Kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) berusia 20 tahun, bukan sekadar sebuah kecelakaan tragis. Peristiwa di tengah demonstrasi yang mencekam di Jakarta itu adalah cerminan dari jurang dalam antara aparat penegak hukum dan rakyat yang seharusnya mereka lindungi.
Kisah Affan adalah kisah kita semua, tentang betapa rentannya nyawa masyarakat sipil di tengah kekuasaan yang terkadang terasa begitu abai.
Detik-detik Affan dilindas oleh mobil (kendaraan taktis) Brimob di tengah kericuhan aksi unjuk rasa adalah momen yang menelanjangi.
Betapa ironis, sebuah kendaraan yang dibeli dari uang rakyat dan dirancang untuk menjaga ketertiban, justru menjadi penyebab hilangnya nyawa seorang pemuda yang sedang mencari nafkah halal.
Affan bukan bagian dari massa yang berunjuk rasa. Ia adalah seorang pekerja yang kebetulan melintas di area tersebut, berjuang untuk hidup di antara risiko jalanan yang tak terduga.
Kematiannya Affan semata bukan disebabkan oleh takdir, melainkan oleh sebuah kelalaian yang fatal dan, boleh jadi, kurangnya empati.
Sikap cepat tanggap dari pihak kepolisian, termasuk permohonan maaf langsung dari Kapolri, patut diapresiasi. Langkah ini menunjukkan adanya kesadaran akan kesalahan yang telah terjadi.
Namun, permintaan maaf saja tidak cukup. Keadilan harus ditegakkan. Proses hukum yang transparan dan akuntabel terhadap tujuh anggota Brimob yang terlibat menjadi harga mati.
Publik menuntut lebih dari sekadar janji, mereka menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban yang nyata. Kasus ini adalah ujian bagi institusi Polri, apakah mereka benar-benar serius dalam membersihkan diri dan memastikan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang.
Tragedi Affan juga membuka mata kita pada realitas pahit yang dihadapi para pekerja ojol. Mereka adalah pahlawan ekonomi yang menopang ribuan keluarga, namun dengan risiko kerja yang sangat tinggi.
Mereka berada di garis depan, berinteraksi langsung dengan hiruk-pikuk jalanan yang penuh bahaya, dari kecelakaan, kejahatan, hingga ancaman kekerasan.
Ketika seorang pekerja ojol meninggal dalam tugas, itu seharusnya menjadi perhatian serius dari semua pihak, baik pemerintah, perusahaan aplikasi, maupun masyarakat.
Kematian Affan bukan hanya duka bagi keluarganya, melainkan juga duka bagi semua pekerja informal yang kerap kali dipandang sebelah mata.
Lebih dari itu, kasus ini memperlihatkan bagaimana demonstrasi, yang seharusnya menjadi wadah penyampaian aspirasi rakyat, justru bisa berubah menjadi arena yang membahayakan nyawa.
Aparat keamanan memiliki tugas berat untuk mengelola massa, namun tugas itu tidak lantas membenarkan penggunaan kekuatan yang berlebihan atau kurangnya kehati-hatian.
Kendaraan taktis, yang seharusnya menjadi alat pengurai massa, tidak boleh digunakan secara sembarangan. Ada nyawa yang dipertaruhkan, dan setiap tindakan harus didasari oleh perhitungan matang dan prioritas keselamatan publik.
Kisah Affan Kurniawan adalah sebuah teguran keras. Ini adalah panggilan bagi aparat untuk lebih humanis, lebih berempati, dan lebih bertanggung jawab.
Panggilan bagi pemerintah untuk memastikan setiap pekerja dilindungi, apapun profesinya. Dan yang paling penting, ini adalah panggilan bagi kita semua sebagai masyarakat untuk tidak melupakan Affan.
Jangan biarkan kasusnya lenyap begitu saja ditelan waktu. Kematiannya harus menjadi momentum perubahan. Sebuah pengingat bahwa di balik seragam dan kendaraan besar, ada nyawa manusia yang memiliki hak untuk pulang dengan selamat.
Keadilan untuk Affan Kurniawan bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk martabat setiap pekerja kecil yang mengais rezeki di jalanan. Sebuah tragedi yang terlalu mahal untuk dibayar, sebuah pelajaran yang terlalu penting untuk diabaikan.
Baca Juga
-
Toy Story 5 Angkat Fenomena Screen Time Addiction pada Anak-Anak
-
Menghargai dan Merayakan Diri Sendiri dalam Buku Kios Pasar Sore
-
Rahasia di Balik Impotensi Ajo Kawir: Mengapa Novel Eka Kurniawan Ini Begitu Kontroversial?
-
Mencintai Kehidupan dengan Bekerja: Refleksi Almustafa Karya Kahlil Gibran
-
Kejahatan Moral Institusi Peradilan dalam Novel 86 Karya Okky Madasari
Artikel Terkait
-
Berapa Sih Gaji Brimob? Dikritik usai Anggotanya Lindas Ojol hingga Tewas saat Demo
-
Kiky Saputri Ikut Bersuara, Auto Ditagih Janji 'Berjuang dari Dalam' Usai Tragedi Ojol Brimob
-
Kericuhan Meluas hingga Otista Pagi Ini, Polisi Klaim Anggotanya Sempat Diculik Massa
-
Dilempari Batu, Begini Detik-Detik Warga Kejar Mobil Rantis Brimob yang Tabrak Driver Ojol
-
Driver Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Jerome Polin: Saatnya Melawan!
Kolom
-
Hubungan Sempurna di Medsos Cuma Ilusi? Ini Bukti Gen Z Mulai Sadar!
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2