Di ujung selatan Kabupaten Malang, tersembunyi sebuah pantai cantik bernama Teluk Asmara. Pantai ini kerap dijuluki “miniatur Raja Ampat” karena bentuk teluknya yang dikelilingi pulau-pulau kecil.
Meski perbandingan ini tak sepenuhnya akurat secara geologis, keduanya punya satu kesamaan yang sulit ditepis: mereka sama-sama indah, dan sama-sama terluka.
Teluk Asmara menyimpan pesona yang luar biasa. Pasir pantainya halus dan berpola warna-warni karena pecahan karang. Airnya biru toska, hangat di kulit, dan tidak menyengat mata. Tapi sayangnya, pengalaman indah itu seringkali diiringi rasa pahit.
Tiket masuk dan biaya parkir yang tergolong mahal dibandingkan pantai lain di kawasan Malang Selatan, ditambah dengan praktik pungutan liar, membuat banyak wisatawan merasa jengah.
Pantai yang seharusnya menjadi tempat untuk melepas lelah, justru menyisakan rasa tidak nyaman karena tata kelola yang semrawut.
Dan di saat kita masih sibuk membenahi (atau justru membiarkan) luka-luka kecil di tempat seindah Teluk Asmara, jauh di Timur sana, Raja Ampat tengah menghadapi ancaman yang jauh lebih besar: tambang nikel. Presiden Prabowo mencabut izin 4 perusahaan nikel, namun apakah kita sudah menang? Sedangkan penambangan dan penggusuran kawasan hutan kerap berlangsung dan menjadi isu tak berkesudahan dari dulu dan kian parah hingga detik ini.
Kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi justru terancam oleh eksploitasi tambang, tepatnya di Pulau Kawe. Ironisnya, ini terjadi di wilayah yang sudah diakui dunia karena kekayaan ekosistem lautnya. Ikan, karang, bahkan biota laut yang belum tentu ditemukan di tempat lain di dunia—semuanya bisa hancur dalam hitungan tahun, bahkan bulan, bila proyek tambang terus dibiarkan berjalan.
Persoalannya bukan sekadar antara ekonomi versus ekologi. Ini soal identitas dan tanggung jawab kita terhadap warisan alam. Raja Ampat bukan hanya milik Papua, bukan hanya milik Indonesia. Ia adalah paru-paru laut dunia, rumah bagi spesies yang bahkan belum semuanya terdata. Sama seperti Teluk Asmara, yang keberadaannya makin dikenal tapi justru belum sepenuhnya dirawat. Raja Ampat berada di ambang krisis karena pemerintah pusat seakan bermain-main di atas garis merah yang sangat tipis.
Sebagai masyarakat awam, mungkin kita tidak punya kuasa untuk menghentikan izin tambang. Tapi kita punya suara, dan suara itu penting. Penting untuk terus mengingatkan bahwa pembangunan tak selalu harus berbasis eksploitasi. Bahwa keindahan alam bukan sumber daya tak terbatas yang bisa dikeruk seenaknya.
Teluk Asmara dan Raja Ampat adalah dua tempat yang mungkin tak pernah bersinggungan secara fisik, tapi keduanya sama-sama menanggung beban ketidakadilan yang lahir dari ketidakpedulian manusia. Dan kita punya peran dalam cerita ini—sebagai pengunjung, sebagai warga negara, sebagai penjaga cerita tentang keindahan yang seharusnya abadi.
Seindah apapun Pantai Teluk Asmara yang digadang-gadang si miniatur Raja Ampat. Keindahannya tetaplah berbeda dan tak dapat menggantikan satu sama lain. Keduanya memiliki keunikan dan keindahannya masing-masing. Keduanya cantik dengan ciri khasnya tersendiri.
Bukan ganti tempat atau alternatif tempat yang miriplah yang kita butuhkan saat ini. Tapi menjaga tempat itu sendiri tanpa mengusiknya. Hanya demi uang dan keuntungan yang justru menjadi bumerang yang kelak jauh lebih merugikan. Kerugian yang tak hanya merugikan negara tapi juga dunia, karena ekosistem yang harusnya tetap terjaga harus musnah karena dikeruk tanpa simpati.
Menjaga ekosistem di sekitar kita adalah PR besar tiap individu yang berakal. Masih banyak kerusakan yang terus terjadi setiap harinya. Tak hanya Raja Ampat dan pantai-pantai lainnya. Banjir, tanah longsor, hingga bendungan yang jebol juga merupakan alarm bagi manusia bahwa manusia telah melewati batas. Dan tindakan terkecil yang bisa kita lakukan adalah menjaga diri sendiri untuk tidak ikut serta memperparah kerusakan itu.
Baca Juga
-
Kritik Tajam di Buku Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta
-
Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto
-
Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah
-
Batavia Awal Abad ke-20: Menyusuri Wajah Jakarta Era Kolonial
-
Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur
Artikel Terkait
-
Persekutuan Gereja Soal Tambang Raja Ampat: Jangan Cuma Cari Untung, Tapi Lupa Masa Depan Anak Cucu
-
Raja Ampat untuk Wisata Bukan Tambang, Prabowo Dihadapkan Dilema PT Gag
-
Profil PT Anugerah Surya Pratama yang Izin Tambangnya di Raja Ampat Dicabut
-
Tambang di Raja Ampat Harus Dihentikan Seluruhnya, Risikonya Mengerikan
-
Profil PT Mulia Raymond Perkasa, Perusahaan Tambang yang Aktif di Raja Ampat
Kolom
-
Jerat "Child Grooming" Makin Berbahaya, Orang Tua Harus Menyelamatkan Anak
-
Dilema Sandwich Generation: Ketika Memilih Diri Sendiri Terasa Sangat Egois
-
Tragedi Karhutla dan Nasib Ojol: Saat Jalanan Berubah Jadi 'Kamar Gas' Beracun
-
Kekerasan Seksual di Pesantren, Mengapa Terus Terjadi Objektifikasi
-
Dunia Boleh Terburu-buru, sedangkan Aku Hanya Ingin Membaca Pelan-Pelan
Terkini
-
Ulasan 'Monster Manners A to Z', 26 Monster yang Ternyata Jago Tata Krama
-
Susah Fokus Bukan Cuma karena 'Gadget': Memahami Mitos Attention Span di Era Digital
-
Michelle Yeoh Sebut Ingin Bintangi Film Korea dari 3 Sutradara Ternama Ini
-
Sinopsis Beneath the Lies, Drama Terbaru Yaya Urassaya dan Kao Noppakao
-
Changmin TVXQ Abadikan Perjuangan Hidup Lewat Album Terbaru, All Of My Life