Hasil Piala AFF: Kecerdikan John Herdman Antar Indonesia Libas Timor Leste