Film Toy Story 5 menyuguhkan suasana yang segar dan mengangkat isu yang erat kaitannya dengan situasi saat ini, yakni fenomena anak-anak yang mulai mengalami kecanduan gawai (screen time addiction).
Jika film-film sebelumnya lebih banyak menyoroti fase anak-anak yang tumbuh dewasa dan melupakan mainannya, sekuel kelima ini justru mengangkat isu yang sangat relevan di era teknologi digital saat ini.
Seperti yang terlihat jelas di poster filmnya, ancaman terbesar bagi Woody, Jessie, dan teman-temannya kali ini bukan lagi sekadar anak nakal seperti dalam film-film sebelumnya, melainkan sebuah gawai tablet pintar berbentuk katak hijau bernama Lilypad.
Layer digital ini perlahan memikat perhatian Boonie, seorang gadis kecil yang memiliki koleksi boneka Woody, Jessie, dan teman-temannya. Suasana menjadi semakin hidup dan penuh warna saat dia menyelami dunia keajaiban ini.
Dalam Toy Story 5 ini, Jessie menjadi tokoh utama di kamar Boonie dan memegang kendali sepenuhnya. Ketika Boonie yang masih sangat muda mulai merasa tertekan dan menarik diri dari mainan konvensional karena pengaruh teman sebaya, Jessie berusaha keras mencari cara agar mereka tetap bisa menikmati waktu bermain bersama. Keberanian dan kasih sayang Jessie menunjukkan betapa pentingnya saling mendukung di saat-saat sulit.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Jessie dan Buzz dengan keberanian mencari bantuan dari luar, yang pada akhirnya membawa Woody kembali dan memberikan dukungan penuh bagi perjuangan mereka. Kehadiran Woody ini merupakan momen yang sangat aku tunggu-tunggu sepanjang film karena memang dia adalah karakter paling ikonik dalam film Toy Story.
Setelah misi menyelamatkan imajinasi Bonnie selesai, Woody tidak langsung kembali menetap di kamar Bonnie. Ia menyadari bahwa tugasnya sebagai mainan Bonnie sudah selesai setelah menyerahkan lencananya kepada Jessie di film keempat.
Woody kemudian memilih untuk kembali ke kehidupan bebasnya bersama Bo Peep sebagai mainan pengembara yang membantu mainan-mainan lain yang hilang di luar sana. Perpisahan kali ini terasa berbeda—bukan lagi penuh air mata sedih, melainkan dipenuhi rasa hormat dan kebanggaan antara Woody dan Buzz.
Sang sutradara Andrew Stanton dengan cerdas memotret bagaimana teknologi memengaruhi interaksi sosial anak-anak. Di era digital saat ini, permainan konvensional seperti boneka atau permainan tradisional yang dimainkan anak-anak semakin tergerus akibat munculnya teknologi canggih bernama gawai.
Tanpa kira sadari anak-anak kini kehilangan momen berharga mereka ketika sebuah permainan konvensional dimainkan justru hal itu akan mengasah imajinasi dan kecerdasan emosional seorang anak, sehingga akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang dan cara mereka melihat dunia.
Ada berbagai dampak negatif yang dapat disebabkan oleh kecanduan gawai pada anak-anak, mulai dari kehilangan rasa percaya diri, ancaman kejahatan digital, hingga kecenderungan melakukan cyberbullying.
Seperti halnya yang dialami Boonie dalam film ini, alih-alih membuatnya lebih bersemangat, gawai pintarnya justru membuatnya selalu merasa murung dan frustrasi.
Selain itu, ia juga mengalami perilaku bullying dari teman sebayanya yang menyebabkan rasa percaya dirinya hilang, dan ia merasa malu saat bermain mainan fisik karena takut dianggap kurang gaul atau kekanak-kanakan.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi canggih ini memang harus selalu dibatasi. Terlebih, dampaknya terhadap anak-anak dalam masa pertumbuhan sangat besar. Peran orang tua sangat penting dalam hal ini untuk selalu mengawasi anak-anaknya.
Toy Story 5 mengakhiri dengan pesan yang sangat menginspirasi, meskipun teknologi dapat memperkaya tampilan visual anak, kekuatan sejati dari imajinasi dan hubungan emosional selalu muncul dari sentuhan langsung dan interaksi dengan dunia nyata.
Baca Juga
-
Menghargai dan Merayakan Diri Sendiri dalam Buku Kios Pasar Sore
-
Rahasia di Balik Impotensi Ajo Kawir: Mengapa Novel Eka Kurniawan Ini Begitu Kontroversial?
-
Mencintai Kehidupan dengan Bekerja: Refleksi Almustafa Karya Kahlil Gibran
-
Kejahatan Moral Institusi Peradilan dalam Novel 86 Karya Okky Madasari
-
Penebusan Dosa Masa Lalu dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini
Artikel Terkait
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Ego Anak, Penyesalan, dan Air Mata di Panti Jompo
-
Karakter Lotso dan Romantisme terhadap Sosok Pemimpin Otoriter
-
Sinopsis Toy Story 5, Usaha Woody dan Mainan Hidup Lawan Kehadiran Gadget
-
Refleksi Film Toy Story 5: Apakah Teknologi dan Mainan Bisa Hidup Berdampingan?
-
Toy Story 5: Saat Woody Menua dan Terancam Terlupakan oleh Gawai Bonnie
Ulasan
-
Bedah Makna Video Musik 'Masih Ada Cahaya': Saat Kegelapan Bertemu Harapan
-
Denyut Tradisi Bali dalam Bait-Bait 'Saiban' Karya Oka Rusmini
-
10 Momen Kece yang Wajib Kamu Tahu sebelum Nonton Spider-Man: Brand New Day
-
Review House of the Dragon Season 3: Hancurnya Moralitas Para Penguasa!
-
Keinginan Remaja vs Orang Tua dalam How Could You Do This to Me, Mum?
Terkini
-
Sering Diabaikan, 4 Kebiasaan Sepele Ini Bikin Laptop Cepat Rusak!
-
Kontradiksi Era Digital: Mau Merdeka Finansial tapi Masih Pakai Paylater
-
Trailer Utama Film Made in Abyss Part 1 Ungkap Lagu Tema dan Karakter Baru
-
4 Acne Micellar Water Bebas Alkohol, Rawat Kulit Berjerawat Tanpa Iritasi
-
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Desa: Perjalanan Kang Edai di Kemiren