Hikmawan Firdaus | Yayang Nanda Budiman
Detik-detik Affan Kurniawan tewas dilindas mobil brimob (Suara.com)
Yayang Nanda Budiman

Nama Affan Kurniawan tiba-tiba menjelma menjadi simbol. Ia bukan politisi, bukan aktivis dengan panggung besar, bukan pula nama yang lazim menghiasi layar kaca. Affan hanyalah seorang pengemudi ojek online, bagian dari jutaan pekerja harian yang menggantungkan hidup pada roda dua, algoritma, dan keberuntungan. Namun, nasib tragisnya di penghujung Agustus ini membuat namanya abadi dalam ingatan kolektif rakyat: ia gugur setelah tubuhnya dilindas mobil baracuda milik kepolisian saat demonstrasi berlangsung.

Peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan. Ia adalah cermin brutalitas negara yang tidak lagi segan memperlakukan warganya sebagai musuh. Mobil lapis baja yang seharusnya menjadi sarana pengamanan, berubah menjadi mesin pembunuh di jalan raya. Affan tewas bukan karena takdir semata, melainkan akibat kuasa yang pongah dan aparat yang kehilangan nurani.

Negara Melawan Rakyat

Demonstrasi akhir Agustus ini sesungguhnya adalah ekspresi sah rakyat. Ribuan mahasiswa, pelajar, buruh, dan masyarakat sipil turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan mereka: dari revisi undang-undang bermasalah, pajak yang kian mencekik, hingga gaya hidup elite politik yang semakin tak terjangkau oleh logika publik.

Namun, apa yang ditanggapi negara? Bukannya mendengar, negara justru menutup telinga. Polisi dan militer dikerahkan dengan cara-cara represif: gas air mata ditembakkan tanpa pandang bulu, pentungan diayunkan, dan barikade baja didorong ke arah kerumunan. Kekerasan seakan sudah menjadi bahasa resmi pemerintah kepada rakyatnya.

Kematian Affan menggarisbawahi betapa hubungan negara dan rakyat kini kian menjauh. Alih-alih hadir sebagai pelindung, negara menjelma predator. Aparat yang mestinya mengayomi berubah menjadi mesin kekerasan yang siap menggilas siapa saja, bahkan seorang pengemudi ojek online yang kebetulan melintas di arena demonstrasi.

DPR yang Hedon dan Congkak

Sementara di luar gedung rakyat dipukul, dilindas, bahkan kehilangan nyawa, para wakil rakyat di Senayan terus mempertontonkan kehidupan yang jauh dari denyut penderitaan rakyat. Gedung megah DPR semakin tampak seperti menara gading yang terputus dari realitas. Alih-alih merespons tuntutan masyarakat, anggota DPR lebih sibuk mengurus fasilitas, kendaraan dinas baru, atau perjalanan ke luar negeri.

Publik makin muak menyaksikan wajah pongah wakil rakyat. Di tengah krisis, mereka menolak memangkas anggaran. Di tengah jeritan rakyat soal harga kebutuhan pokok dan beban pajak, mereka justru sibuk memoles citra diri. Seakan-akan, rakyat hanya ada di setiap pemilu; setelah itu, yang tersisa hanyalah angka-angka di lembar survei.

Pajak yang Mencekik, Rakyat yang Tersingkir

Kemerosotan kepercayaan terhadap negara juga ditopang oleh kebijakan ekonomi yang semakin menindas. Pajak menjadi instrumen baru yang justru mencekik kelompok menengah ke bawah. Sementara perusahaan besar, konglomerat, dan mereka yang dekat dengan kekuasaan, kerap mendapat keringanan, insentif, atau bahkan penghapusan tunggakan.

Rakyat kecil seperti Affan justru berada di ujung paling rentan. Pendapatan ojek online yang tidak menentu masih harus dipotong oleh platform digital, ditambah beban biaya hidup yang terus naik. Negara seolah hadir hanya untuk menagih, bukan untuk melindungi. Maka tidak mengherankan jika amarah rakyat semakin meluap.

Estafet Perlawanan

Kematian Affan Kurniawan bukan akhir, melainkan tanda bahwa estafet perlawanan belum usai. Setiap tubuh yang dipukul, setiap suara yang dibungkam, setiap nyawa yang melayang, justru menyalakan api baru dalam dada rakyat. Sejarah Indonesia penuh dengan catatan bagaimana kekerasan negara melahirkan perlawanan lebih besar. Dari Malari 1974, Reformasi 1998, hingga demonstrasi yang kini berkobar, selalu ada nama-nama yang gugur, namun sekaligus menjadi simbol.

Affan kini menjadi simbol itu. Ia mewakili wajah rakyat yang tak semestinya mati di tangan negara. Ia mengingatkan kita bahwa demokrasi tidak boleh dibiarkan mati di jalanan. Bahwa represifitas aparat hanyalah satu babak, dan perlawanan rakyat akan terus menulis bab berikutnya.

Menagih Pertanggungjawaban

Kini, yang paling mendesak adalah menagih pertanggungjawaban. Polisi tidak boleh berlindung di balik dalih "prosedur" dan impunitas. DPR tidak boleh lagi mengunci mulut. Pemerintah tidak bisa terus bersembunyi di balik retorika stabilitas. Kematian Affan adalah bukti nyata kegagalan negara melindungi warganya. Jika negara masih punya secuil rasa malu, maka proses hukum harus ditegakkan, aparat yang terlibat harus diadili, dan mekanisme pengendalian kekerasan harus dibongkar habis.

Tetapi lebih dari itu, rakyat harus terus menjaga ingatan. Karena sejarah selalu berulang ketika kita membiarkannya dilupakan. Affan Kurniawan tidak boleh sekadar menjadi nama yang lenyap ditelan berita harian. Ia adalah simbol estafet perlawanan yang terus berlanjut. Dan selama keadilan belum hadir, estafet itu akan terus berpindah tangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.