Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Beauty in the Beat (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Beauty and the Beat adalah komedi musikal Thailand yang dirilis pada 2025, disutradarai oleh Kittiphak Thong-Uam (juga dikenal sebagai Piyachart). Diproduksi oleh GDH 559, film ini menampilkan durasi 125 menit dan menggabungkan elemen musik, drama, serta humor slapstick yang khas dari sinema Thailand modern.

Dengan rating IMDb 7.2/10 berdasarkan lebih dari 1.000 suara, film ini berhasil menarik perhatian penonton regional, terutama di Asia Tenggara, berkat cerita yang ringan namun penuh intrik tentang persaingan di dunia hiburan.

Persaingan Empat Diva di Panggung Besar

Salah satu adegan di film Beauty in the Beat (IMDb)

Cerita dimulai dengan pengenalan karakter masing-masing. Plaifun adalah ratu panggung yang telah mendominasi industri selama bertahun-tahun, tapi popularitasnya mulai pudar karena generasi baru.

Copter, sebagai pendatang baru, membawa energi segar tapi sering diremehkan. Pitta P. adalah tipe opportunis yang siap melakukan apa saja untuk tetap relevan, termasuk sabotase kecil-kecilan. Laila, di sisi lain, menyimpan rahasia masa lalu yang membuatnya enggan berbagi panggung.

Konflik memuncak saat latihan konser, di mana ego bertabrakan: dari perebutan lagu utama hingga skandal media yang bocor. Sutradara Kittiphak Thong-Uam, yang juga ikut menulis skenario bersama Parames Samranrom dan Waneepan Ounphoklang, berhasil menyuntikkan humor melalui dialog tajam dan situasi absurd, seperti diva yang saling curi kostum atau adu vokal di belakang panggung.

Plot film berpusat pada empat diva rival yang dipaksa tampil bersama dalam satu konser besar. Jacqueline Muench berperan sebagai Plaifun Margaret Heng, seorang diva karismatik dengan ego tinggi yang terbiasa menjadi pusat perhatian. NuNew Chawarin Perdpiriyawong memerankan Copter, penyanyi muda berbakat yang naif namun ambisius.

Thongchai Thongkanthom (Pingpong) sebagai Pitta P., diva veteran yang licik dan penuh trik, sementara Ninew Phetdankaeo sebagai Laila, penyanyi misterius dengan latar belakang dramatis. Mereka dipertemukan oleh produser konser yang ingin menciptakan pertunjukan legendaris, tapi rivalitas mereka justru memicu kekacauan.

Cerita diilustrasikan dengan pepatah "when two ride on a horse, one must sit behind," yang mencerminkan bagaimana empat diva ini berjuang berebut sorotan tanpa saling mengalah.

Review film Beauty in the Beat

Salah satu adegan di film Beauty in the Beat (IMDb)

Secara visual, film ini memukau dengan produksi panggung yang mewah. Koreografi tari dan nomor musikalnya energik, terinspirasi dari konser K-pop dan Broadway, dengan lagu-lagu orisinal yang catchy. Musiknya menggabungkan pop Thailand kontemporer dengan elemen beat elektronik, membuatku ikut bergoyang.

Akan tetapi, kekurangan utamanya adalah plot yang terkadang predictable seakan rivalitas berubah menjadi persahabatan terlalu cepat, tanpa kedalaman emosional yang kuat. Meski begitu, chemistry antar cast menyelamatkan film ini.

Jacqueline Muench tampil dominan dengan karisma alaminya, sementara NuNew Chawarin membawa pesona boyish yang menyegarkan. Thongchai Thongkanthom mencuri perhatian dengan timing komedi sempurna, dan Ninew Phetdankaeo menambahkan lapisan misteri yang menarik.

Film ini juga menyentuh tema relevan seperti tekanan industri hiburan, toksisitas persaingan, dan pentingnya kolaborasi. Di balik humor, ada kritik halus terhadap budaya selebriti di Thailand, di mana diva sering dipuja tapi juga mudah dibuang. Cameo dari selebriti seperti Araya A. Hargate, Chantavit Dhanasevi, dan Tata Young menambah nilai hiburan, membuat film terasa seperti pesta musik nyata.

Dari segi teknis, sinematografi oleh tim GDH solid, dengan pengambilan gambar dinamis selama adegan konser. Editing cepat menjaga ritme, meski beberapa montase terasa berlebihan. Suara dan mixing musik unggul, membuat lagu-lagu seperti Spotlight War dan Diva Harmony mudah diingat. Produksi ini didukung oleh budget yang layak, terlihat dari set konser megah dan efek visual sederhana tapi efektif.

Bagi penonton Indonesia, Beauty and the Beat tayang di bioskop mulai 9 Januari 2025, seperti yang tercantum di situs TMDB dan terkonfirmasi oleh jaringan bioskop seperti Cinepolis, di mana film ini rated D17+ (dewasa 17 tahun ke atas) karena elemen humor dewasa dan bahasa kasar ringan.

Rilis ini bagian dari gelombang film Thailand yang populer di Indonesia, mengikuti kesuksesan seperti Bad Genius atau Friend Zone. Di Indonesia, film ini diputar di berbagai kota besar, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Bandung, dengan tiket mulai dari Rp 50.000. Penayangan ini tepat waktu, mengingat minat tinggi terhadap konten musikal pasca-pandemi.

Secara keseluruhan, Beauty and the Beat adalah hiburan ringan yang sempurna untuk akhir pekan. Ya memang sih, ini bukan masterpiece. Tapi kekuatannya ada pada cast berbakat dan nomor musikal yang menyenangkan. Kalau kamu penggemar komedi musikal seperti Pitch Perfect atau film Thailand GDH, film ini wajib ditonton. Rating pribadiku: 7.5/10. Dengan durasi yang pas, film ini meninggalkan pesan bahwa di balik kompetisi, ada keindahan dalam harmoni.