Hayuning Ratri Hapsari | Ruslan Abdul Munir
Tangkap layar trailer film Toy Story 5 (YouTube/Pixar)
Ruslan Abdul Munir

Film Toy Story 5 menyuguhkan suasana yang segar dan mengangkat isu yang erat kaitannya dengan situasi saat ini, yakni fenomena anak-anak yang mulai mengalami kecanduan gawai (screen time addiction).

Jika film-film sebelumnya lebih banyak menyoroti fase anak-anak yang tumbuh dewasa dan melupakan mainannya, sekuel kelima ini justru mengangkat isu yang sangat relevan di era teknologi digital saat ini.

Seperti yang terlihat jelas di poster filmnya, ancaman terbesar bagi Woody, Jessie, dan teman-temannya kali ini bukan lagi sekadar anak nakal seperti dalam film-film sebelumnya, melainkan sebuah gawai tablet pintar berbentuk katak hijau bernama Lilypad.

Layer digital ini perlahan memikat perhatian Boonie, seorang gadis kecil yang memiliki koleksi boneka Woody, Jessie, dan teman-temannya. Suasana menjadi semakin hidup dan penuh warna saat dia menyelami dunia keajaiban ini.

Dalam Toy Story 5 ini, Jessie menjadi tokoh utama di kamar Boonie dan memegang kendali sepenuhnya. Ketika Boonie yang masih sangat muda mulai merasa tertekan dan menarik diri dari mainan konvensional karena pengaruh teman sebaya, Jessie berusaha keras mencari cara agar mereka tetap bisa menikmati waktu bermain bersama. Keberanian dan kasih sayang Jessie menunjukkan betapa pentingnya saling mendukung di saat-saat sulit.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, Jessie dan Buzz dengan keberanian mencari bantuan dari luar, yang pada akhirnya membawa Woody kembali dan memberikan dukungan penuh bagi perjuangan mereka. Kehadiran Woody ini merupakan momen yang sangat aku tunggu-tunggu sepanjang film karena memang dia adalah karakter paling ikonik dalam film Toy Story.

Setelah misi menyelamatkan imajinasi Bonnie selesai, Woody tidak langsung kembali menetap di kamar Bonnie. Ia menyadari bahwa tugasnya sebagai mainan Bonnie sudah selesai setelah menyerahkan lencananya kepada Jessie di film keempat.

Woody kemudian memilih untuk kembali ke kehidupan bebasnya bersama Bo Peep sebagai mainan pengembara yang membantu mainan-mainan lain yang hilang di luar sana. Perpisahan kali ini terasa berbeda—bukan lagi penuh air mata sedih, melainkan dipenuhi rasa hormat dan kebanggaan antara Woody dan Buzz.

Sang sutradara Andrew Stanton dengan cerdas memotret bagaimana teknologi memengaruhi interaksi sosial anak-anak. Di era digital saat ini, permainan konvensional seperti boneka atau permainan tradisional yang dimainkan anak-anak semakin tergerus akibat munculnya teknologi canggih bernama gawai.

Tanpa kira sadari anak-anak kini kehilangan momen berharga mereka ketika sebuah permainan konvensional dimainkan justru hal itu akan mengasah imajinasi dan kecerdasan emosional seorang anak, sehingga akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang dan cara mereka melihat dunia.

Ada berbagai dampak negatif yang dapat disebabkan oleh kecanduan gawai pada anak-anak, mulai dari kehilangan rasa percaya diri, ancaman kejahatan digital, hingga kecenderungan melakukan cyberbullying.

Seperti halnya yang dialami Boonie dalam film ini, alih-alih membuatnya lebih bersemangat, gawai pintarnya justru membuatnya selalu merasa murung dan frustrasi.

Selain itu, ia juga mengalami perilaku bullying dari teman sebayanya yang menyebabkan rasa percaya dirinya hilang, dan ia merasa malu saat bermain mainan fisik karena takut dianggap kurang gaul atau kekanak-kanakan.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi canggih ini memang harus selalu dibatasi. Terlebih, dampaknya terhadap anak-anak dalam masa pertumbuhan sangat besar. Peran orang tua sangat penting dalam hal ini untuk selalu mengawasi anak-anaknya.

Toy Story 5 mengakhiri dengan pesan yang sangat menginspirasi, meskipun teknologi dapat memperkaya tampilan visual anak, kekuatan sejati dari imajinasi dan hubungan emosional selalu muncul dari sentuhan langsung dan interaksi dengan dunia nyata.