Di bawah langit Makassar yang kelam, pada 29 Agustus 2025, rakyat menyalakan api kemarahan di Gedung DPRD. Api itu bukanlah sekadar nyala, melainkan sebuah jeritan pedih yang telah lama terbungkam.
Kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang dilindas kendaraan Brimob di Jakarta, menjadi bara yang membakar jiwa bangsa. Tragedi ini bagai cermin yang memperlihatkan luka yang menganga, di mana ketidakadilan menjadi santapan sehari-hari.
Sementara tiga nyawa—termasuk seorang Satpol PP dan seorang ibu rumah tangga—menyatu dengan abu, para penguasa di Ibu Kota tetap membisu. Inilah puisi amarah yang ditulis dengan api dan air mata, sebuah epik perlawanan yang diukir di tengah duka.
Rakyat merasa ditinggalkan oleh mereka yang seharusnya menjadi pelindung, oleh para wakil yang kini hanya bersembunyi dalam bayangan yang lama membendung.
Pemicu amarah: ketika nyawa menjadi angka statistik
Kematian Affan Kurniawan yang dilindas kendaraan Brimob di Jakarta, adalah percikan api yang membakar padang rumput yang kering. Dia bukan hanya sebuah nama, melainkan simbol rakyat kecil yang terhimpit oleh roda kekuasaan yang tidak berbelas kasih.
Kematiannya menjadi pisau yang mengiris hati, memicu gelombang protes dari Makassar hingga Kendari. Kisahnya adalah cerita pilu tentang seorang anak yang menjadi tulang punggung keluarga, yang berjuang demi sesuap nasi. Namun, nyawanya berakhir tragis di jalanan yang seharusnya bisa dihindari.
Di sisi lain, tunjangan DPR yang mewah, mencapai puluhan juta rupiah, adalah garam yang ditaburkan di atas luka rakyat yang telah mengering. Kontras antara kemewahan elit dan kemiskinan publik adalah jurang yang tidak terisi.
Ketimpangan yang mencolok, sebagaimana data statistik Badan Pusat Statistik, adalah sumbu yang terus memendek, menunggu waktu untuk meledak. Affan menjadi nyanyian duka yang menggema, memanggil solidaritas di setiap sudut negeri, menyatukan mereka yang merasa senasib sepenanggungan.
Keacuhan pemerintah dan pelarian elit
Ketika lautan amarah bergelora di Makassar, pemerintah justru menabur janji usut tuntas, tetapi kata-kata mereka bagai abu yang tertiup angin.
Kapolri meminta maaf, Presiden memerintahkan investigasi, tetapi tindakan nyata masih kabur di ufuk. Di saat rakyat berduka, kabar tentang para elit politik yang kabur ke luar negeri berembus kencang. Mereka lari dari badai yang telah mereka ciptakan sendiri.
Kebisuan ini, seperti dikritik oleh Formappi, menunjukkan bahwa DPR semakin jauh dari denyut nadi rakyat. Mereka hanya peduli pada agenda pribadi, bukan pada tangisan masyarakat.
Ketidakhadiran aparat keamanan di Makassar saat kericuhan terjadi, menjadi bukti nyata lemahnya koordinasi negara dan ketidakpedulian mereka. Rakyat ditinggalkan, berjuang dalam kekacauan, sementara para elit bersembunyi di balik tembok privilese dan pesawat pribadi mereka.
Jika penguasa tetap menutup mata
Jika pemerintah terus menutup mata, Indonesia bagai kapal karam di tengah badai amarah yang tidak terkendali. Tragedi 1998, dengan darah Trisakti yang tidak akan pernah terlupa, mengintip di balik bayangan kericuhan Makassar.
Tanpa keadilan yang ditegakkan, negara ini hanyalah puing harapan yang dikhianati oleh penguasa yang lari. Rakyat tidak akan lagi percaya pada sistem yang gagal melindungi mereka.
Demonstrasi yang meluas ke Surabaya dan Bengkulu, seperti dilaporkan media, adalah peringatan bahwa rakyat tidak lagi sudi menanti. Gelombang protes ini adalah manifestasi dari kemarahan yang meluap, sebuah sinyal bahwa kesabaran telah habis.
Ketidakpekaan para wakil rakyat adalah angin yang meniup bara menjadi lautan api. Jika elit terus acuh, rakyat akan menulis babak baru dengan tangan mereka sendiri, dengan tinta darah dan api, demi keadilan yang telah lama mereka rindukan.
Epilog: sebuah refleksi untuk bangsa
Kisah Makassar dan Affan Kurniawan adalah sebuah refleksi bagi seluruh bangsa. Ini bukan hanya tentang api yang melahap gedung, melainkan tentang api yang membakar jiwa yang tidak mampu lagi dibendung. Pemerintah harus memahami bahwa keadilan tidak bisa ditunda atau dibungkam. Ia harus ditegakkan sebagai fondasi sebuah negara.
Kebisuan dan pelarian elit hanyalah akan mempercepat kehancuran. Rakyat yang marah adalah cermin kegagalan sebuah sistem.
Maka, satu-satunya cara untuk meredakan amarah adalah dengan kembali pada akarnya: mendengarkan suara rakyat, menegakkan keadilan, dan mengubur perbedaan demi persatuan. Hanya dengan begitu, puisi amarah ini akan menemukan akhir yang damai.
Baca Juga
-
Duka Rakyat, Tawa Penguasa: Sebuah Pilu di Balik Kobaran Api Keadilan
-
Nyala Jiwa Ibu Berjilbab Pink: Elegi Perjuangan di Negeri yang Tengah Lebur
-
Affan Kurniawan: Hidup Tertindas, Gugur Dilindas, dan Perjuangan Tak Kandas
-
Ulasan: Dunia Anak yang Tidak Pernah Sederhana, Membaca Kejujuran White Wedding
-
5 Anime Serupa Terbaik yang Dapat Ditonton Usai Tamatkan Nana
Artikel Terkait
-
Driver Ojol Tewas Dikeroyok Disangka Intel, Rieke Diah Pitaloka: Penuhi Hak Almarhum!
-
Tak Pernah Banyak Tuntutan, Ayah Affan Kurniawan Ungkap Momen Terakhir dengan Sang Putra
-
Gerindra Minta Maaf ke Rakyat, Hentikan Tunjangan Dewan dan Larang Anggota ke Luar Negeri
-
KNPI DKI Dukung Kapolri Tegakkan Keadilan, Imbau Peserta Aksi Setop Rusak Fasilitas Umum
-
Rekomendasi HP Infinix Rp 1 Jutaan untuk Driver Ojol, Baterai Awet dan Tahan Banting
Kolom
-
Antara Amarah dan Harapan: Bagaimana DPR Seharusnya Merespons Demonstrasi?
-
Saat Film Mengemas Gambaran Durhaka dari Legenda Kelam Malin Kundang
-
Duka Rakyat, Tawa Penguasa: Sebuah Pilu di Balik Kobaran Api Keadilan
-
Menggugat Konsep Nama Baik Keluarga: Beban Perempuan dalam Tradisi Sosial
-
80 Tahun DPR, Ulang Tahun di Atas Luka dan Derita Rakyat
Terkini
-
Strategi Membangun Popularitas Futsal di Era Media Sosial
-
4 Sheet Mask PDRN untuk Percepat Regenerasi Kulit, Auto Glowing Maksimal!
-
Saleh Husin, Jusuf Kalla, Nasaruddin Umar Sholat Jumat di Masjid BSD Bersama Ribuan Umat Muslim
-
Demo Berujung Ricuh di Grahadi Surabaya, Ada Dugaan Pendiskreditan Ojol?
-
Sky Walking oleh Miyeon: Keinginan untuk Terbang Bersama Seseorang Spesial