Sekar Anindyah Lamase | Fauzah Hs
Pandji Pragiwaksono (Instagram/pandji.pragiwaksono)
Fauzah Hs

Sobat Yoursay, ada sensasi aneh yang muncul saat kita menonton Mens Rea di Netflix. Momen yang paling membekas bukanlah saat tawa kita meledak paling keras, melainkan saat kita tiba-tiba terdiam di tengah tawa dan menyadari betapa getirnya kenyataan di balik lelucon tersebut. Jika kamu pernah merasa sesak yang menyelinap di sela-sela tawa itu, tenanglah, kamu sedang berbagi keresahan yang sama dengan banyak orang.

Mens Rea adalah kritik tanpa filter terhadap kondisi demokrasi kita. Karya Pandji Pragiwaksono ini memaksa kita melihat refleksi sebuah sistem yang tampak lelah dan absurd. Alih-alih merasa miris, kita justru dipaksa untuk menertawakan segala keruwetan tersebut dengan sangat renyah.

Dalam Mens Rea, hal-hal yang biasanya dianggap sakral seperti hukum, kekuasaan, dan politik, dipreteli tanpa ampun. Semuanya dipelintir menjadi lelucon yang terasa sangat dekat dengan keseharian kita. Kita tertawa bukan karena terkejut, tapi karena sebuah pengakuan pahit, "Iya, memang begini hancurnya realitas kita."

Di sinilah komedi mengambil perannya sebagai pemantul realitas. Ia menyuarakan apa yang sulit kita katakan secara lugas.

Komedi menjadi pelarian sekaligus senjata ketika keadilan tebang pilih dan suara rakyat tidak lagi memiliki daya tawar di hadapan kekuasaan. Ini bukan bentuk protes yang meledak-ledak, melainkan sebuah satir cerdas yang mengajak kita tertawa kecil, padahal sebenarnya ia sedang menyayat hati nurani kita dengan kebenaran yang pahit.

Humor sering kali menjadi senjata bagi mereka yang tak punya kuasa. Saat kekuatan fisik tak lagi mampu melawan, maka kelucuan menjadi tameng terakhir.

Dalam konteks ini, tawa adalah bentuk perlawanan pasif. Ia mungkin tidak sanggup meruntuhkan rezim atau mengubah kebijakan, tapi ia menjaga kita agar tetap waras dan tidak tenggelam dalam keputusasaan. Mens Rea hadir sebagai katup pengaman di tengah atmosfer politik yang semakin menyesakkan.

Menertawakan berita politik yang menjengkelkan mungkin adalah cara paling realistis untuk bertahan hidup agar hidup tidak terlalu sesak. Komedi membantu kita untuk tetap bisa bernapas di tengah keruwetan yang tak kunjung usai.

Tapi, sobat Yoursay, jangan biarkan tawa itu menjadi alat untuk memaklumi keadaan. Jika setiap kebijakan absurd hanya berakhir jadi bahan lelucon tanpa tindak lanjut, tawa kita sebenarnya adalah bentuk kepasrahan. Kita harus takut jika kita tertawa bukan karena masih peduli, tapi karena sudah terlalu lelah untuk lagi-lagi menuntut perubahan.

Mens Rea memang tidak memberikan solusi atau jalan keluar. Tapi Mens Rea menyodorkan kejanggalan demokrasi kita apa adanya.

Mungkin benar bahwa tugas komedi bukan untuk membenahi dunia, melainkan menunjukkan masalah dengan kejujuran yang paling menyakitkan sekalipun. Dalam hal ini, Pandji berhasil. Namun, setelah sadar, lalu apa? Jika semuanya berhenti hanya pada tawa dan unggahan di media sosial, apakah demokrasi kita benar-benar bergerak maju?

Sobat Yoursay, barangkali inilah potret demokrasi kita, sebuah sistem yang ditertawakan karena sudah terlalu absurd untuk terus-menerus ditangisi. Komedi menjadi ruang aman untuk melepas frustrasi, namun sekaligus bisa menjadi jebakan nyaman yang membuat kita betah di tempat tanpa melakukan perubahan apa pun.

Jangan-jangan, tawa kita di depan layar Netflix kemarin adalah sebuah 'upacara pemakaman' bagi kepedulian kita sendiri, sobat Yoursay.  Apakah kita tertawa karena paham, atau tertawa supaya tidak perlu merasa terbebani untuk berbuat sesuatu?

Mens Rea telah selesai melakukan tugasnya sebagai cermin; pertanyaannya, setelah melihat wajah demokrasi yang berantakan itu, apakah kita akan tetap diam dan kembali tidur, atau mulai beranjak dari tempat duduk untuk berbenah?

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS